Dalam tataran pemikiran, bagi saya, tidak ada yang lebih berbahaya dari prasangka. Dugaan yang kita reka-reka sendiri secara subjektif, kemudian kita anggap sebagai kebenaran yang sesungguhnya.

Dunia yang majemuk dan berwarna ini akan menjadi sangat menyeramkan apabila hanya diisi oleh prasangka-prasangka. George Floyd adalah sedikit dari jutaan kasus mematikan akibat stereotip. Khususnya yang berkaitan dengan warna kulit.

Begitulah prasangka, begitulah pula stereotip. Tidak ada perbedaan mencolok. Setidaknya demikian menurut KBBI. Stereotip adalah konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat.

Konsep inilah yang mendiami kepala seseorang. Menunggu waktu sebelum akhirnya menghakimi perilaku orang lain.

Manusia adalah makhluk prasangka. Kita dibekali kemampuan untuk membayangkan kejadian-kejadian di masa yang akan datang. Berdasarkan akal dan pengalaman, manusia punya kelebihan untuk menciptakan gagasan sendiri di kepalanya, kemudian dengan gegabah meyakininya sebagai kebenaran tunggal.

Satu kebiasaan buruk memang. Tapi, siapa bisa menyangkal?

Kuntowijoyo dengan apik melukiskan bagaimana stereotip dalam keseharian adalah musuh bersama. Ya, kita tidak bisa menafikan apalagi mengelak. Kita berprasangka pada tetangga, teman, pemuka agama, bahkan Tuhan.

Buku ini adalah lukisan sastra Kuntowijoyo yang melibas stereotip pada berbagai bidang. Dari sosial, budaya, hingga agama. Sebelas cerpen yang dituliskan Kuntowijoyo di buku ini menjadi peringatan keras tapi samar. Lantang tapi tersembunyi. Bahwa, manusia bisa berprasangka, tapi hati-hati prasangka itulah yang kelak menikam dirinya sendiri.

Berikut beberapa penggalan cerpen dan kutipan penting yang terdapat dalam buku ini.

Maskulinitas Laki-Laki dalam Sorotan

Dalam cerita pendek Dilarang Mencintai Bunga-Bunga, yang menjadi judul dari buku ini, Kuntowijoyo sedang mengejek konsep masyarakat tentang maskulinitas. Stereotip bagaimana seharusnya diri seorang laki-laki.

Laki-laki harus begini, jangan begitu. Laki-laki harus bekerja yang mengeluarkan peluh. Tangan harus kotor. Muka harus berminyak terkena sinar matahari. Tidak mengeluarkan keringat, maka tidak bekerja.

Cerpen ini bercerita tentang seorang anak laki-laki bernama Buyung. Ia menyukai bunga-bunga. Dan di sebelah rumahnya terdapat kebun kecil milik seorang kakek. Sayang, hobinya bersilaturahmi ke rumah kakek itu, menjadi sasaran kemarahan ayahnya.

“Bertanyalah tentang lokomotif. Jangan tentang kakek-kakek sebelah rumah.” (hlm. 3)

Dengan metafora bunga, Kuntowijoyo menyajikan gagasan penting. Apakah laki-laki tidak boleh bertanya selain lokomotif — yang kesannya begitu jantan — ? Tak bolehkah laki-laki mencintai ketenangan dan bunga-bunga?

Apakah haram laki-laki mencintai sastra dan gemar membaca? Jika iya, maka siapa gerangan yang berhak menentukan laki-laki harus begini dan perempuan harus begitu?

“Laki-laki tidak perlu bunga, Buyung. Kalau perempuan, bolehlah. Tetapi, engkau laki-laki.” (hlm. 4)

Stereotip bahwa maskulinitas sesempit bengkel-lokomotif-keringat-baju kotor terkadang sangat menjengkelkan. Laki-laki tidak boleh merasakan ketenangan. Atau ketenangan, menurut ayah Buyung, hanya dapat dirasakan lelaki ketika ia bekerja sampai lelah.

Pandangan kakek berbeda. Dirinya meyakini, bahwa dunia adalah tempat yang terlampau sibuk dan berisik. Mustahil menemukan ketenangan dalam kesibukan dunia.

“Hidup ditemukan dalam ketenangan. Bukan dalam hiruk-pikuk dunia. Tataplah bunga-bunga di atas air itu. Hawa dingin menyejukkan hatimu.” (hlm. 9)

Memaksakan Kebenaran: Buat Apa?

Sindiran Kuntowijoyo terhadap stereotip politik juga begitu kentara. Khususnya menyorot pada praktik politik yang akhirnya menjadi diktator kebenaran.

Fakta tersebut dapat ditemukan pada cerpen berjudul Serikat Laki-Laki Tua. Sejumlah laki-laki uzur, bayangan saya umur mereka sudah lebih dari 60 tahun, sering mengadakan perkumpulan.

Mereka berkumpul untuk berbincang-bincang mengenai banyak hal. Dari masalah politik, perempuan, hingga kebebasan.

“Setiap kita mau kebebasan, orang lain merampasnya dari tangan kita.” (hlm. 67)

Awalnya semua berjalan secara demokratis. Setiap keputusan dalam serikat akan diambil secara musyawarah. Tidak ada yang dominan. Tidak ada pemimpin. Semua setara.

Namun, satu waktu, sebuah perkara kecil tentang topi menjadi potret fenomena otoritarianisme di satu sisi melawan kebebasan berpendapat di sisi yang lain.

Seorang laki-laki tua dalam serikat itu, Supri Tua namanya, mengusulkan agar semua laki-laki tua dalam serikat itu harus menggunakan topi sebagai penutup kepala. Pak Supri Tua kemudian memberikan alasan-alasan logisnya.

Semua orang mendengarkan dan memberikan tanggapan. Tetapi, tanggapan paling menohok datang dari Pak Kojar Tua.

“Apakah kalian telah dengan sadar berbuat kejam dengan mencoba membuahkan pikiran, termasuk mengubah hidup yang plural menjadi satu warna saja? Ini tirani! Otoriter! Bagiku, kebebasan adalah nilai tertinggi yang harus diperjuangkan.” (hlm. 76)

“Mula-mula orang diperkenankan berpikir, berkata, atau berbuat asal dengan satu cara, nada, dan tema yang sama. Kemudian, makin lama tidak diperkenankan sama sekali. Sebab, kebebasan hanya bagi pemimpin-pemimpin besar itu” (hlm. 77)

Pemimpin dianggap sumber kebenaran. Oleh karena itu, dalam suatu perkumpulan, siapa yang posisinya lebih tinggi atau suaranya lebih keras, akan disangka sebagai pemilik tunggal kebenaran.

Bukankah stereotip politik ini yang kian hari makin memuakkan? Misalnya saja, buzzer-buzzer penebar hoaks yang berseliweran di media sosial kita.

Demi Tuhan atau Demi Kayu?

Kali ini, giliran cara beragama yang disindir oleh Kuntowijoyo. Dalam cerpen Sepotong Kayu untuk Tuhan, dikisahkan seorang kakek mempunyai kebun yang sangat luas. Pohon-pohon dalam kebunnya tumbuh dengan batang yang besar-besar dan begitu kokoh.

Satu masa, terdengar kabar bahwa salah satu surau di kampungnya hendak melangsungkan pembangunan. Sang Kakek berpikir untuk menjadikan kayu dari salah satu pohon yang ditemuinya sebagai bahan material untuk pembangunan surau.

“Kayu itu tumbuh dari bumi Tuhan, dan sekarang kembali kepada Tuhan.” (hlm. 90)

Namun, tak disangka, sesuatu terjadi pada kayu itu. Sehingga, secara kasat mata, kayu itu “tak sampai” kepada Tuhan.

Cerpen ini menyiratkan kegetiran situasi keberagamaan kita. Kondisi masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, terkadang masih saja beragama hanya pada tataran formal. Tapi belum substansial.

Rajin melaksanakan ibadah mahdhah (ibadah yang tata caranya diatur secara baku) seperti salat, zakat, dan puasa, tetapi menegasikan ibadah sosial dan intelektual.

Seakan-akan Tuhan hanya ada di surau. Tuhan hanya bisa ditemui ketika salat. Padahal, beribadah dan menyembah Tuhan adalah selayaknya nafas, ia harus terus menerus diaktualisasikan dalam setiap laku kehidupan.

Mengajar adalah ibadah, membela kaum yang tertindas adalah ibadah, dan membela hak lingkungan juga ibadah.

Bahkan, tak jarang, kita terjebak dalam perilaku menghamba pada proses. Menghamba pada jalan. Bukan menghamba pada tujuan.

Alih-alih menyembah Tuhan, malah menyembah “kayu”.

Epilog

Selain ketiga cerpen di atas, masih ada delapan cerpen lainnya yang memberikan kritik mendasar atas budaya stereotip dan sejenisnya. Utamanya berfokus pada aktivitas sehari-hari manusia Indonesia. Dari permasalahan sosial, ekonomi, politik, hingga cara beragama.

Penokohan dan alur cerita yang dekat dengan keseharian membuat buku ini terasa lebih hidup. Kuntowijoyo, dengan latar belakang pendidikan sastra dan juga seorang doktor dalam bidang sejarah, bagi saya, telah berhasil menyajikan gambaran konkret dan sastrawi tentang bagaimana tingkah orang Indonesia yang ternyata sangat “lucu” untuk direnungi.

  • Judul: Dilarang Mencintai Bunga-Bunga
  • Penulis: Kuntowijoyo
  • Jumlah Halaman: 292 Halaman
  • Tahun Terbit: Cetakan Kedua 2016
  • Penerbit: Noura Books