Saya pernah berkecimpung di sebuah lembaga swadaya masyarakat yang mendampingi masalah anak dan perempuan. Selama masa pendampingan, saya bermukim di sebuah sekretariat yang di depannya persis berdiri berderet bangunan sekolah dasar.

Yang menarik dari perhatian saya kala itu adalah saat bel pulang sekolah mengudara yang kemudian disusul suara sorak gembira anak-anak dari ruang kelas. Rasa penasaran akan itu membuat wajah saya agak mendongak sambil mengamati mereka yang sedang bersemangat mengemasi perlengkapan belajarnya.

Juga tampak dari mereka satu per satu keluar dari ruang kelas berhamburan berpencar pulang menuju ke rumah masing-masing. Di antaranya ada yang dijemput oleh orang tuanya, juga ada yang pulang berjalan kaki berbarengan dengan teman yang lain.

Saya menduga-duga pada benak mereka setidaknya ada harapan yang dinanti usai pulang sekolah, antara lain bercengkerama dengan keluarga sembari menikmati menu makan siang atau bermain dengan teman sebaya.

Menyoroti potret usainya jam belajar anak sekolah di atas seakan bel pulang sekolah menjadi kabar yang menggembirakan. Pembelajaran yang dibatasi oleh tembok-tembok sekolah seolah membuat mereka terkurung sementara dalam dunia lain. Dunia yang berkutat mendorong otak bekerja sangat keras.

Sekolah yang memiliki niatan mulia dalam mengantar anak untuk menjadi manusia seutuhnya, dalam praktiknya, dilarang keras abai terhadap aspek kejiwaan anak yang lain. Meski begitu, anak-anak secara kejiwaan sudah cukup banyak menyerap materi pelajaran bermuatan kognitif.  

Perhatikan saja muatan materi pelajaran anak-anak sekolah zaman sekarang. Banyak yang mengeluhkan tingkat kesulitannya berlipat. Tak mengherankan jika para orang tua merogoh kocek lagi untuk memberikan tambahan les pada anaknya usai pulang sekolah.

Sistem pembelajaran yang semata-mata mengejar pencapain statistik memang sudah seharusnya tidak lagi menjadi prioritas. Sebab efek yang bakal terjadi adalah jiwa pendidikan anak yang bersentuhan dengan kehidupan afeksi berpeluang terabaikan. Padahal pencapaian kecerdasan afeksi akan sangat berpengaruh bagi kehidupan selanjutnya.

Menurut Daniel Goleman, kecerdasan intelektual hanya memberikan kontribusi 6-20% terhadap kesuksesan dan selebihnya adalah kecerdasan afeksi atau emosional. 

Menurutnya, kecerdasan emosional sangat penting untuk dimiliki siapa pun dalam menggapai kesuksesan. Sebab jika seseorang berinteraksi dengan siapa pun hanya mengandalkan kecerdasan intelektual dan tumpul secara emosional, maka prosesnya akan menjadi gagal, karena dia tidak mampu bersikap simpatik dan persuasif.

Oleh karena itu, idealnya belajar memang tak hanya sekadar menghafal, mengerjakan PR, diskusi kelas. Lebih daripada itu, proses kreativitas motorik anak juga tidak kalah penting untuk diasah. Misalnya anak yang cukup menonjol atau mempunyai potensi pada suatu kreativitas yang lain; menggambar, melukis, olahraga, olah suara, dan lainnya perlu mendapat apresiasi. 

Dan yang tidak kalah penting adalah melakukan pembinaan yang berkelanjutan oleh pihak yang mumpuni.

Pendidikan sudah semestinya keberadaannya selalu dirindukan oleh anak-anak. Guru yang membawakan materi pelajaran, sosok karakternya juga akan ikut terlibat memengaruhi proses transmisi ilmu pengetahuan.

Anak didik yang merasa nyaman, senang terhadap guru secara penampilan atau karakter, ia dalam menyerap suatu pengetahuan, perasaan gembira ikut juga terlibat di dalamnya sehingga belajarnya sangat berkesan.

Ibarat akan makan di sebuah restoran yang dilayani oleh pramusaji yang berpenampilan menarik, ramah dengan sapaan dan senyuman yang hangat. Tentu saja selain lahap menyantap menu makanan yang tersaji, kesan menyenangkan juga didapat. Bayangkan saja jika yang terjadi sebaliknya? Apa yang akan terjadi?

Jika pendidikan adalah proses otak mengonsumsi suatu informasi, sekurang-kurangnya anak didik dalam proses pembelajaran merasakan suatu kenyamanan. Ibarat akan memasak suatu menu di dapur, keterlibatan di dalam memasak secara menyenangkan adalah proses yang cukup baik untuk belajar. Mulai dari proses menyiapkan bahan, mengenalkan aneka ragam bumbu, hingga meracik dan memasaknya menjadi masakan yang sedap dan sajian menarik.

Jadi, kalimat lebih sederhananya adalah proses pendidikan yang ideal itu membersamai anak didik secara gembira untuk bisa menyadari akan segala kebutuhannya berdasarkan tingkat perkembangan, kemampuan dan kecenderungan pada bidang yang paling disukai.

Dengan begitu, tidak ada lagi cerita anak-anak yang seakan dipaksa oleh guru maupun orang tua untuk mengikuti les ini-itu karena alasan mata pelajaran tertentu nilainya tidak sesuai harapan guru atau orang tua. Yang boleh jadi itu semua hanya kehendak orang tua tetapi bukan panggilan yang ada dalam jiwa anak.

Sekali lagi, guru dan orang tua sebaik-baiknya posisi adalah membersamai panggilan jiwa anak untuk menekuni apa yang menjadi kecenderungan di bidangnya. 

Kalau mereka sudah jatuh hati dengan minat, bakatnya, kiranya tak perlu disuruh-suruh pun ia akan rajin mempelajari, menjelajah keilmuan yang menantangnya. Dan bukan tidak mungkin kelak ia akan menjadi seorang ahli di bidangnya. Banyak karya spektakuler lahir dari orang yang sungguh-sungguh dan mencintai pekerjaannya.