Semua agama ketika datang pertama kalinya pasti memiliki tujuan untuk memberikan perhatian dan pembebasan pada umat manusia yang mengalami penderitaan. Tak ada agama satu pun yang hadir untuk memberikan ekspresi kesenangan dan kenikmatan hidup di dunia. Agama-agama apa pun yang hadir dalam sejarah perkembangan manusia merupakan bentuk gerakan kritik terhadap penindasan manusia. Nabi muhammad, Isa dan Musa sering dikenal sebagai pemimpin pergerakan pembelaan terhadap masyarakat tertindas, suku-suku teraniaya dan kelompok-kelompok yang termarjinalkan.

Ajaran-ajaran agama, di dalamnya pasti terdapat simpati untuk membebaskan kaum yang tertindas. Agama selalu berkaitan dengan upaya untuk mengentaskan manusia yang berada pada kondisi sosial menengah ke bawah. Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan (yang intinya) janganlah mengejar Tuhan ke atas langit, tapi kejarlah dia di kolong bumi, Tuhan selalu bersama mereka yang kelaparan. Hadis ini memberi peringatan kepada kita bahwa agama bukanlah sesuatu yang selalu berada di langit yang terpisah dari keadaan-keadaan yang ada di bumi. Agama bukan saja untuk memberikan jalan keselamatan di akhirat, tapi juga memberikan jalan kesematan di dunia.

Jika kita telaah lebih lanjut akan ada keterkaitan yang menghubungkan seluruh ajaran agama. Pokok-pokok utama dari ajaran dan misi yang dibawa semua agama adalah sama, yaitu menegakkan keadilan dan membela kelompok yang tertindas. Agama akan membebaskan  umat manusia dari kondisi-kondisi sosial yang timpang. Agama islam menolak segala bentuk tirani, eksploitasi, dominasi, hegemoni dalam berbagai aspek kehidupan meliputi ekonomi, politik, budaya dan gender. Banyak sekali ayat-ayat di dalam Al Qur’an  yang secara tersirat maupun tersurat menggugat dan menolak segala bentuk penindasan dan ketidakadilan.

Dalam Surat An Nahl ayat 75 Allah meminta agar umat islam menjadi kaum yang membela kelompok yang tertindas dan lemah, sekalipun agamanya berbeda. Sepanjang hidup Nabi Muhammad SAW beliau selalu berpihak kepada kaum-kaum yang lemah dalam menghadapi kelompok-kelompok penindas. Dalam konsensus Piagam Madinah yang dibuat oleh umat islam, yahudi dan nasrani dimana Nabi Muhammad  dipilih menjadipemimpin  masyarakat madinah, semua agama dan suku akan dilindungi beliau tanpa terkecuali. 

Hampir semua nabi yang revolusioner berasal dari kalangan sosial menengah ke bawah. Seperti Nuh seorang tukang kayu, Musa seorang penggembala, Syu’aib dan Hud seorang guru yang miskin, Ibrahim seorang tukang batu dan Muhammad kecil seorang penggembala dan buruh.

Para Nabi dari kaum Bani Israel  di dalam Al Qur’an selalu diceritakan sebagai orang yang membela kaum mustadh’afin (tertindas) dalam menghadapi kaum mustakbirin, yaitu sekelompok orang yang kaya raya dan para pengusa yang otoriter. Seperti Nabi Musa yang diceritakan sebagai Nabi yang membebaskan orang-orang tertindas oleh Fir’aun. Nabi Muhammad juga datang untuk membawa tatanan sosial yang adil, ekonomi yang tidak eksploitatif dan melawan perbudakan yang semena-mena oleh Kafir Quraisy.

Nabi Muhammad SAW pada periode dakwahnya menggerakkan proses perubahan pada diri bangsa Arab dari masyarakat yang jahiliyyah menuju umat yang islamiyyah. Dari kondisi kegelapan menuju kondisi yang terang benderang. Serta dari kondisi tertindas (mustadh’afin) oleh struktur politik Kafir Quraisy untuk menjadi umat yang terbebas dari berbagai bentuk penindasan dan diskriminasi. Misi ini pula yang telah dibawa oleh para Nabi sebelumnya.

Berangkat dari realitas diatas, maka agama harus diaktifkan dan dibangkitkan lagi sebagai sebuah gerakan untuk membebaskan kaum yang tertindas dan miskin. Keberagaman yang ada ini khususnya di indonesia ini harus menjadi rambu-rambu pembebasan di tengah maraknya tindakan intoleran dan sikap eksklusif. Kita harus berani untuk menanyakan dan menjawab bagaimana hakikat beragama dan cara agama untuk membebaskan kaum tertindas (mustadh’afin) tanpa memandang latar belakang mereka

Kita harus berani untuk kritis terhadap sesuatu yang hakiki, esensi, mendasar, abadi, indah dan membebaskan. Kita harus berani melihat sesuatu yang sesuai dengan kondisi zaman, budaya dan lingkungan tertentu, serta menafsirkannya sesuai dengan konteks yang ada. Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah kita juga harus berani bertanya, apakah selama ini agama telah menjadi alat legitimasi untuk memperoleh kekuasaan meski dengan cara yang kotor ?

Di dalam beragama kita juga harus memiliki keberanian dalam mencerdaskan intelektual, rasionalitas dan logika beragama tanpa harus menyangkal dan mengabaikan unsur-unsur yang bersifat mistis dan spiritualistis dari agama. Kemudian juga menerapkan teologi pembebasan dalam mengamalkan agama. Teologi pembebasan dapat dipahami sebagai upaya untuk menghadirkan agama yang sebelumnya hanya dihadirkan dalam bentuk simbol-simbol dan ritual diganti dengan hal yang harus lebih bermakna bagi orang lain terutama mereka yang miskin dan tertindas. Seperti halnya ketika agama-agama pertama kali datang untuk menolong orang-orang yang lemah.

Rumah-rumah ibadah seperti masjid, gereja dan lainnya harus menjadi rumah bagi umat yang miskin dan tertindas. Serta peran pemuka agama juga sangat penting untuk menjadi garda terdepan dalam upaya melakukan pembebasan kaum tertindas di suatu daerah. Rumah ibadah seharusnya bukan hanya dipahami untuk simbol bangunan peribadatan untuk sebuah agama, tapi juga sebagai pelayan bagi kaum yang tertindas.

Kita sebagai umat yang masih memercayai agama harus bersama-sama dengan agama lain menyusun sinergitas bersama. Kita tidak perlu merasa dan menganggap bahwa kelompoknya lah sebagai aktor utama dan yang bisa melalukan segalanya dalam membebaskan kaum tertindas dan kemiskinan. Umat agama perlu membangun kerja sama dengan berbagai pihak tanpa memandang agama, suku dan ras.

Dengan semangat beragama untuk mewujudkan pembebasan kaum mustadh’afin inilah seorang cendekiawan Hassan Hanafi asal Mesir pernah melakukan penafsiran terhadap kalimat tauhid “La ilaha illa-hurriyah, wa Muhammad Rasul al-Hurriyahh”, yaitu tiada Tuhan selain Kebebasan dan Pembebasan, dan Muhammad adalah Rasul Pembebasan. Karena salah satu tujuan utama dari agama adalah membebaskan manusia dari kebodohan dan penindasan, maka oleh sebab itu Allah menyuruh kita dengan perintah iqra’ dalam wahyu pertama yang diturunkannya.