Pada saat ini, banyak orang yang menyebut tentang istilah toxic People. Sedangkan saya tidak tahu apa itu toxic people. Untuk menjawab keingintahuan, saya akhirnya membuka google. 

Dari google akhirnya baru tahu bahwa istilah ini merupakan bahasa gaul dari permainan game online. Misalnya, game online Mobile Legend, PUBG, ataupun Free Fire. Yang biasanya berkaitan dengan permainan kerja sama atau tim. Sedangkan Toxic People ini adalah orang yang suka bikin onar atau orang yang selalu merugikan orang lain. Atau dalam permainan game online merugikan tim.

Kalau dilihat dari pengertian Toxic People ini sudah ada sejak jaman dahulu atau zaman kerajaan. Bahwa dalam suatu masyarakat atau kelompok, pasti ada saja yang menjadi pembuat onar atau trouble maker. 

Jelaslah itu sebuah realita yang ada dalam kehidupan di mana pun berada. Dan tentu saja menjadi suatu ciri khas yang tidak mungkin dihilangkan. Bisa dikatakan jika tidak ada spesies manusia jenis ini mungkin dunia tidak akan semeriah seperti saat ini. Bisa jadi seperti itu ya?

Dari sini saya mencontohkan pada salah satu cerita pewayangan yaitu Sengkuni. Siapa yang tak kenal tentang tokoh Sengkuni, yang pandai, cerdas mengolah kata untuk mengelabui Pandawa dan Kurawa. Sehingga pada akhirnya antara keduanya terlibat pertempuran yang sengit. 

Dan diceritakan dalam kisah Mahabharata, sifat Sengkuni inilah termasuk dalam toxic people, bagaimana dia ingin mengambil keuntungan dari kondisi kerajaan para Pendawa dan Kurawa yang saat itu sedang ada permasalahan. Alih-alih diredam untuk menentramkan e...malah menjadi kompor atau memprovokasinya sehingga menyebabkan kondisi semakin memanas. 

Matinya tokoh Sengkuni dalam cerita pewayangan tidak membuat sifatnya yang dimilikinya ikut musnah. Justru semakin meluas. Walaupun Sengkuni sudah mati sejak jaman bahula tapi dia mewariskan sifatnya kepada seluruh umat manusia. Ternyata virus yang ditinggalkan Sengkuni meluas dengan lancar menembus melewati waktu dan masa.

Memang betul yang sering kita dengar bahwa virus negatif seperti halnya yang dimiliki Sengkuni itu lebih cepat menular dari pada virus Corona yang juga semakin meluas tanpa batas. 

Toxic peole ini juga mengingatkan pada salah satu sosok dalam film Tilik yang sempat viral yaitu Bu Tejo. Sifat-sifat yang dimiliki Bu Tejo itu juga mencerminkan Toxic People. Di mana Bu Tejo mempunyai hobby ngibah atau rasan-rasan.  

Dalam berbicara pun Bu Tejo dengan asiknya ngomong ceplas-ceplos losss.. tanpa batas sehingga tidak memperdulikan, apakah yang diomongkan itu benar atau tidak, menyakiti orang lain atau tidak, yang terpenting bagaimana caranya Bu Tejo bisa menggiring kepada orang lain untuk mempercayai apa yang dibicarakannya. Sehari tidak ngibah tidak rasan-rasan, rasanya mulut itu gatal dan getir.

"Bener ora, Bu Tejo?"

Dua tokoh yaitu Sengkuni dan Bu Tejo merupakan sebuah ancaman ataukah sebuah seni dalam kehidupan? 

Kemudian apa yang harus kita lakukan atau jurus apa yang kita terapkan jika tidak mampu menghindar dari orang yang mengandung racun? Atau orang termasuk toxic people, tentunya jalan pintas yang tercepat yaitu lari atau menjauh salah satunya. 

Tapi jika sudah terperangkap dan kita masih ewuh pakewuh, habislah kita. Bisa jadi jika toxic people terus mengekor, mungkin kita akan terkena tekanan darah tinggi. Mending jika kita bisa langsung menolak mentah-mentah atau bisa melawannya, maka nasib kita akan terselamatkan dari spesies manusia ini. 

Kalau menurut saya pribadi, ada beberapa cara untuk menghadapi toxic people, antara lain yaitu: Pertama, memahami dulu apa yang diucapkan, Jangan sampai kita baper akhirnya menimbulkan konflik sendiri dengan mereka.

Sedangkan jika yang diucapkan sudah keterlaluan, beranikan diri untuk menegurnya. Yang terpenting lagi, tetap cerdas dalam menyikapi sebuah permasalahan yang mungkin saja sengaja ditimbulkan oleh species toxic people.

Ketiga, jangan bosan-bosan untuk terus mengingatkan bahwa omongan atau sikapnya merugikan orang lain. Dan jika kita memang benar-benar berhadapan dengan toxic people, tugas kita sebagai teman terus mengingatkan tentang sikap yang dilakukannya. Tentu saja ini juga demi kebaikan kita dan dirinya.

Keempat, teruslah mendoakannya supaya orang-orang yang memiliki sifat ala Sengkuni dan Bu Tejo segera sadar. Dan tidak lupa pula kita berdoa untuk diri sendiri supaya dijauhkan dari manusia ala Sengkuni dan Bu Tejo yang sangat merepotkan dan membikin pusing.

Kelima, apabila kita sudah lelah menghadapi Toxic ala Sengkuni dan Bu Tejo, lebih baik tinggalkan daripada banyak perkara. Serta tingkatkan kewaspadaan di mana pun kita berada. 

Dari sini saya dapat menyimpulkan apa itu toxic people, dan bagaimana pula caranya jika kita berhadapan langsung dengan Toxic people.

Kalau menurut saya pribadi berpendapat bahwa Toxic people yaitu orang yang mempunyai sifat egois tingkat parah, pinginnya menang sendiri, senengane ngeyel, sok tahu, berpikiran negatif kepada siapa pun serta tidak merasa bahwa ucapannya menyinggung orang lain, yang penting saya untung kamu buntung ya...terserah DL( Derita Loe). 

Mungkin itulah pikiran yang selalu dimiliki manusia jenis toxic. Apa kira-kira seperti keong racun ya? Mungkin satu spesies beda ordo kali ya..

Toxic people merupakan suatu penyakit sosial yang tersebar di masyarakat. Baik masyarakat tingkat bawah, menengah apabila tingkat atas. Maka jika kita bisa menjalani langkah-langkah yang sudah dipaparkan pada tulisan di atas, setidaknya kita tidak lagi direpotkan dengan orang-orang yang menyandang gelar toxic people.