“Raqia! Beresin mainannya.” Suara saya makin meninggi. Sudah lebih dari tiga kali saya menyuruh anak pertama saya ini untuk membereskan kesemrawutan yang dibuatnya.

Bukannya menggubris perintah saya, dia malah bertanya sinis "kenapa sih harus beresin mainan? Kan nanti kalo kakak main lagi kan berantakan lagi," gumamnya.

Dengan percaya diri saya menjawab. "Iya kalo ga di beresin rumah kan berantakan, ga rapi."

"Memangnya kenapa kalo ga rapi?" Dia bertanya lagi.

"rumahnya kayak ga ke urus," saya menjawab sekenanya.

"Memangnya kenapa kalo kayak ga ke urus?" dia terus memburu.

"Ayah malu nak, kalo nanti ada tamu datang ke rumah kita," Saya hampir kehilangan jawaban.

"Kenapa harus malu sama tamu?" Ia belum mau selesai.

"Nanti Ayah kesannya pemalas begitu," saya mulai kehabisan kesabaran.

"Memangnya kenapa kalau Ayah terkesan malas?" Saya naik pitam. Pertanyaan - pertanyaan itu membuat saya seperti orang bodoh. Semakin sulit dijawab. Emosi sudah sampai ke ubun-ubun.

Tanpa banyak bicara tangan kanan saya berayun menangkap dan memutar ujung telinga kiri Raqia. Badannya sedikit terangkat. Raqia meringis.

"Beresin ga?" Saya tarik dia ke arah tumpukan mainan yang berserakan di sepanjang lantai. Dengan terpaksa sambil menggerutu Raqia memasukkan mainan - mainan itu ke kantong plastik hitam tempat ia berasal. Suasana seketika hening.

Raqia adalah anak yang cerdas. Bukan hanya sekali dua kali. Rentetan pertanyaan seperti itu sudah terjadi berulang kali. Hampir setiap argumentasi saya selalu ditanggapi dengan deretan pertanyaan yang menyiksa.

Anak pertama saya ini satu bulan lagi akan berumur delapan tahun. Saya yakin daya kritisnya ada secara natural. Sama seperti anak-anak lain seusianya yang sedang sangat ingin tahu.

Pertanyaan – pertanyaannya yang dilemparkannya kepada saya, mirip dengan konsep yang dikemukakan oleh seorang filsuf dari Yunani bernama Socrates.

Socrates dikenal sebagai bapak para filsuf. Hidup sekitar 469 - 399 sebelum masehi, ia digelari oleh orang-orang Athena sebagai Gadfly of Athens atau lalat Athena. Gelar itu disematkan karena tindak tanduknya seperti lalat yang selalu menempel dimana-mana dan membuat orang kesal.

Socrates terkenal dengan Socrates Method (metode Socrates). Metode ini adalah suatu cara dalam membongkar inti dari sebuah ide atau gagasan lewat dialog tanya jawab.

Jargonnya yang paling terkenal adalah "saya tidak tahu apa-apa." Dengan merasa tidak tahu lantas ia mempertanyakan semua hal kepada orang-orang Athena. Socrates adalah orang yang tidak suka membantah gagasan orang lain. Sebaliknya ia suka mempertanyakannya.

Pertanyaannya tidak akan berhenti sampai pada suatu titik di mana orang lain berbalik menjadi ragu dengan gagasannya sendiri. Begitulah cara Socrates membimbing orang-orang untuk menyadarkan bahwa sesungguhnya tidak ada gunanya kesombongan akan pengetahuan.

Namun hal itu tidak disukai oleh kebanyakan rakyat Athena karena apa yang dilakukan Socrates meruntuhkan keyakinan mitologi yang selama ini merupakan pandangan hidup masyarakat. Akhir hidup Socrates berakhir tragis ketika ia di hukum mati dengan dipaksa meminum racun.

Konsep Socrates disederhanakan oleh ahli filsafat kontemporer. Ada yang menamainya dengan konsep lima mengapa. Yaitu mempertanyakan suatu gagasan dengan pertanyaan mengapa yang diulang sebanyak lima kali terhadap setiap jawaban yang disampaikan.

Hal ini efektif untuk membongkar inti dari suatu gagasan. Sehingga pada pertanyaan "mengapa" yang kelima, biasanya akan ditemukan inti pokok dari sebuah gagasan yang diutarakan.

Itulah yang dilakukan tanpa sadar oleh Raqia terhadap saya. Raqia membuat saya ragu akan prinsip saya sendiri yang selalu saya pegang. Rumah harus selalu rapi dan bersih.

Dari Raqia saya berhasil menemukan suatu gagasan baru. Kenapa rumah harus selalu rapi? Kenapa saya harus malu kalau saya terkesan malas? Bukankah terkesan malas itu kan bukan berarti malas. Tidak mengapa jika sesekali kita malas. Bukankah hidup itu tak harus selalu sempurna?

Kemudian sampailah pada sebuah kata - kata bijak dari seorang tokoh terkemuka dunia yaitu Bill Gates. Sang miliuner pernah berkata dia akan memilih orang-orang malas untuk menyelesaikan pekerjaan - pekerjaan sulit. 

Sebab menurutnya orang-orang itu akan menemukan cara termudah untuk melakukannya. Ya, sebuah prinsip baru yang out of the box. Dan pandangan pun berubah tentang rasa malas. Tepatnya perasaan terkesan malas yang selama ini menjadi beban.

Saya tiba pada kesimpulan bahwa memberikan kesempatan kepada anak untuk terus mempertanyakan sesuatu itu termasuk hal yang sangat penting. Terkadang dari sana kita bisa mendapatkan gagasan baru bahkan prinsip-prinsip baru yang selama ini tidak pernah terpikirkan oleh kita.

Oleh karena itu sudah seharusnya orang tua dapat bersabar untuk menjawab setiap pertanyaan anak-anak. Sudah menjadi naluri seorang anak untuk selalu bertanya. Karena mereka adalah filsuf - filsuf kecil yang tak pernah lelah untuk terus bertanya.

 Hal itu pula yang membuat saya menyesal telah menjewer Raqia.