Baru-baru ini (08/05), Kompas menurunkan berita tentang seseorang bernama David Shoshan yang tengah coba menggugat Tuhan di pengadilan kota Haifa, wilayah utara Israel, karena dinilai telah berlaku tidak adil terhadap dirinya. David merasa Tuhan telah membuat hidupnya sengsara dan menderita. Sehingga ia perlu menunut. Hanya saja, tuntutan itu ditolak oleh hakim Ahsan Canaan yang menganggap David tengah mengalami delusi.

Apa yang dilakukan David bisa dibaca sebagai bentuk kritik terhadap cara beriman yang tidak substansial, tidak logis, dan seterusnya. Tetapi bisa juga dibaca sebagai bentuk kesangsian terhadap eksistensi Tuhan. Untuk yang terakhir ini, David mungkin bertanya: kalau Tuhan memang adil, mengapa kesengsaraan ditimpakan pada dirinya? Mungkin.

Persis, pertanyaan semacam itu juga dilayangkan kaum ateis: di mana Tuhan ketika tengah terjadi kejatahan seperti kasus genosida Nazi atau kasus ‘65 yang menelan ribuan bahkan jutaan nyawa? Di mana kemahakuasaan Tuhan ketika dihadapkan pada kasus pemerkosaan atas seorang anak perempuan? Kira-kira pertanyaan-pertanyaan semacam itu yang kerap muncul dalam persoalan teodise/theodicy: menyoroti keadilan Tuhan.

Kaum beriman harus menjawab dengan argumentasi-argumentasi logis. Paling tidak, untuk membantu menjawab itu semua, kaum beriman mesti membaca diskursus teodise yang pernah hadir, seperti dalam tradisi Augustinian (dikembangkan Thomas Aquinas), Irenaean (dipopulerkan John Hick) atau Whiteheadian (dikembangkan Charles Hartshorne, John Cobb, David Griffin, dan Lewis Ford).

Sebab iman, sebagaimana dalam kredo Agustinus dan Anselmus selalu menuntut pertanggungjawaban: fides quaerens intellectum (iman mencari pengertian atau pemahaman). Silakan cari pendasaran logisnya untuk menyangkal the problem of evil tadi, agar iman kita lebih menggairahkan.

Kambali ke persoalan David tadi, kasus itu mengingatkan saya pada Kanji dalam film OMG: Oh My God (2012) karya Umesh Shukla. Ya, namanya Kanji Lalji Mehta (Paresh Rawal). Menceritakan sesuatu yang nyaris sama seperti kasus David: menggugat Tuhan ke pengadilan karena penderitaan. Bedanya, David di dunia nyata dan gagal menggugat Tuhan. Sementara Kanji di dunia imajinasi berhasil menggugat Tuhan dan memenangkan peradilan. Bagaimana bisa?

Film ini penuh dengan adegan-adegan satire. Kanji menggugat perusahaan asuransi. Ia meminta ganti rugi karena tokonya yang menjual patung-patung dewa telah hancur lebur karena gempa bumi.

Tetapi, sudah bisa ditebak, perusahaan asuransi yang diwakili Dinesh Gandhi (Jaineeraj Rajpurohit) tersebut menolak karena menganggap apa yang terjadi pada toko Kanji di luar tanggung jawab perusahaannya. Ia menyebut peristiwa itu sebagai “Act of God”. Dengan begitu, Dinesh meminta Kanji menuntut dewa yang sebenarnya tak dipercayai eksistensinya oleh Kanji. Ya, dia seorang ateis.

Karena sudah merasa rugi banyak, terpaksa Kanji melayangkan gugatan ke pengadilan. Tetapi ateis yang satu ini lebih cerdas dari David (kalaupun bisa dianggap ateis). Tuhan, memang sasaran gugatannya. Tetapi dengan kesangsiannya pada Tuhan, ia menggangap tak mungkin menghadirkan Tuhan dalam pengadilan itu. Dengan begitu, tuntutan itu akan mudah dipatahkan dan kalau tak beruntung, akan seperti kasus David yang dianggap mengidap penyakit psikis dan mengalami delusi.

Selanjutnya yang dilakukan Kanji sangat mengejutkan. Ia tak menuntut Tuhan secara langsung, tetapi melalui rumah-rumah-Nya di muka bumi: masjid, wihara, gereja, dan pura. Dengan begitu, perwakilan rumah-rumah ibadah itu hadir memenuhi panggilan pengadilan.

Semua perwakilan rumah ibadah yang disebut sebagai kalangan agamawan, kebakaran jenggot dan dengan mudah melayangkan predikat kafir dan menodai agama pada Kanji, bahkan Kanji hampir mati terbunuh dikejar-kejar massa. Kanji akhirnya menang di pengadilan dan berhasil mendapatkan ganti rugi.

Namun bagimana dia menunjukkan bukti-bukti empirik yang biasa dikehendaki dalam pengadilan yang sangat positivistik? Kanji menghadirkan bukti-bukti tertulis yang ia dapatkan dari aneka kitab suci agama-agama. Ayat-ayat yang bekenaan dengan “Act of God” ia sitir dari Bhagavat Gita ayat 8 pasal 9; dari Alkitab ia mengutip Yesaya 54 ayat 16; dari al-Qur’an iya menyitir surat al-Zalzalah ayat 1-8.

Semua ayat itu tak mungkin diingkari oleh para agamawan. Karena mereka semua membenarkan seluruh isi firman Tuhan di dalamnya.

Bernada serius namun juga lucu. Ya, sebab itulah yang hendak dihadirkan sang sutradara: membangun kritik yang menohok terhadap cara beragama yang terlalu doktrinal dan kaku. Sehingga tidak dapat menerima sedikit sentilan dari pihak manapun.

Sang sutradara juga hendak mengungkap betapa masih banyak kalangan agamawan yang beragama tidak dibarengi dengan akal sehat, sehingga mudah dikalahkan dengan argumen-argumen teodise yang menuduh Tuhan tidak bisa berbuat adil dan cenderung berwajah kriminal.

Mudah kita temukan film-film India sejenis yang juga mengkritik kaum agamawan di mana seringkali menjadikan agama sebagai momok untuk mengeruk keuntungan pribadi. Film terakhir adalah film PK (2015) yang disutradarai Rajkumar Hirani yang menunjukkan betapa telanjangnya sebagian prilaku kaum agamawan yang oportunis dan kapitalistik.

Selain Umesh Shukla dan Rajkumar Hirani, satu sutradara lagi yang kerap menyentil kaum agamawan adalah Deepa Mehta. Elements Trilogy Mehta yang sangat terkenal adalah Fire (1996), Earth (1998) dan Water (2005). Terutama film yang terakhir ini, sangat mengganggu pikiran-pikiran umat Hindu yang anti-kritik.

Film ini mengungkap betapa kaum janda berada dalam intimidasi dan eksploitasi para chauvinis Hindu. Hak-hak mereka dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya dirampas selama 2000 tahun lebih. Semua itu berlangsung menggunakan legitimasi hukum agama. Yang disitir dari kitab Manu (Manu-smriti): teks kuno Hindu.

Kitab itu hanya memberi tiga opsi bernada misoginis, yaitu: ikut mati bersama suaminya di tumpukan kayu yang dibakar; hidup dalam pantangan-pantangan; atau jika diijinkan boleh menikahi adik laki-laki suaminya (itupun kalau ada).

Di negara kita, kasus-kasus politisasi hukum agama kerap dilakukan mereka yang sedang dimabuk harta benda dan kekuasaan. Kadang-kadang irrasionalitas semacam itu kerap menjangkiti institusi agama yang dianggap paling otoritatif. Ah, sudahlah.

Judul : Oh My God
Sutradara : Umesh Shukla
Negara : India
Bahasa : Hindi
Durasi : 130 menit
Pemain : Akshay Kumar, Paresh Rawal, Mithun Chakraborty, Jaineeraj Rajpurohit
Tahun rilis : 2012