Pernah terbisik di ingatan saya jika persoalan kemiskinan, kasus-kasus HIV dan AIDS, narkoba, pencemaran lingkungan dan HAM (Hak Asasi Manusia) tidak akan pernah bisa terselesaikan. Pendek kata, persoalan ini adalah kutukan dan sampai kapan pun akan tetap ada. 

Entah mengapa tiba-tiba saja pikiran seperti ini mengganggu kesadaran saya. Bisa jadi ini karena bentuk kekecewaan atas penyelesaian dari persoalan ini, yang tak kunjung menemui titik cerah.

Namun, bukan berarti saya determinis atas situasi yang tengah berlangsung. Jika teringat yang dikatakan Kang Jalaluddin dalam bukunya Rekayasa Sosial, bahwa masalah sosial saat ini terjadi adalah sesuatu yang, jika ditinjau dari perjalanan sejarahnya, selalu ada, tidak bisa dihindari, dan merupakan hasil dari rantai sebab-akibat.

Secara pribadi, saya sampai pada pemikiran seperti ini, tidak lain karena fakta yang terjadi hari ini terkait beberapa persoalan yang telah disebutkan sebelumnya. Ditambah lagi dengan sejauh mata memandang (berdasarkan data dan fenomena) akan mudah ditemui. 

Hanya dibutuhkan sedikit kemampuan membaca yang baik dan kemampuan mengetik di google, maka akan kita dapati trend dari tahun ke tahun bagaimana kasus-kasus ini masih tetap jelas berada pada beberapa grafik dan tabel prioritas masalah, baik yang sifatnya global, nasional, maupun lokal.

Sebagai contoh, pada persoalan nasional untuk kasus kemiskinan yang saya telusuri di Google. Data yang dirilis Badan Pusat Statistik tahun 2017 menyebutkan, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 27,77 juta orang (10,64 persen), bertambah sebesar 6,90 ribu orang dibandingkan dengan kondisi September 2016 yang sebesar 27,76 juta orang (10,70 persen).

Contoh persoalan lain, yaitu kasus HIV dan AIDS. Tercatat berdasarkan data yang dirilis oleh Yayasan Spirita, dari bulan Oktober sampai dengan Desember 2016, jumlah infeksi HIV yang dilaporkan sebanyak 13.287 orang. Dan dari bulan Oktober sampai dengan Desember 2016, jumlah AIDS dilaporkan sebanyak 3.812 orang.

Lagi dari hasil penelusuran Google terkait data permasalahan lingkungan hidup. Data kali ini yang dirilis oleh Nationalgeographic Indonesia (Mei 2016) menerangkan, meski telah terjadi tingkat/kadar pencemar, namun masih terbilang tinggi. Seperti sungai-sungai yang terletak di wilayah regional Sumatera (68 persen), Jawa (68 persen), Kalimantan (65 persen), dan Nusa Tenggara (64 persen). Dari hasil temuan ini, limbah domestic atau limbah rumah tangga memberikan sumbangan terhadap tingkat pencemar sungai.

Sepintas dari beberapa permasalahan di atas cukup menjelaskan bagaimana fakta berbicara. Mungkin yang cukup dekat untuk ditelisik adalah kondisi lingkungan sungai. 

Mengapa? Mengingat sungai merupakan salah satu lingkungan hidup yang cukup kompleks terkait fungsi dan siklus kehidupannya. Untuk irigasi pertanian, sungai dijadikan sebagai mungkin sudah tidak asing lagi, seperti di kampung halaman saya.

Sungai menjadi sangat vital dikarenakan menjadi sumber pangairan lahan pertanian sawah. Sungai di kampung saya dijadikan sebagai sumber untuk bertani ikan air tawar. 

Dan yang sangat membekas di ingatan saya, sungai adalah sarana untuk bermain dan bahagia bersama teman. Dan di beberapa tempat, sungai menjadi bahan baku air minum, sebagai saluran pembuangan air hujan, dan tak jarang sungai dijadikan sebagai media pariwisata.

Sangat disayangkan, beberapa manfaat tadi belum menjadikan wacana lingkungan (sungai, keletarian flora dan fauna, dan mungkin green ekonomi) sebagai grand isu dalam momen politik seperti pemilihan kepala daerah, legislatif, dan Pilpres. Dan faktanya bahwa wacana lingkungan hampir sama sekali tidak menjadi brand program ketika momen politik berlangsung.  

Ya, green ekonomi kini merupakan wacana yang cukup seksi di konteks global. Bahkan beberapa negara seperti Cina dengan penerapan pembangunan ekonomi rendah karbondioksida. Kenya, negara yang kaya energi biomassanya akhirnya menerapkan kebijakan pemanfaatan energi tersebut, dan beberapa negara lainnya seperti Uganda dan Brazil.

Indonesia, jika ditarik garis sejarah, memiliki warisan budaya (hutan adat) dan keanekaragaman flora, fauna, dan sungai (sayangnya beberapa tahun menjadi cukup kritis) dapat menjadi modal dan benefit untuk negara. Baik secara ekonomi dan membuka lapangan kerja baru (catatan: Indonesia menuju bonus demografi).

Yang tak kalah pentingnya, green ekonomi juga menjadi solusi alternative untuk menciptakan lingkungan bersih dan bebas polusi, melalui produk ramah lingkungan serta terhindar dari lingkungan terdegradasi. Saya pikir benefit ini adalah harapan yang selalu menghiasi langit-langit masyarakat kota metropolitan seperti Jakarta.

Sebagai catatan terakhir, saat sekarang terbesik dalam ingatan. Sewaktu masih duduk di bangku SD (sekolah dasar), apakah pernah ada dalam kurikulum pendidikan pada masa itu yang menjadikan wacana lingkungan sebagai bahan ajar (belajar mengajar) di sekolah? Sebagai perenungan, jika sedari dini telah dibentuk awarenesse, maka tentu akan menjadi penyadaran diri di masa remaja dan dewasanya kelak.