Keberadaan Manusia merupakan sebuah masalah yang harus diselesaikan oleh manusia itu sendiri. Masalah konkret yang sudah ada sejak lama namun tidak banyak yang menyadari ialah pemahaman mengenai manusia itu sendiri. artinya bahwa terdapat kekeliruan Manusia dalam mendefinisikan manusia itu sendiri.

Pengkerdilan Manusia

Manusia direduksi dalam kelompok-kelompok tertentu, Manusia dimaknai hanya Yang bagian dari "Kita" selain itu bukan. Implikasi logis ialah kegiatan kemanusiaan hanya dalam lingkaran "Kita".

Dalam hal ini, "Kita" ini dapat dimaknai dalam bentuk kelompok-kelompok di masyarakat, Ormas, Gang motor, Fans Club dll. Ini semuanya membeku menjadi identitas baru. Reduksionisme seperti ini sangat berpotensi untuk memicu terjadinya Konflik Horizontal, karena sesuatu yang berbau identitas sangatlah sensitif, kecintaan terhadap kelompok yang dimanifestasikan dalam bentuk solidaritas. Solidaritas berlebihan seringkali melukai kemanusiaan.

Padahal hampir sebagian besar Identitas-identitas itu dibentuk dengan semangat memanusiakan manusia namun dalam prakteknya malah sebaliknya, kenapa?, ya karena manusia hanya didefinisikan hanya yang bagian dari "Kita".

Hal  ini bukanlah sesuatu yang baru, sebab di Eropa sekitar abad 15 sampai 18 dan juga pada abad 20 masih banyak terjadi tindakan-tindakan yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan, akar masalahnya sama  yakni adanya definisi ekslusif tentang Manusia, yang kalau dalam Istilah Hardiman ialah kemanusiaan Tanpa manusia.

Orang Eropa pada zaman itu mengartikan bahwa antroposentrisme peradaban humanis pada suatu pengertian antrophos (manusia) yang Eurocentric (berpusat pada pengertian-pengertian eropa), bagi mereka manusia yang dibela dalam Humanisme itu adalah manusia dengan M huruf besar, yang di dalam sejarah Filsafat Barat ditemukan tidak di kapal-kapal pengangkut budak-budak negro atau di lokasi-lokasi kerja paksa pembangunan jala daendels, melainkan di tumpukan literatur Filosofis yang jauh dari Negeri dan Rintikan dari tanah-tanah jajahan, (Hardiman, 2012:35).

Ketidakmampuan kita mengolah identitas ini, berakibat pada suburnya konflik antar identitas. Konflik berbasis identitas ini sudah sering terjadi, bangsa indonesia sendiri memiliki banyak sekali cerita-cerita buruk yang tersusun rapi dalam memori kolektif bangsa.


Amartya sen juga salah seorang tokoh terkemuka yang pernah melihat serta membahas ini, yang kemudian dibukukan dengan judul kekerasan atas nama identitas. Singkatnya dalam buku itu menjelaskan tentang betapa identitas dapat memicu konflik antar Kelompok, Rasa, Agama dan lain-lain.

Manusia : Identitas Universal

Manusia tak semestinya dipahami hanya dalam identitas-identitas semu seperti yang telah dijelaskan. Untuk menghindari akibat yang akan terjadi seperti yang telah disampikan di atas, maka kita harus melampaui identitas-identitas semu tersebut dengan menyadari adanya Identitas Universal.

Terbentuknya Identitas-identitas semu itu berakibat pada, Hilangnya Identitas mereka sebagai manusia. Bahkan sudah sejak lama manusia sebagai identitas itu terabaiakan.

Menurut Penulis bahwa “Manusia” dapat dijadikan sebagai Identitas Universal, Harapannya agar dapat merekatkan seluruh umat manusia yang sudah terlanjur dikotak-kotakan dan terkotak-kotakan dalam Identitas Semu tertentu.

Sejatinya unsur, ciri serta sifat-sifat yang terdapat dalam diri manusia, merupakan sebuah identitas yang membedakan ia dengan makhluk laiinya, sehingga Dengan Menyadari manusia sebagai identitas ini, maka ia dapat menjadi identitas  universal, nilai-nilai kemanusiaan tak lagi dibatasi dalam kelompok-kelompok tertentu, melainkan dapat melebur dalam kehidupan masyarakat serta menjangkau seluruh umat manusia.

Lebih jauh lagi, menurut penulis bahwa tindakan-tindakan kemanusiaan yang melampaui identitas semu tersebut merupakan puncak dari perjalanan panjang, seorang manusia dalam menyusuri kedalam dirinya, atau istilah yang lazim diketahui ialah mengenali diri sendiri.

Identitas Universal semacam sebuah identitas yang menaungi seluruh umat manusia tanpa melihat latar belakang orang tersebut, dimana berbagai latar belakang tersebut akibat dari proses bentur dan terbentuknya orang tersebut dalam kehidupan, sejak proses kelahiran, tumbuh berkembang serta proses-proses lainnya menunjang keberlangsungan hidupnya.

Manusia Sebagai Identitas dalam Konsep Hak Asasi Manusia

Kedudukan Manusia sebagai Identitas dalam Konsep Hak Asasi Manusia, perihal Perolehan Hak-Hak sebagai manusia serta perlindungan atas hak-hak tersebut sangatlah penting, sebab pada faktanya perolehan Hak-Hak serta perlindungan terhadap Hak-Hak tersebut sering diabaikan, permasalahan nya tereletak pada Definisi mengenai manusia.

Dalam konsep HAM, Manusia yang dapat memiliki Hak, ialah seseorang yang bergabung dalam komunitas politis Tertentu yakni Negara, kemudian melahirkan Identitas Sebagai warga Negara. Identitas ini yang kemudian dapat mendasari seseorang untuk dilindungi.

Ini juga yang pernah digemakan oleh Hanna Arend dalam gagasan Republikanisme nya menurutnya bahwa Hak asasi dia melekat dan bergantung pada status seseorang sebagai warga Negara, sebab menurutnya ada hak yang lebih fundamental ketimbang Hak asasi manusia, hak fundamental itu ialah “Suatu Hak Untuk Memilik Hak”, dan hak ini dimiliki apabila orang tersebut menjadi warga Negara, (Hardiman, 2011:29).

Asumsi yang melatar belakangi gagasan Arendt ialah dengan Identitas seseorang sebagai warga Negara, orang tersebut dapat dilindungi melalui sebuah komunitas politik seperti negara, hal ini berangkat dari konsep asal usul Negara. tesis Arendt tentunya sangat berdasar, fokus nya dia pada jaminan akan perlidungan, Negara yang menaungi para warga Negara ini memiliki kewajiban untuk melindungi mereka dari tindakan kejahatan dari Negara lain maupun kejahata antara sesama warga Negara.

Namun perlu diketahui bahwa kondisi saat ini berbeda jauh dengan apa yang dialami arendt pada waktu, dimana belum ada satu sistem yang membawahi berbagai Negara dan menghubungkan berbagai Negara baik dalam kerja sama maupun kegiatan lainnya.

Dalam dunia modern saat ini, semangat antroposentris abad renaissance ribuan tahun lalau mulai perlahan diterapkan secara baik, setelah pembantaian besar-besaran oleh Kaum Nazi pada saat itu, mungkin ini merupakan puncak kesadaran masyarakat Global dalam menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Yang pada akhirnya dibentuklah lembaga-lembaga internasional, salah satunya ialah Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebagai bentuk komitmen dunia untuk mencegah terulang kembali peristiwa kelam seperti yang pernah terjadi.

Peran lembaga-lembaga internasional inilah yang menurut penulis dapat menggantikan peran Negara dalam melakukan perlindungan terhadap Hak-Hak asasi dari manusia, artinya manusia tak harus bergabung dalam komunitas politik tertentu untuk memperoleh jaminan perlindungan.

Apabila melihat secara teliti konsep Hanna Arendt, sangat jelas bahwa Hal tersebut tidaklah sejalan dengan konsep Hak Asasi Manusia, sebab selama ini dipahami dalam berbagai literature bahwa hak asasi manusia merupakan sesuatu yang melekat pada manusia. Artinya bahwa tiap orang wajib dilindungi tanpa harus bergabung dalam komunitas politik tertentu untuk mendapatkan identitas sebagai warga Negara, sebab dengan identitas nya sebagai manusia saja sudah cukup untuk mendapat perlindungan.

Menurut penulis bahwa Kesadaran bahwa Manusia sebagai Identitas Universal ini semakin meningkat, dengan adanya gagasan kewarganegaraan kosmopolitan (weltbusgerschaft), dimana tiap-tiap orang dapat terlepas dari keterikatan pada tertitorium geopolitis Negara, salah seorang yang pernah menggambarkan hal ini sejak lama ialah Imanuel Kant dalam bukunya Menuju Perdamaian Abadi, baginya “orang asing diterima untuk tinggal di sebuah Negara bukan karena alasan filantropis belaka, melainkan karena hal itu merupakan haknya, sebab permukaan bumi ini merupakan milik bersama umat manusia, (Hardiman, 2011:35).

Kesimpualan nya bahwa menyadari Manusia sebagai Suatu identintas universal, dapat menjadi dasar dalam bertindak antara sesama  manusia, konflik antara kelompok, suku, agama bahkan lebih luas lagi antara Negara dan dalam kontek Ham secara Global, konsep ini dapat mejadi dasar dalam perlindungan Hak-hak seluruh manusia.

Mungkin Ungkapan Thomas Paine, dapat merepresentasikan Identitas Universal serta mengakhiri Tulisan ini ; The World Is My Country, All Mankid Are My Brethren, And To Do Good Is My Religion.

REFERENSI :

F.Budi Hardiman, (2011). Hak-Hak Asasi Manusia (Polemik dengan Agama dan Kebudayaan), Yogyakarta : PT KANISIUS.

F.Budi Hardiman, (2012). Humanisme dan Sesudahnya (meninjau ulang gagasan besar tentang manusia), Jakarta : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)