Pembangunan pendidikan adalah bagian integral dari pembangunan sosial bangsa. Pendidikan harus dipandang sebagai sebuah kajian paling dasar dalam mendorong perubahan kualitas manusia Indonesia. Apa pun jalurnya, baik formal, nonformal, dan informal, harus mendapat kesetaraan dan keadilan dalam regulasi.

Salah satu bagian pendidikan yang selama ini dianaktirikan adalah pendidikan nonformal. Posisinya dalam UU Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 mengandung terminologi the second lane. Sementara tugas dan fungsinya tidak kalah penting dari pendidikan formal.

Sejauh ini, pembangunan pendidikan nonformal maupun informal belum pernah disinggung secara khusus oleh Mendikbud Nadiem Makarim. Narasi yang dibangun masih sangat formal-sentris atau terfokus pada pembangunan pendidikan formal. Padahal, masih ada dua jalur lagi yang cukup mendasar.

Tulisan ini mencoba memperkenalkan pendidikan nonformal kepada Mendikbud baru sekaligus mendorong sebuah terminologi baru pendidikan nonformal.

Kekeliruan Terminologi

Fungsi pendidikan nonformal dalam UU Sisdiknas disebut sebagai pengganti, penambah, dan pelengkap pendidikan formal. Dari terminologinya, kita bisa melihat ketidakadilan atau ketidaksetaraan dalam fungsi. 

Logika kedua jalur pendidikan di atas sebenarnya sederhana, pendidikan formal di dalam sekolah, sementara pendidikan nonformal di luar sekolah. Artinya, pendidikan nonformal bertanggung jawab atas seluruh persoalan pendidikan di luar sistem persekolahan formal, diamanahi mengembangkan potensi manusia Indonesia dari sisi yang lain, termasuk menjalankan fungsi yang termaktub dalam UU Sisdiknas tersebut.

Terminologi pengganti, penambah, dan pelengkap sebenarnya tidak sejalan sebangun dengan definisi satuan pendidikan yang menyatakan bahwa pendidikan formal, nonformal, dan informal adalah 3 jalur pendidikan yang bisa ditempuh oleh setiap orang. Pada prinsip dan kenyataannya, pendidikan nonformal sekali lagi hanya sebagai the second lane, posisinya selalu nomor dua atau dinomorduakan.

Saya tidak sedang membenturkan kedua jalur tersebut, tidak pula membangun segregasi yang kontraproduktif. Namun, konsep jalur itu sendiri adalah bagian yang berdiri sendiri, memiliki arena masing-masing, tetapi tetap saling mendukung satu sama lain. 

Ibarat pipa-pipa air, jalurnya banyak tetapi tujuannya sama, yaitu mengaliri air ke rumah-rumah warga. Formal dan nonformal pun demikian, jalurnya berbeda tetapi tujuannya mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, porsi yang diberikan harus adil dalam setiap kebijakan perundang-undangan, anggaran, dan kesempatan yang sama untuk alumni-alumninya mengabdi kepada bangsa dan negara.

Makna Baru Pendidikan Nonformal

Realitas pendidikan nonformal di Indonesia sejauh ini masih dianggap sebagai anak tiri, meskipun tugas dan fungsinya tidak kalah penting dari pendidikan formal. 

Tugas pendidikan nonformal yang paling penting adalah membekali pengetahuan, karakter, dan keterampilan seluruh masyarakat dari sejak usia dini sampai orang dewasa, baik yang bersekolah, putus sekolah, maupun yang tidak pernah sekolah sekalipun. 

Pendidikan nonformal harus membantu lebih dari 6 juta pengangguran di Indonesia, 35 juta lebih petani, 2 juta lebih nelayan, 25 juta lebih orang miskin, dll. Bisa dibayangkan, tugas pendidikan nonformal apabila mengacu pada data-data BPS di atas. Oleh karena itu, anggapan tentang pendidikan nonformal pendukung mutlak pendidikan formal sangat sempit dan terlalu sederhana.

Secara singkat, makna pendidikan nonformal adalah segala upaya dan aktivitas pendidikan yang diadakan di luar sistem persekolahan formal, apa pun bentuknya, baik terorganisir atau aksidental. 

Aktivitas pendidikan nonformal tidak boleh disempitkan dalam beberapa kegiatan saja sebab cakupannya sangat luas. Pemaknaan masyarakat dan institusi yang berkaitan dengan pendidikan nonformal masih terdengar sebagai pengganti, penambah, dan pelengkap pendidikan formal perlu diluruskan kembali agar tidak mengecilkan makna yang sesungguhnya. 

Di samping itu, makna pendidikan nonformal mesti ditegakkan dalam regulasi maupun dalam praktik-praktiknya.

Perlu diingat kembali bahwa pendidikan nonformal bukan auxiliary pendidikan formal karena memiliki jalur tersendiri yang corak dan proses belajarnya berbeda. Hal ini penting dipahami oleh seluruh stakeholder pendidikan bahwa hanya dengan memosisikan ketiga jalur pendidikan nasional tersebut secara adil kita bisa membangun bangsa ini lebih maju dan berdaya saing. 

Terlebih lagi cita-cita pembangunan pendidikan di era revolusi industri, ketiga jalur pendidikan ini harus aktif dan bersinergi bersama.

Pendidikan Nonformal dan Cita-Cita 4.0

Peran pendidikan nonformal di era revolusi industri 4.0 cukup strategis. Masyarakat usia produktif tentu perlu mengetahui dan menguasai teknologi untuk mempermudah dan meningkatkan usaha-usahanya. 

Dalam prosesnya, pendidikan nonformal menyediakan berbagai program pendidikan seperti pelatihan, kursus, pembinaan, pemberdayaan, dll. Program pendidikan semacam ini bukan sekadar tambahan atau pelengkap belaka, tetapi seseorang bisa memiliki kompetensi khusus dari program-program tersebut.

Ada banyak orang sukses dalam berbagai bidang hanya karena mengikuti pelatihan, workshop, kursus, atau bahkan hanya belajar dari orang lain secara nonformal. Hal itu terjadi karena proses belajar dalam pendidikan nonformal berbasis pada kebutuhan masyarakat. Masyarakat merasa merdeka dan tidak terbebani oleh tugas-tugas lain yang tidak berhubungan dengan mimpi dan cita-citanya.

Proses belajar yang merdeka gagasan Mendikbud beririsan dengan praktik ideal pendidikan nonformal. Pemenuhan kebutuhan akan pengetahuan dan kompetensi baru sangat dituntut di era revolusi 4.0. 

Untuk itu, pengetahuan dan kompetensi perlu diupdate setiap saat melalui program pendidikan nonformal agar sesuai atau bahkan mempengaruhi proses perubahan. Dengan demikian, redefinisi makna pendidikan nonformal dan memberikan porsi yang adil dalam regulasi dan anggaran menjadi penting dikaji kembali.