Ramadhan sebentar lagi. Hawanya mulai kerasa, ditandai dengan ramainya salin rekat video-video ceramah yang dibagikan netijen. Ditambah caption tentang menyambut puasa. 

Tetapi kali ini berbeda. Ada aura kesedihan terpendam dalam menyambut bulan Ramadhan. Yaitu, kita akan menjalankan puasa di tengah teror wabah Covid-19

Untuk memeriahkan Ramadhan kali ini, berseliweran pula video cover lagu "Aisyah Istri Rasulullah". Sejumlah penyanyi wanita belia bersuara merdu ramai melantunkan lagu ini dalam cover versi masing-masing.

Kalau kita ketik judul lagu itu di papan mesin telusur Google, ataukah YouTube, maka akan muncul video-video cover lagu itu dibawakan oleh—terpopuler pertama—Anisa Rahman, disusul Nissa Sabyan, Syakir Daulay, hingga Andre Taulani. Ada juga cover dalam bentuk grup—bukan perorangan—semisal putih abu-abu.

Orang-orang pada bingung. Lho, kok lagu ini yang muncul cover semua? Tetapi kalau lebih teliti, akan ketemu pelantun aslinya setelah menelusur lagu ini untuk kesekian kalinya. Yaitu Projector Band, grup asal Negeri Jiran Malaysia. 

Lagu itu dicipta dan diproduksi dua tahun yang lalu. Cover lagu itu lebih viral dibanding versi asli penciptanya. Artinya, menurut publik, berarti lebih elok didengar cover-nya.

Namun, bukan soal cover atau tidaknya, melainkan lirik lagunya yang menurut saya agak mengganggu. Baiklah saya kutipkan bait pertama lagu ini:

Mulia indah cantik berseri//kulit putih bersih merah di pipimu//ya Aisyah, puteri Abu Bakar, Isteri Rasulullah//...

Lagu ini—sadar atau tidak—akan menggiring opini publik bahwa kecantikan itu ukurannya mesti berkulit putih. Konsekuensinya, kenyataan eksistensial manusia yang diciptakan dengan beragam warna kulit—putih, hitam, kuning, dan sawo matang (versi grup kasidah Nasidah Ria)—tak lagi diinsyafi. Kulit gelap (sawo matang) dan kulit hitam tidak masuk hitungan cantik, ataukah cantik yang kesekian. 

Sehingga wajarlah jika salah seorang teman saya berkata, "Lagu ini rasis dong!"

Terserah apakah lirik lagu ini mau ditafsikan rasis atau tidak. Yang jelas, lirik lagu di awal yang mengangkat ciri fisik tertentu akan sangat menentukan cara pandang sekaligus kriteria kemuliaan kaum wanita. 

Makanya di salah satu grup WhatsApp, saya bilang:

Lagu ini pasti dicipta oleh laki-laki, sudut pandangnya laki-laki, yang melihat kecantikan (wanita) terutama pada segi fisik. Saya yakin cara pandang seperti ini berbeda dengan yang diajarkan oleh Rasulullah dalam memandang keistimewaan seseorang, yakni lebih melihat pada akhlaknya. Pasti akan beda halnya jika yang mencipta lirik lagu ini adalah perempuan.

Yahya Zainul Maarif, atau yang kerap disapa dengan Buya Yahya, rupanya termasuk yang gerah terhadap lagu ini. Utamanya terhadap bait pertama lagu itu. Beliau minta lirik itu diganti, "Saya tidak tega mendendarnya...," kata Buya Yahya di salah satu youtube channel, dikutip oleh Tribunnews, 5 April 2020.

Buya Yahya menyayangkan mengapa lagu itu justru mengumbar fisik Ummul mukminin? Padahal sekiranya yang ditampilkan adalah kecerdasannya, ataukah sikapnya, sifatnya, akhlaknya, kemuliaannya, itu jauh lebih bagus. Sehingga, alih-alih mengungkapkan kemuliaan istri Rasulullah, bisa jadi justru merendahkannya.

Perkara lagu "Aisyah Istri Rasulullah" tidak saja sampai di situ, poin keributan selanjutnya adalah mengapa musti Aisyah? Padahal, kan, ada Khadijah, isteri pertama Rasulullah yang setia menemani Nabi berdakwah sejak awal-awal Islam. Sekaligus bisa jadi membesarkan Aisyah akan membuat kita lupa tentang istri-istri lainnya beserta andil mereka.

Oleh para penggemar lagu itu, kelompok yang mempertanyakan hal itu ditantang, "Ayo dong, kita tunggu versi Khadijahnya." Akhirnya muncul yang versi Khadijah, tetapi hanya menggunakan lagu yang sama. Lirik yang menyebut "Aisyah" diganti dengan "Khadijah", serta beberapa kata lain yang diganti. Ada pula muncul lagu "Khadijah" yang orisinal, tetapi kurang menarik dibanding lagu "Aisyah Istri Rasulullah".

Hingga di beberapa kesempatan, saya temui ada sebagian yang menduga bahwa yang berusaha menandingi lagu "Aisyah..." dengan lagu "Khadijah..." berasal dari kelompok Syiah, mazhab yang dikenal kritis terhadap beberapa sahabat Nabi, juga terhadap beberapa istri Nabi—termasuk Aisyah. Dugaan ini patut dimaklumi, tetapi tak perlu dibesarkan sebab hanya akan menghadirkan kembali debat lama yang sudah jauh ditinggalkan sejak lama.

Lagi pula, perkara bersikap kritis terhadap sebagian sahabat Nabi, dari pihak Syiah terlebih dahulu sudah melakukan klarifikasi di sejumlah buku. Utamanya di Indonesia ada buku "Syiah menurut Syiah". Di dalamnya mengklarifikasi tuduhan bahwa Syiah mengkafirkan sahabat Nabi.

Halaman 143-145, ada dicantumkan antara lain sikap pemimpin tertinggi Iran cum marja' Syiah, Sayyid Imam Ali Khamenei menegaskan, "Haram hukumnya mencela simbol-simbol Ahlussunnah wal Jamaah (Sunni), terutama sahabat dan isteri-isteri Nabi!" Ulama Syiah lainpun semisal Allamah Al-Thabathaba'i, Syaikh Thusi, Syarif Murtadha, Allamah Majlisi, dan Al-Thabarsi menegaskan berbeda antara mengkritisi dengan mencela atau mencaci maki, atau mengafirkan.

Melihat beberapa kenyataan itu, sekiranya patut kita dengarkan saran bagus dari Buya Yahya di atas. Bahwa seyogianya lagu-lagu bertemakan isteri-isteri Nabi tidak mengumbar ciri fisik, melainkan kemuliaan akhlak.

Hanya saja persoalannya, lagu itu telah memiliki hak cipta. Menurut saya, lagu itu tetap saja bagus untuk dilantunkan. Tetapi kita berharap lagu-lagu lain yang serupa tapi tak sama—yang tidak menonjolkan ciri fisik—dicipta juga untuk memenuhi blantika musik reliji tanah air. Kalau sudah begitu, lagu "Aisyah Istri Rasulullah" semoga tak lagi terlalu dipersoalkan, melainkan diletakkan dalam konteks fastabiqulkhairaat, berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan.