Sebelum anda membaca sampai tuntas, izinkan saya membela diri dahulu;

“Semoga tulisan ini tidak disalahpahami. Ya karena beberapa tulisan terakhir saya, ketika saya menyampaikan suatu tulisan tertentu sampai dengan cara yang berbeda-beda. Sampai dengan seseorang tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan atau yang saya bayangkan. Saya sadar ini juga mungkin bagian dari kegagalan saya dalam menyampaikan pesan tulisan kepada khalayak orang banyak. Mohon maaf... “

Dalam bahasan kali ini juga sebenarnya ada potensi besar untuk demikian. Sekarang kita akan berbicara tentang imlekan. Mengarah kepada etnis Tionghoa, saya rasa perlu kembali dibahas. Tampak sepele, namun bagi saya penting.

Jadi maksudnya begini...

Beberapa bulan lalu, pada bulan Januari 2022. Kita di liburkan secara nasional karena merayakan Imlek, dan kita senang. Ya tentu saja saya juga senang, kan libur gitu...

Maksudnya, kenapa harus hanya etnis Tionghoa yang mendapatkan perlakuan seperti ini? Misalkan kita melihat bahwa Imlek itu adalah perayaan dalam konteks etnis dan kemudian di liburkan karena menghargai etnis yang dimaksud itu?

Mengapa etnis yang lain di Indonesia tidak mendapatkan perlakuan yang sama?

Di Indonesia banyak etnis yang tidak memiliki penanggalan tertentu dan karenanya mereka juga memiliki hari-hari perayaan tertentu. Akan tetapi tidak pernah kita kenali itu. Ya tentu saja karena ya cuman etnis pribumi mungkin.

Bahkan misalkan orang Jawa yang populasinya hampir setengah dari total populasi Indonesia. Tetap saja mereka, perayaan-perayaan mereka itu adalah perayaan-perayaan lokal yang tidak sampai diperingati secara nasional.

Mengapa seperti itu ya?

Kita melihat dalam konteksnya bukan etnis. Pada konteks religi bahwa Konghucu itu adalah agama yang di akui Indonesia. Sehingga hari rayanya pun harus dianggap sebagai hari raya nasional dan menjadi hari libur.

Maka pertanyaan muncul berikutnya lebih berat lagi yaitu; Iya kenapa agama dari etnis Tionghoa itu diakui secara nasional di Indonesia? Sedangkan agama-agama yang lokal Indonesia lain-nya tidak?

Jadi di Indonesia itu banyak penghayat kepercayaan yang populasinya dan awalnya jauh lebih besar lagi tetapi mereka jangankan mendapatkan penghargaan hari libur, mereka Justru malah diintimidasi, di diskriminasi dan sebisa mungkin dikonversikan untuk masuk ke dalam salah satu ajaran agama internasional di Indonesia.

Salah satu contohnya adalah kaharingan. Penganut ajaran agama Kaharingan itu mendapatkan diskriminasi yang sangat-sangat luar biasa di Indonesia. Awalnya mereka sempat dijadikan sebagai ajaran agama Hindu.

Padahal sebenarnya Kaharingan dengan Hindu itu benar-benar berbeda ajarannya, berbeda sistem kepercayaan mereka ,berbeda Tuhan mereka, berbeda konsepsi ketuhanan mereka, musuhnya berbeda.

Satu-satunya yang membuat mereka sama itu adalah cara ibadah mereka menggunakan dupa, walaupun tata cara ritual ibadahnya juga sama. Padahal identitasnya benar-benar berbeda. Hal demikian telah menjadi sebuah masalah besar. Setelah itu pun orang-orang Kaharingan tetap tidak mendapatkan perlakuan yang cukup memadai.

Mereka tidak difasilitasi dalam beribadah, kemudian ketika membuat KTP “ini penghayat kepercayaan apa? Dan semacamnya.

Mereka juga dipersulit dan banyak lagi kasus-kasus yang semacam itu. Sehingga kita mengetahui bahwa di tahun 2011 tercatat jumlah penganut Kaharingan itu sekitar delapan ribuan orang saja, di tahun 2018 turun drastis menjadi hanya sekitar dua ribuan.

Artinya turun sekitar 70 %  hanya dalam waktu tujuh tahun. Jauh-jauh hari sebelumnya, penganut mereka jauh lebih banyak. Tetapi hanya karena tidak diakui, tidak difasilitasi dan lain sebagainya. Akhirnya mereka terkikis habis seperti itu.

Kaharingan adalah salah satu sistem kepercayaan atau salah satu agama lokal di Indonesia dan mewakili nasib dari agama-agama lokal di Indonesia yang jauh lebih banyak lagi.

Jika ditelusuri dengan detil, ada banyak sekali agama-agama di Indonesia yang dianggap bukan bagian dari agama, tetapi bagian dari kebudayaan. Agama lokal tersebut di kikis habis.

Contoh lain; di Papua misalkan, ada banyak sekali agama-agama lokal. Tetapi pemerintah mendorong para misionaris dan memfasilitasi mereka untuk mengkonversi orang-orang Papua untuk masuk ke dalam ajaran agama Kristen.

Saya tidak menyalahkan misionaris-nya dalam konteks ini, sama sekali tidak.

Akan tetapi pertanyaan saya adalah mengapa ajaran-ajaran agama lokal itu sama sekali tidak mendapatkan penghargaan. Justru malah digerus habis-habisan, sedangkan etnis Tionghoa itu justru mendapatkan perlakuan yang sangat istimewa? Dengan mengakui mereka dan menjadikan hari raya mereka sebagai hari raya libur nasional.

Mengapa bisa seperti itu?

Saya mohon sekali lagi jangan memahami pertanyaan saya ini memiliki tendensi tertentu. Datanya banyak, dari mulai Komnas HAM sampai Kementerian Agama juga memiliki data-data yang seperti demikian.

Misalkan ada orang-orang yang penghayat kepercayaan tertentu ketika sekolah dia mendapatkan diskriminasi sampai tidak naik kelas gara-gara tidak mengikuti pelajaran agama. Karena agamanya harus sesuai dengan agama tertentu yang tercatat.

Di beberapa sekolah ada yang seperti itu...

Bahkan ketika meninggal pun mereka dikuburkannya pun tidak boleh di tempat pemakaman umum karena berbeda. Pada kasus lain yang sangat miris; agama-agama lokal tertentu itu dijadikan sebagai aliran sesat.

Pokoknya banyak sekali kasus-kasus di Indonesia yang seperti itu...

Ini adalah salah satu jawaban, satu sebab yang mendorong para penganut kepercayaan lokal berkonversi ke dalam ajaran agama yang internasional.

Tetapi jawaban di atas juga jawaban opsional. Maksudnya saya belum fokus pada jawaban ini. Yaitu Bahwa mengapa orang-orang etnis Tionghoa itu di istimewakan di Indonesia, karena mereka itu memiliki dua sisi.

Pertama adalah bahwa mereka itu masyarakat yang secara finansial, secara ekonomi berdampak sangat signifikan terhadap Indonesia. Disisi lain mereka itu mendapatkan banyak sekali frame negatif dari masyarakat.

Kedua, pemerintah seakan membutuhkan sebuah garis bawah yang terlalu tebal untuk menjelaskan mereka itu diterima di Indonesia. Sehingga perayaannya mereka diakui dan sebagainya.

Tentu saja demikian adalah jawaban opsional.

Jumlah etnis Tionghoa di Indonesia atau yang merayakan Imlek hanya 0,07 %. Tetapi mereka mendapatkan perhatian yang jauh lebih besar daripada agama-agama yang lain.

Terkait dengan hal ini, semoga bisa dipahami dengan sehat dan terbuka.

Silakan Anda jawab dan cari sendiri.

Semoga mendapatkan jawaban yang benar-benar clear.

Terima kasih karena sudah membaca...