Salah satu epos terkenal dari India adalah Mahabharata. Epos ini kemudian divisualisasikan dalam bentuk film. Bagi penggemar film seri Mahabharata pasti mengetahui bahwa film tersebut pernah tayang dua kali di stasiun televisi swasta Indonesia. Pertama kali tayang pada dekade 90-an dan terakhir pada tahun 2014. Baik versi lama maupun versi baru tentunya memiliki perbedaan dalam penyajian cerita. Adalah hal yang wajar jika keduanya memiliki sedikit perbedaan karena diproduksi pada dua masa yang berbeda.

Bagian cerita yang menarik untuk dibahas adalah pertempuran Pandawa melawan Kurawa di Padang Kurusetra yang dikenal dengan perang Baratayuda. Apabila ditilik lebih jauh Perang Baratayuda diawali dari perlakuan tidak adil salah satu pihak kemudian pihak lain menuntut keadilan atas haknya. Intinya banyak sekali kejahatan yang dilakukan para Kurawa untuk menyingkirkan Pandawa dari lingkar kekuasaan kerajaan Astina.

Dalam perang Baratayuda ada beberapa aturan main yang telah disepakati oleh Pandawa dan Kurawa, yaitu: perang dimulai pagi hari hingga matahari terbenam, para perang gada tidak diperkenankan menyerang bagian tubuh di bawah perut, tidak diperkenankan menyerang lawan yang tidak bersenjata, serta aturan-aturan main lainnya. Meskipun dalam kondisi perang tetapi ada etika yang harus dipatuhi oleh kedua belah pihak. Jika tidak ada aturan main tentu saja akan ada pihak yang merasa dirugikan.

Kejahatan yang dilakukan oleh para Kurawa jelas melanggar etika. Hal tersebut tidak bisa ditolerir oleh Pandawa sehingga perlu dilakukan perang. Sri Krisna yang berperan sebagai penasihat perang Pandawa menyebut perang Baratayuda adalah perang dharma. Perang antara kebaikan melawan kejahatan. Perang untuk menegakkan keadilan dan meruntuhkan kesewenang-wenangan. 

Oleh sebab itu, Sri Krisna berpendapat jika dalam perang Baratayuda para Pandawa melakukan “sedikit’” kecurangan untuk memenangkan pertempuran maka dapat dimaklumi karena mereka melakukannya untuk menegakkan keadilan. Pertanyaan selanjutnya, apakah Pandawa tidak melakukan kecurangan? Jika diamati lebih jauh Pandawa pun melanggar etika dalam perang Baratayuda ini. 

Ada beberapa aturan yang dilanggar oleh Pandawa untuk memenangkan pertempuran. Setidaknya ada 3 pelanggaran yang dilakukan oleh para Pandawa: Pertama, Menyebar berita bohong (dalam bahasa kekinian hoax) tentang kematian Aswatama untuk mengalahkan guru Drona. Kedua, Pertempuran Arjuna melawan Karna. Karna yang tidak bersenjata dibunuh oleh Arjuna. Ketiga, Pertempuran Bima melawan Duryudana. Bima dapat membunuh Duryudana karena menghantam paha Duryudana dengan gada.

Dari kisah perang Baratayuda dapat dicermati nilai-nilai etika yang telah dilanggar oleh kedua belah pihak. Seperti yang sudah diuraikan sebelumnya bahwa perang Baratayuda adalah perang antara kebaikan melawan kejahatan. Pandawa mewakili pihak yang baik sedangkan Kurawa mewakili pihak yang jahat.

Karena Kurawa berperan sebagai antagonis maka wajar jika mereka melakukan kejahatan. Akan menjadi menarik jika posisi Pandawa yang dibahas. Pandawa pada posisi protagonis yang seharusnya melakukan perbuatan baik (beretika) tetapi malah melanggar etika berperang. Dengan dalih menegakkan keadilan sekalipun, Pandawa tetap melanggar etika berperang. Tentu saja pernyataan ini bisa menimbulkan perbedaan pendapat bagi penggemar Mahabharata.

Apa itu etika? menurut Velasquez (2002), etika merupakan ilmu yang mendalami standar moral perorangan dan standar moral masyarakat. Etika mempertanyakan bagaimana standar-standar tersebut sudah diaplikasikan dalam kehidupan. Selain itu etika merupakan penelaahan standar moral untuk menentukan apakah standar tersebut masuk akal atau tidak jika digunakan dalam permasalahan kongkret.

Istilah “etika” mempunyai bermacam-macam makna yang berbeda. Salah satu maknanya adalah prinsip tingkah laku yang mengatur tingkah laku atau individu. Bagi seseorang yang menjadi anggota suatu organisasi asosiasi pasti tidak asing mendengar istilah “etika profesi”. Sebagai contoh: profesi dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI), profesi akuntan yang tergabung dalam Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), dan masih banyak organisasi profesi lainnya.

Penggunaan istilah etika profesi ketika mengacu pada seperangkat aturan yang mengatur tindakan profesi yang tergabung dalam organisasi asosiasi. Demikian juga pada perang Baratayuda. Ada beberapa aturan main dalam pertempuran yang telah disepakati pihak Pandawa dan Kurawa. Aturan main inilah yang disebut etika. Etika mengatur tindakan kedua belah pihak dalam berperang.

Dalam etika, terdapat standar moral yang menguji apakah tindakan seseorang itu masuk akal atau tidak digunakan dalam peperangan. Oleh sebab itu tindakan Pandawa dapat diuji apakah termasuk melanggar etika berperang atau tidak.

Salah satu contohnya adalah tindakan para Pandawa dalam perang Baratayuda berikut ini: bagaimana tindakan Arjuna ketika membunuh Karna yang sudah tidak bersenjata? Sangat jelas dalam aturan perang dijelaskan bahwa seseorang tidak diijinkan membunuh lawannya yang tidak bersenjata. Aturan tersebut dibuat untuk mengatur tindakan seseorang dalam berperang. 

Selain itu, aturan perang dapat digunakan untuk menilai apakah masuk akal atau tidak menyerang lawan yang tidak bersenjata. Hal ini jelas tidak masuk akal karena keadaan menjadi tidak berimbang. Ada satu pihak yang terlalu kuat, ada pihak lain yang terlalu lemah. Jadi tindakan yang dilakukan oleh Arjuna dalam perang Baratayuda tersebut melanggar etika.

Banyak hal yang dapat dipelajari dari kisah Mahabharata termasuk masalah etika. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat lepas dari hidup bermasyarakat. Setiap hari seseorang berinteraksi dengan orang lain. Etika mengatur tindakan seseorang sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi saat itu. Oleh sebab itu peran etika menjadi penting ketika seseorang mampu menilai tindakannya sudah masuk akal atau belum sehingga diharapkan tidak merugikan pihak lain.