Aan Almaidah Anwar (AAA), yang saya kenal adalah penulis cerpen pada majalah Anita Cemerlang yang sangat saya gandrungi saat masih remaja. Senior saya di Sekolah Menengah Atas dan menjadi kolega di tempat bekerja saat ini. 

Beliau banyak menerbitkan karya-karya sastra indah dalam bentuk puisi dan cerpen, dan masih produktif hingga saat ini. Beliau pernah mendapatkan penghargaan dari United Nation of Information Center, PBB sebagai 10 penulis puisi terbaik atas karya puisi bertemakan Apartheid (1989). 

Beberapa antologi puisi dan cerpen yang pernah memuat karyanya, antara lain : Doa Bali Tercinta (1984), Rindu Anak Mendulang Kasih (1987), Chasing the Dawn, the International Library of Poetry, USA (2000), Dunia Perempuan (2002), Peladang Kata (2019), Semesta Jiwa (2020), Lima Simpul Satu Cinta – Kemenkeu (2020), Hari Pajak – DJP (2020), Antologi Puisi (2021), Blengbong (2021).

Dalam pengantar makna, Ku, Mu, Nya (Pajak itu milikku, milikmu dan miliknya),yang merupakan kumpulan esai dan puisi,  AAA  menyatakan bahwa Pajak bukanlah hal yang mudah untuk ditatabahasakan, apalagi jika disandingkan dengan data, angka, riset dan informasi terkini. Dan, hal itulah yang membuat beliau menerima tantangan di penghujung tahun 2016, untuk mengelola rubrik khusus dinamakan Tax Light.

Tax Light, atau Cahaya Pajak merupakan rubrik yang menyampaikan informasi pajak, dengan ringan, pada Majalah Pajak. Dan buku ini merupakan kumpulan tulisan AAA semasa mengisi rubrik khusus tersebut selama 4 tahun mulai dari 2017 sampai dengan 2020.

Suatu pemikiran cerdas dari AAA, di dalam menuangkan tulisannya, menjadikan penulisan hal yang serius dapat disampaikan secara melankolik atau “nyastra”. Sehingga suatu ide kreatif dengan menyusun sebuah konsep tematik setiap tahunnya pada buku tersebut. 

Di setiap Tahun terdiri dari 12 Judul, yang merupakan  tulisan pemikiran tajam AAA yang sangat inspiratif dan optimis dipadukan dengan kehidupan keseharian. Inilah ciri khas AAA dalam menyampaikan edukasi perpajakan yang mengalir lewat permainan kata yang indah, yang jika dibaca pasti selalu menyisakan perenungan yang mencerahkan pembaca buku tersebut.

Chapter Satu - Tahun 2017

Setiap judul menggunakan kata-kata romantik seperti : Negeri Tanpa Angsa, Angin yang Berbisik, Ketika Hati Saling Berbagi, Mimpi yang Terbelah, Menyusun Keping Elemen, Seperti Air Mancur Menari, Mimi Pelangi, Menggemakan Merdeka, Berlari Bersama Waktu, Menyapa Dimensi Maya, Anjangsana Hakiki dan Refleksi Rectoverso. 

Terdapat 12 judul yang selalu memiliki kata sifat dan kata kerja serta pemaknaan. Di chapter satu diawali dengan kalimat penghantar chapter: “Kata-kata itu mengandung Makna. Paduan  subjek dan predikat bisa membawa pada romansa dan nuansa.”

AAA meramu cerita  tentang Tax Amnesti yang telah dilaksanakan pada tahun 2016, pemanfaatan uang pajak, pelaporan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) Pajak, struktur APBN, kepatuhan Wajib Pajak, dan transformasi kesadaran perpajakan melalui pendidikan. Ditulis dengan ringan namun menggugah  kesadaran pajak bagi semua pembacanya.

Semuanya dituliskan dengan mengalir dihubungkan  dengan keadaan keseharian kita, sehingga pembaca setidaknya sedikit merasa terlibat di dalam cerita, atau khayalan lampau saat kita mempelajari sejarah sekolah kadang terangkat dalam cerita, seolah kita masuk ke dimensi dunia lain.

Chapter Dua - Tahun 2018

Setiap judul mengandung makna dari kata-kata berupa istilah dari pelbagai negara, seperti : Vivere, Touche, Derau, Aphantasia, Cameo, Serendipitas, Carpe Diem, Gnothi Seauton, Ganbatte, Hakuna Matata, Yugen dan Ahu. Di chapter  dua diawali dengan kalimat penghantar chapter : “Hanya satu kata dari berbagai negara, dapat menjadi unsur pelengkap kita memaknai cinta pada bangsa.”

Dibalik Judul yang diambil dari bahasa dari berbagai belahan dunia seperti Vivere – Italia, Touche – Perancis, Derau – Indonesia, Ganbatte dan Yugen – Jepang, Hakuna Matata – Swahili bahkan era lampau bangsa Spartan “Ahu”, AAA, kembali mengajak pengembaraan pembaca ditingkahi makna dan peristiwa di tahun tersebut, baik kemenangan atau pun tragedi dan bencana alam.

Peristiwa-peristiwa tersebut menjadi bahan tulisan yang menggugah pembaca dengan menyampaikan dengan analogi-analogi yang bercerita tentang capaian monumental Direktorat Jenderal Pajak di tahun 2017, pengisian pelaporan SPT Tahunan melalui e-filling, pelaporan SPT Tahunan tepat waktu, peran Direktorat Jenderal Pajak, kebijakan perpajakan, dan edukasi perpajakan. 

Kesemuanya dirangkum dengan mengalir mulai dari pemaknaan judul hingga akhir dari cerita setiap tulisan yang penuh dengan keterikatan. Sehingga siapa pun yang membacanya akan merasakan pemikiran yang dituangkan AAA dalam tulisannya.

Chapter Tiga – Tahun 2019

Setiap judul mengusung pesan nama. Tentunya setiap nama memiliki kandungan harapan, seperti : Anicca, Aurora, Thirta, Sipora, Thanos, Indira, Teddy, Yes, Fiesta, Dwi, Prima dan Bing-O. Dichapter tiga diawali dengan kalimat penghantar chapter : “ Nama, mengandung doa. Di balik nama, selalu ada kisah yang bermakna.”

Pesan yang terkandung dalam nama yang dijadikan judul, sangat relevan dengan tema keseharian atau pun yang sedang popular di masa itu. Kembali AAA, menyadarkan pembaca dengan tulisan yang smart namun  ringan, dan pembaca sangat beruntung mendapatkan banyak pembelajaran dari referensi tulisannya.

 Goresan tulisan AAA kembali menceritakan tentang capaian kinerja Direktorat Jenderal Pajak di tahun 2018, edukasi perpajakan, peranan Pajak dalam APBN, program Business Development Service (BDS), dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Penulisan dengan sentuhan ringan namun melekat di hati yang membacanya.

Chapter Empat -2020

Pamungkasnya adalah perpaduan menyampaikan kesadaran perpajakan melalui larik puisi selain esai dan artikel. Penulisannya di antaranya terutama terkait situasi pandemik yang memengaruhi budaya hidup kita. Suatu torehan hati AAA yang ingin menyampaikan kepada semua pihak, atas situasi yang di hadapi negeri ini.

Terlihat dari penulisan judul seperti : Episode Baru, Sang Penyebar, Cahayakan Indonesia, Korona dan Bayangannya, Ketika Budaya Lahir Kembali, candradimuka, D.I.R.G.A.H.A.Y.U, Klaster, Cermin Budaya, Kalian Bicara, Untuk Sang Pahlawan dan Dunia Sudah Tua. Dichapter empat di awali dengan kalimat penghantar chapter :”Bukan hanya prosa, tapi puisi, mengikat kita pada arti… Untukmu Negeri.”

Puisi cantik, mempermainkan kata, mengayunkan rasa, sangat menggugah hati pembaca. Penulisan esai serta artikel tentang keadaan Indonesia di tengah pandemik yang menimbulkan budaya baru, namun tetap mengangkat tema perpajakan yang bercerita tentang kewajiban perpajakan dan insentif perpajakan yang diberikan oleh pemerintah, disampaikan dengan jelas dan penuh pengharapan.

Sungguh petualangan membaca yang sangat seru. Tanpa terasa, bagi pembaca yang menyelami buku sebanyak 280 halaman, akan selalu merasa diri mengembara dari tulisan satu ke tulisan yang lainnya.  Tanpa ada rasa bosan, bahkan ingin melanjutkan segera, sambil menantikan ada apa kejutan di tulisan berikutnya. Penyampaian yang mengalir tenang, sederhana namun tajam, lugas, realistis dan  sarat makna serta pembelajaran menjadi point penting bagi pembaca. 

Harapan dari AAA kepada pembaca buku Ku, Mu, Nya (Pajak itu milikku, milikmu dan miliknya), "semakin banyak yang membaca, semakin tersentuh hati menjadi anak negeri yang mengamankan negerinya melalui kesadaran membayar pajak."

 

Resensi

Judul                 : Ku, Mu, Nya ( Pajak itu milikku, milikmu dan miliknya)

Penulis            : Aan Almaidah Anwar, 

Penyunting   : Agus Budiman, ALdino Kurniawan, 

Penerbit           : Koperasi Pegawai Kantor Direktorat Jenderal Pajak, 

Tebal                   : 280 Halaman, 

ISBN                     : 978-623-91229-2-8