Pandemi Covid-19 telah menyebabkan masyarakat kehilangan pendapatan, terutama di wilayah perkotaan. Terbatasnya aktivitas sosial ekonomi urban mengakibatkan masifnya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) oleh perusahaan dan instansi usaha.  

Kementerian Perekonomian mencatat pada awal Juni 2020, PHK akibat Covid-19 di Indonesia telah mencapai tiga juta orang. Masyarakat kehilangan pendapatan dan angka pengangguran akan terus meningkat. Oleh karena itu, perlu ada rotasi sosial ekonomi yang dimulai dari desa sehingga pemerataan pendapatan masyarakat selama pandemi tetap stabil.

Nick Gallent (2019) berpendapat, ekonomi pedesaaan sering dianggap lamban sehingga membutuhkan moderanisasi. Masyarakat Eropa memulai moderanisasi mekanisme produksi pertanian di awal abad ke duapuluh menyebabkan berkurangnya jumlah tenaga kerja di pedesaan. Teknologi telah mengalahkan tenaga kerja manusia dan mengancam lanskap lingkungan di pedesaan. 

Namun pada akhirnya di paruh kedua abad ke duapuluh, mereka berhasil mentransformasi eknomi desa lebih produktif. Perdagangan global menjadikan peluang masyarakat Eropa dalam memanfaatkan sumber daya. Teknologi informasi yang sudah terekspansi ke penjuru desa membuat International Trade (perdagangan internasional) dengan mudah terakses ke desa secara langsung.

Kita tidak dapat menghindari mindset masyarakat desa yang masih beranggapan bahwa sumber ekonomi di urban lebih menjanjikan daripada di rural. Selama ini, stigmatisasi desa dengan eknomi yang relatif rendah membuat masyarakat lebih memilih bekerja di wilayah perkotaan.

Desa makin tertinggal karena Sumber Daya Manusia (SDM) desa terlalu bertumpu di kota. Sehingga dalam beberapa masyarakat kapitalis akhir, kematangan produksi industri menyebabkan ekstrak pendapatan kelas menengah ke atas tersentralisasi di wilayah urban. Pedesaan dikonseptualisasi sebagai lokus konsumsi daripada produksi.

Cerita di atas sedikit berbeda dibandingkan dengan Indonesia. Angka kemiskinan di desa lebih dominan daripada perkotaan. Tahun lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kemiskinan di desa mencapai 12,60%, sedangkan 6,56% lainnya dialami oleh penduduk kota. 

Angka kemiskinan setiap tahunnya mengalami penurunan yang kemungkinan besar disebabkan oleh adanya dana desa dari Kementerian Keuangan yang dimonitoring langsung Kementerian Desa dan PDTT, sehingga desa dapat menjalankan roda perekonomian melalui skema Bumdes dan Padat Karya Tunai Desa. 

Program itu sedikit mendispersi masyarakat kota ke wilayah pedesaan dengan meningkatnya jumlah pariwisata di desa. Bahkan wisatawan tidak hanya berasal dari domestik, tapi juga dari berbagai mencanegara. Kementerian Pariwisata pada Februari 2020 menyebutkan angka wisatawan dari mancanegara berjumlah 1.377.06 juta kunujungna dan mengalami penurunan sebesar 2,03 persen.

Fenomena Covid-19 kini telah mematikan laju ekonomi di perkotaan hingga sektor pariwisata di desa. Meski pemerintah telah menyiapkan panduan protokol kesehatan, peneterasi kunjungan pada wisata masih belum signifikan.

Dengan demikian, perlu ada skema baru untuk me-recovery ekonomi nasional. Untuk mewujudkan lingkungan ekonomi yang berdampak pada produktivitas dan lapangan pekerjaan perlu ada intervensi dari luar di wilayah pedesaan (Livingstone, N 2019).

Pendapat Nicolas tersebut bermaksud pentingnya keterlibatan investor baru di desa. 

Saat ini ketika kita melihat kondisi desa di Indonesia memang jarang menemukan sejumlah orang yang minat untuk berinvestasi di desa. Di sisi lain desa hanya mengandalkan subsidi dari pemerintah pusat berupa dana desa. Sehingga tidak heran jika segala eksistensi usaha yang relatif besar hanya mengandalkan dana desa.  

Kita dapat mempelajari bagaimana Covid-19 telah menghatam ekonomi tidak hanya di negara berkembang, tapi negara maju seperti Amerika, China, dan Spanyol sedang mengalami dampaknya. Bahkan beberapa hari lalu Singapur telah dinyatakan resisi. Disisi lain negera dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif rendah seperti Thailand dan Vietnam masih defensif. 

Secara hipotesis, kedua negara itu kuat dalam sektor pertanian dan perkebunan. Indonesia masih tercatat sebagai importir pangan, misalnya sayur dan buah-buahan dari Amerika dan beras yang berasal dari Vietnam. Hal tersebut membuktikan bahwa ketahanan pangan kita masih rendah, meski luas lahan baku sawah sebesar 7,36 juta hectare.

Sedikit ironis memang ketika negara agraris seperti Indoensia masih menaggatungkan komoditas pangan dari mancanegara. Kompleksitas problem ini menjadi bukti bahwa kita memang sangat kurang memperhatikan potensi sumber daya di desa. Kita telah merasakan betul bahwa efek pandemi bukan hanya mengancam pada nyawa manusia, tapi juga mematikan laju pertumbuhan ekonomi.  

Men-survive ekonomi nasional selama pandemi sangat penting dimulai dari desa. Pemerintah  dalam fokus utamanya dalam pemerataan infrastruktur di desa menjadikan peluang baru bagi investor untuk masuk ke wilayah pedesaan. Ketika konsepsi ini berjalan dengan baik, maka bukan suatu hal yang tidak mungkin jika ekonomi pedesaan akan melahirkan ruang pekerjaan baru dibandingkan wilayah perkotaan.

Keberadaan etonomi daerah harus dimanfaatkan oleh pemerintah desa untuk menjalin kerjasma baik dengan korporasi atau dengan inverstor individu. Jika hal tersebut termanifestasi, maka tidak heran jika dari sekarang dan sampai tahun berikutnya ruralisasi akan membagkitkan human capital (modal manusia) baru di desa.

Desa Adalah Jantung Kehidupan Manusia!