" Laki-laki masa nangis, dasar cengeng".

" Jadi laki-laki itu harus kuat, jangan kemayu ".

" Anak laki-laki kok suka warna pink, gak banget deh ".

Kalimat di atas adalah contoh norma yang kerap ditanamkan kepada laki-laki, bahkan masih sering kita dengar hingga saat ini. Laki-laki dianggap laki-laki jika tidak cengeng, kuat, tidak bermain boneka atau tidak menyukai warna pink karena dianggap sebagai warna identik perempuan.

Secara umum, sejak usia dini secara turun temurun kita sering kali diperlihatkan dan ditanamkan nilai bagaimana semestinya menjadi laki-laki yang " ideal " oleh keluarga dan lingkungan/pergaulan sosial. Tampaknya nilai tersebut akhirnya dianggap sebagai doktrin baku yang dijadikan model standar memperlakukan laki-laki. 

Dalam pengamatan saya, doktrin tersebut semakin subur. Meskipun kita tahu bahwa doktrin bisa berubah dan dapat diperbaharui jika tidak sesuai dengan kondisi dan konteksnya tetap saja akan ada gejolak penolakan disertai alasan-alasan pembenarnya, jika kita ingin mengubahnya. 

Tanpa disadari, doktrin tersebut menjadi pola pikir dan pengetahuan umum. Hasilnya, ketika kita menjumpai perilaku laki-laki tidak sesuai dengan doktrin maka sangat rentan mengalami perundungan psikologis atau bahkan pembedaan-pembedaan perlakuan. 

Sebagai laki-laki saya juga pernah sedih, pernah menangis dan dicap cengeng karena dianggap tidak sesuai dengan "pakem" bagaimana seharusnya menjadi laki-laki. Namun, di sisi lain akan ada permakluman jika yang menangis perempuan. Dari sinilah istilah maskulinitas (kelelakian) mulai menjadi diskursus hangat.

Menurut Kimmel dan Aronson, (2002) maskulinitas merupakan konsep tentang peran sosial, perilaku dan makna-makna tertentu yang dilekatkan pada laki-laki diwaktu tertentu. 

Cara pandang maskulinitas yang kerap diandaikan oleh konsep patriarki telah menyebutkan bahwa laki-laki sebagai pemilik otoritas, juga telah menimbulkan persoalan baru di kalangan laki-laki. Konsep maskulinitas juga telah melahirkan " gap " di kalangan laki-laki. Akibatnya, laki-laki juga rentan mengalami perlakuan tidak adil (stigma) sebagaimana yang lebih sering dialami oleh perempuan.

Menurut pendapat saya, apa yang dialami laki-laki merupakan bagian dari " racun " konsep maskulinitas yang perlu di eliminasi oleh kalangan laki-laki agar laki-laki juga belajar menghargai dirinya sendiri dan bisa memperlakukan dirinya dengan bijak. 

Saya menyadari bahwa hal ini tidaklah mudah untuk diubah begitu saja. Namun saya juga percaya jika ada kemauan pasti ada jalan dan metode. Bagi yang memiliki kemauan melakukan pendampingan, maka dapat mengintervensi langsung terhadap penerima manfaat baik secara luring maupun daring. Bagi laki-laki sendiri tampaknya  perlu mulai belajar mengurangi penggunaan kalimat-kalimat yang justru kontraproduktif (melanggengkan konsep maskulinitas). 

Saat ini sudah ada sebagian besar laki-laki yang menyadari bahwa " gap " tersebut telah mengakibatkan ketidakadilan terhadap laki-laki. Jika ketidakadilan tersebut dibiarkan, maka laki-laki juga rentan mengalami " penindasan "; baik secara seksual, fisik, psikis, verbal dan non verbal serta secara sosial. Contohnya begini, karena ada mitos yang menyebutkan bahwa laki-laki tidak boleh lemah maka dipaksa minum obat kuat. Karena ada anggapan yang menyebut laki-laki sebagai pencari nafkah maka harus bekerja. Nahasnya, hal ini direproduksi terus-menerus dan bahkan mendapatkan pembenaran. 

Memang, datanya menunjukkan bahwa laki-laki penyintas lebih sedikit dibandingkan dengan perempuan. Namun bukan berarti keadaan laki-laki baik-baik saja. Menurut saya, dalam konteks ini laki-laki juga membutuhkan pendampingan agar berani bicara mengungkapkan perasaannya secara jujur.

Munculnya all male panel dalam diskusi-diskusi daring di masa pandemi covid-19 seperti sekarang ini merupakan contoh nyata yang tidak mudah untuk dibantah. 

Racun maskulinitas sesungguhnya hadir sebagai bentuk penggambaran bahwa secara emosional laki-laki juga dikekang akibat adanya standar nilai menjadi laki-laki ideal sebagaimana yang dipahami oleh sebagian besar masyarakat. Tuntutan terhadap laki-laki harus kuat, rasional, tahan banting, anti galau, dominan, dan tidak boleh kalah justru memberikan tekanan psikis luar biasa terhadap laki-laki.

Kita mengenal istilah " gengsi " ketika seorang laki-laki mencoba mengungkapkan perasaannya ketika merasa sedih dan ingin segera menangis. Akan tetapi yang biasanya terjadi adalah cenderung belum berani terbuka akibat dari stereotip yang terlanjur tumbuh di lingkungan kehidupan sosial masyarakat. Laki-laki yang berani secara terbuka mengekspresikan perasaan biasanya akan dianggap tidak kuat atau bahkan tidak berdaya.

Sebenarnya jika seorang laki-laki yang sedang galau lalu menangis merupakan perasaan alamiah yang bisa dialami oleh setiap manusia. Akan tetapi alam pikiran konsep maskulinitas melihatnya sebagai sesuatu yang tidak pantas, atau bahkan buruk.

Suzannah Weiss dalam tulisannya 6 Harmful Effect of Toxic Masculinity sebagaimana dikutip oleh Melisa Nirmala Dewi dalam Membebaskan Diri dari Kekangan  Maskulinitas telah menyebutkan bahwa  akan ada efek yang tidak baik ketika laki-laki dipaksa bertahan dalam standar maskulinitas.

Pertama, laki-laki rentan menjadi pelaku kekerasan. Kedua, minimnya kesadaran untuk meminta bantuan (baca pertolongan) kepada orang lain. Dampaknya, laki-laki akan menutupi perasaan sedihnya dengan cara lain agar tampak tidak ada masalah apapun agar terlihat baik-baik saja.

Tampaknya, laki-laki juga perlu belajar untuk menjadi individu yang mempraktikkan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan agar menjadi kebiasaan "baru" sebagai suatu upaya mengurai efek rentannya  konsep maskulinitas.

Meskipun kita mengetahui bahwa menjadi laki-laki yang " dikelilingi " oleh konsep patriarki juga tidak mudah. Namun hal ini tidak perlu kita jadikan alasan menyuburkan praktik-praktik anti kesetaraan.

Sebagai laki-laki saya tidak perlu berpikir tentang pentingnya kesetaraan. Karena saya meyakini satu hal bahwa laki-laki memang setara dengan perempuan, yaitu sebagai sesama manusia.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai wujud upaya mengeliminasi konsep maskulinitas, yaitu; Menggeser paradigma tentang keterlibatan laki-laki dalam "melawan" kekerasan. Jika laki-laki sebelumnya ditempatkan pada pihak yang jarang dilibatkan dalam proses-proses pencegahan, kini saatnya laki-laki juga perlu aktif dalam melakukan kampanye.

Pelibatan laki-laki dapat dimulai dari mengikutsertakan mereka dalam forum-forum diskusi pencegahan kekerasan dari tingkat individu, keluarga maupun kelompok . Hal ini menjadi catatan penting bagi organisasi, lembaga pemerintah dan lainnya untuk mengintegrasikan isu keadilan dan kesetaraan gender dalam setiap rancangan programnya.

Keterlibatan laki-laki dalam mereduksi konsep maskulinitas agaknya menjadi indikator keberhasilan agar terbebas dari " kungkungan " konsep turun temurun yang terbukti merugikan sebagian kalangan laki-laki. Laki-laki tampaknya juga perlu mulai berpikir untuk menerima konsep isu keadilan dan kesetaraan yang mengajarkan konsep negoisasi dan " menolak " pembedaan peran berdasarkan jenis kelamin biologis.

Munculnya kelompok " herbivora men " di Jepang yang menentang konsep maskulinitas dan lahirnya gerakan Aliansi Laki-laki Baru (ALB) di Indonesia yang bertujuan melibatkan laki-laki dalam melawan kekerasan berbasis gender seyogianya disambut dengan sukacita sebagai bentuk dukungan terhadap mereka. Dengan begitu, konsep maskulinitas bisa dikurangi atau bahkan hilang. Semoga. Wallahu a'lam.