Karyawan Swasta
1 minggu lalu · 37 view · 3 menit baca · Ekonomi 89403_42231.jpg

Menggali Potensi, Mencipta Ekspansi

Potensi itu mendatangkan bisnis, dan memiliki sebuah bisnis merupakan kebanggaan setiap orang, apalagi dengan hasil yang menjanjikan dan menguntungkan.

Banyak orang ingin berbisnis. Tetapi, sebelum memulainya, kadang menemukan kendala, antara lain faktor modal dan bagaimana cara menjalankan bisnis tersebut.

Jika kita sudah punya rencana untuk berbisnis, sebagai calon pengusaha, pantang untuk membatasi kreativitas. 

Perlu diingat bahwa, di luar sana, masih banyak orang yang mempunyai daya saing sedang berjuang untuk mengejar ketertinggalannya. Untuk itu kita harus mencari peluang yang sekiranya dapat mendukung niat berbisnis itu sendiri.

PT Indah Kiat & Pulp & Paper Tbk Serang, sebuah perusahaan yang menjalankan roda bisnis industri kertas, melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) di bidang pemberdayaan masyarakat, memberikan kesempatan kepada masyarakat sekitar perusahaan yang memiliki potensi sesuai dengan sasaran program yang dijalankan, yaitu pembuatan mebeler. 

Produk yang dihasilkan berupa meja dan kursi belajar. Semua ini akan didistribusikan ke sekolah-sekolah dasar sekitar Kragilan.

Menggunakan bahan baku kayu bekas peti kemas mesin dan spare part impor, pembuatan mebeler semula dikerjakan oleh karyawan sendiri. Namun, seiring bertambahnya permintaan produksi mebeler, pihak perusahaan keteteran. Akhirnya manajemen memutuskan untuk bekerja sama dengan pihak ketiga.

Selama pencarian vendor, pengrajin kayu asal Ciruas, Serang yang bernama Herman (36 tahun) dan kawan-kawan mencoba keburuntungan dengan mendaftarkan diri sebagai calon vendor yang akan bekerja sama dengan Indah Kiat Serang untuk pembuatan mebeler. Namun karena ada salah satu kriteria yang tidak terpenuhi, saat itu mereka tidak lolos seleksi.

Otak cemerlang Herman tidak mentok sampai di situ. Saat diberi kesempatan untuk berkunjung ke lokasi mebeler yang berada di dalam lingkungan perusahaan, dia melihat proses pembuatan mebeler tersebut menghasilkan limbah berupa potongan-potongan kayu yang berserakan di sekitar lokasi. 

Dari potongan kayu itulah muncul ide yang tak disangka-sangka dan langsung diutarakan ke Dani Kusumah, selaku Humas PT Indah Kiat Serang, yang saat itu sedang mendampingi kunjungan tersebut.

"Pak Dani, limbah potongan kayu ini mungkin terlihat tidak berharga dan akan menjadi sampah. Tetapi bagi saya ini emas,” ucap Herman yang tanpa disadari sontak membuat Dani sedikit tercengang. 

Herman mengutarakan idenya bahwa dia dan kawan-kawannya mampu menciptakan sesuatu yang berharga dari sampah tersebut.

Merasa tertantang, Dani ingin membuktikan apa yang dikatakan Herman bukan sekadar ucapan sombong dari seseorang yang kalah tender. Atas kesepakatan bersama, akhirnya potongan-potongan kayu sisa mebeler itu diperbolehkan dibawa pulang oleh Herman untuk dibuat hasil karya bersama kawan-kawan yang lainnya.

Beberapa hari setelah itu, Herman kembali datang menemui Dani dengan membawa janjinya. Sebuah hasil karya dari bahan limbah potongan kayu berupa sangkar burung yang dihiasi dengan ornamen seni yang khas Banten.

Karyanya itu bisa menghipnotis Dani dan manajemen Indah Kiat Serang. Mereka mengakui bahwa Herman dan kawan-kawan memiliki potensi yang luar biasa.

Di balik profesinya sebagai pengrajin kayu yang biasa membuat kusen dan peralatan mebeler lainnya, ternyata mereka mampu menciptakan suatu karya seni yang bernilai, dengan tingkat kesulitan dan kecermatan yang tinggi.

Sejak saat itu, terjalinlah kerja sama antara pihak perusahaan Indah Kiat Serang dengan CV milik Herman dan kawan-kawan untuk pembuatan cendera mata dari bahan kayu, seperti bingkai foto, miniatur khas Banten, tempat tisu, tempat bolpoin, dan lain-lain.

Sebagai permulaan, cendera mata tersebut digunakan untuk keperluan souvenir bagi tamu perusahaan yang berasal dari customer maupun pemerintah. Herman hanya bermodalkan tenaga kerja saja. Selebihnya, untuk bahan baku dan material lainnya, di-support oleh Perusahaan. Sedangkan barang yang dibuat untuk perusahaan tetap dibayar.

Menjadi rekanan perusahaan besar seperti PT Indah Kiat Serang tentunya akan menaikkan pamor badan usaha milik Herman dan kawan-kawan. Untuk itu perlu nama yang diresmikan agar dapat lebih dikenal lagi di masyarakat luas maupun pemerintah agar dapat memperluas pasar.

Berdasarkan nama-nama yang diajukan ke pihak Perusahaan, maka lahirlah CHIP (Cipta Handycraft Inovation Product) yang resmi berdiri pada 2017 silam. Dengan total 15 orang personel, 8 d iantaranya adalah tenaga pengrajin dan sisanya bagian dokumentasi, pemasaran, editor, dan media sosial.

Berkat keberanian ekspansi yang diciptakan dapat menggali lebih dalam potensi yang dimiliki sebelumnya, saat ini CHIP sudah lumayan terkenal bahkan kebanjiran orderan. Sehingga usaha awalnya yang sebagai pengrajin kusen kayu dan perlengkapan mebeler sudah benar-benar ditinggalkan dan fokus untuk pembuatan cendera mata dari limbah kayu.

“Tentu saja ini lebih menjanjikan, karena omset pekerjaan yang dulu selama satu tahun, sekarang bisa dihasilkan dalam waktu satu bulan saja,” papar Herman.