Mahasiswa
2 bulan lalu · 58 view · 5 menit baca · Wisata 14788_77523.jpg

Menggali Inspirasi di Fatumnasi Nusa Tenggara Timur

Rekreasi adalah kebutuhan hidup setiap manusia. Rekreasi membuat orang mampu berinovasi dan berkreasi. Sejatinya rekreasi adalah mencipta kembali (re-creation). 

Bentuk rekreasi dengan mengunjungi destinasi wisata alam telah menjadi pola yang cukup trending di kalangan masyarakat, terutama para pencinta alam. Pola ini memicu beragam bentuk pemberdayaan dan pengembangan wisata yang menyajikan nilai estetik, unik, informatif pun pula edukatif. 

Rekreasi tidak hanya sebatas pemuas rasa penat setelah bertualang dalam carut-marut kesibukan, tetapi memberikan suatu pandangan baru yang berdaya inspiratif, informatif, kreatif dan transformatif. Inilah nilai lebih yang mesti dimiliki dan ditawarkan setiap destinasi wisata.

Dalam artikel ini, saya mengangkat sebuah destinasi wisata alam yang kini cukup digandrungi masyarakat dan bahkan dijadikan prioritas kunjungan wisata pada hari-hari libur, terutama untuk masyarakat di daerah Nusa Tenggara Timur, khususnya Kabupaten Timor Tengah Selatan. 

Tempat wisata tersebut adalah daerah Fatumnasi yang menghadirkan hamparan padang hijau yang luas dengan balutan pohon-pohon Kasuari (Casuarina equisetifolia), Ampupu (Eucalyptus urophylla) dan kebun Bonsai  yang telah berumur ratusan bahkan ribuan tahun.

Sekilas informasi, Fatumnasi atau dalam bahasa masyarakat setempat, yakni bahasa Dawan, berarti Batu Tua. Arti nama ini diterjemahkan dari dua kata, yakni Fatu yang berarti Batu dan Mnasi yang berarti Tua


Nama ini pun diambil dari sebuah gunung batu yang kokoh berdiri di daerah itu. Daerah Fatumnasi dapat dijangkau sekitar 2 jam perjalanan dari kota So’e, Ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Hal yang membuat perjalanan ke Fatumnasi ini menjadi unik dan menarik adalah geografi alam yang berkelok-kelok ditemani kabut dan kesegaran udara pegunungan yang alami dan bebas polusi. Sepanjang sisi jalan, pengunjung disuguhi tetumbuhan Kasuari, Ampupu dan Bonsai serta padang sabana menghijau permai layaknya bidadari yang sedang menanti kedatangan para pencari inspirasi.   

Tidaklah berlebihan jika dalam sekali pandang, suguhan alamnya memuncah ketakjuban. Letak daerah ini berada sekitar 2400 mdpl dan berdekatan dengan gunung kebanggaan masyarakat pulau Timor, yakni gunung Mutis. 

Perpaduan padang luas nan hijau permai, tetumbuhan langkah berusia ratusan bahkan ribuan tahun, pesona kokoh bebatuannya serta semilir angin Mutis yang mempesona nubari membuat setiap insan berdecak kagum pada kepolosan dan kemurnian permata tanah Mollo ini.

Fatumnasi tidak unggul semata-mata karena pesona alam yang memukau mata. Keluhurannya juga karena keaslian budaya lokal masyarakat setempat yang terawat hingga kini. Masyarakat hidup berdampingan dengan alam. 

Tradisi lokal masyarakat Fatumnasi sungguh bernada alamiah. Filosofi kehidupannya dibangun dalam relasi dengan lingkungan hidup yang dipandang sebagai manusia dan ibu yang menyusui. 

Ada satu ungkapan mereka yang menarik, Fatu, Nasi, Noel, afu amsan a’fatif neu monit mansion (batu, hutan, air dan tanah bagai tubuh manusia). Bagi mereka, air adalah darah, batu adalah tulang, tanah adalah daging dan hutan adalah kulit, paru-paru dan rambut. Filosofi inilah yang melahirkan kecintaan dan kepedulian pada pelestarian alam. 

Di Fatumnasi, wisatawan belajar peduli pada alam bukan dengan logika budi tapi dengan logika hati.

Wisata alam Fatumnasi bukanlah suatu konsep pariwisata konvensional yang sering kali dibumbui beragam kepentingan kapital belaka. Fatumnasi menghadirkan wisata berbasis kesadaran masyarakat yang kental akan tradisi penghormatan pada alam serta filosofi alam yang dihidupi turun-temurun. 

Ketika di berbagai tempat wisata alam sekadar dijadikan objek, justru di Fatumnasi alam dan kultur masyarakat menjadi ruang rekreatif dan edukatif. Inilah yang jarang dijumpai saat ini. 


Di lain pihak, salah satu kekuatan masyarakat Fatumnasi dalam merawat alam, yakni kelembagaan adat yang teguh dijalankan. Fungsi pemerintahan adat tidak semata-mata mengatur relasi hidup antarmanusiam tetapi juga antara manusia dan alam.

Jabatan adat paling strategis dalam mengatur tata kehidupan manusia dan alam ialah Usif atau penguasa. Salah satu peran penting yang diemban oleh Usif adalah membuat aturan untuk melindungi sumber daya alam dan kepemilikannya. 

Selain Usif, ada pula Meo atau penglima perang yang bertugas untuk menjaga wilayah dengan segala sumber kekayaan alam. Inilah yang menjadi kekuatan utama sebuah wisata alam. Alam terintegrasi dengan tatanan hidup dan kultur masyarakat setempat,   

Fatumnasi bukan sekadar basa-basi. Fatumnasi dengan keindahan alam warisan leluhur sungguh melahirkan inspirasi. Terhitung dari dari 100 wisatawan yang berkunjung ke Fatumnasi, 60 persen di antaranya berasal dari Eropa seperti Italia, Jerman, Belanda, Spanyol dan Belgia. Apa yang dicari para wisatawan asing ini kalau bukan keaslian budaya yang masih dipertahankan serta dukungan dari lingkungan alam yang masih natural. 

Hidup berdamping antara manusia dan alam inilah yang memberi nilai lebih pada sebuah wisata alam. Tak sekadar nilai estetis yang ditampilkan, tetapi nilai-nilai luhur, yakni menghormati, merawat, dan melestarikan alam yang tewujud juga di dalam tradisi hidup.   

Di Fatumnasi, wisatawan tidak hanya terpuaskan sebatas wilayah mata, tapi juga akal budi yang berfantasi dengan jejak alam dan hati nurani yang berimajinasi dengan kultur luhur mulia. Kesuburan dan kelestarian alam menjadi kegembiraan tersendiri bagi masyarakat Fatumnasi. 

Itu terungkap tatkala tiba masa membuka lahan pertanian atau saat musim panen. Selalu ada ritual adat yang dibuat salah satunya ritual larangan menebang pohon atau dalam bahasa setempat disebut Na fae Haub. Alam selalu menyediakan maka adalah kewajiban manusia juga untuk merawat alam.

Fatumnasi menghadirkan beribu misteri alam dan budaya yang tak habis digali dan dijadikan inspirasi. Boleh jadi ada beribu wisata alam di Indonesia ini, tapi yang disuguhkan Fatumnasi hanya satu-satunya dan unik. 

Keunikannya terletak pada kehidupan alam dan manusia yang menyatu. Kemewahan alam Fatumnasi adalah sentuhan tangan tak terlihat, Tuhan Yang Maha Kuasa. Dari masyarakat setempat, wisatawan diinspirasi untuk hidup berdampingan dengan alam bukan semata objek pemuas kepentingan diri sendiri, tapi alam dilihat sebagai manusia dan ibu yang menyusui.

Fatumnasi mengajarkan bahwa alam selalu menjadi tempat paling alamiah untuk berkaca tentang hidup dan terutama berjumpa dengan Sang Pencipta. Inilah kekuatan alam dan masyarakat Fatumnasi yang sungguh menginspirasi bukan semata karena infrastruktur pariwisata yang mumpuni tapi karena sentuhan hati Ilahi yang suci murni. 


Fatumnasi hadirkan inspirasi level insani juga ilahi. Dan persis Fatumnasi memenuhi bahkan melampaui syarat pariwisata yang tak sebatas rekreatif, tapi juga berdaya inovatif, kreatif, edukatif dan transformatif.

Seindah apa pun goresan pena tentang cerita Fatumnasi, selalu ada yang tak mampu dijelaskan sebatas kata-kata. Datanglah ke Fatumnasi, biarlah alam dan masyarakatnya yang bercerita dari bunyi yang sunyi. 

Biarlah telinga-telinga dibisiki semilir angin gunung Mutis yang memesona nan misterius. Dan biarlah mata terbuka untuk menjejaki tradisi leluhur turun-temurun. Alam asri nan indah permai sedang menantimu. Ayo!

Artikel Terkait