Student
2 tahun lalu · 212 view · 5 menit baca · Buku kesaksian_kisah_perlawanan_mahasiswa_uty_-_sampul.jpg

Menggagas Ruang Publik dalam Dunia Pendidikan

Resensi Buku "Kesaksian: Kisah Perlawanan Mahasiswa UTY"

“Tak ada yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran.” - Soe Hok Gie -

Ruang publik adalah ruang di mana gagasan bisa bersenyawa dengan lingkungan sekitarnya, tempat di mana ia ditebar dan menyebar. Ruang publik adalah kondisi yang memungkinkan tiap-tiap individu mampu menyemai gagasan-gagasannya, serta menjamin segala bentuk kebebasan sebagai potensi hidupnya. Ya, inilah ruang yang tak secuil pun dikehendaki untuk tidak mewujud, bahkan ketika ada pihak yang berusaha menafikan atau meniadakannya, serta merta akan dilawan dengan segala kesungguhan perlawanannya.

Memang, tak seorang pun yang menghendaki kebebasannya dikekang. Melalui ruang publik, kemungkinan akan teranulirnya kebebasan sangatlah besar. Sebab begitulah manusia dengan fitrah kemanusiaan yang ada pada dirinya.

Termasuk di dunia pendidikan, ruang publik adalah hal yang sangat dibutuhkan melebihi apa pun. Ini tidak hanya semata sebagai wadah untuk menampakkan eksistensi manusia sebagai manusia atau mahasiswa sebagai mahasiswa, melainkan lebih sebagai upaya memberi asupan hidup bagi esensi atau kodratnya, sebagai manusia, sebagai mahasiswa.

Buku kecil yang ditulis oleh Maman Suratman, yakni Kesaksian: Kisah Perlawanan Mahasiswa UTY, sebagai pemantik, juga bisa dikatakan sebagai upaya menggagas ruang publik dalam dunia pendidikan. Berbagai wacana yang terlontar di dalamnya, terang adalah upaya menghadirkan ruang publik, yakni wajah pendidikan yang demokratis, sistem kebijakan yang inklusif, ada untuk semua golongan.

Saya kira, inilah tuntutan mulia yang coba Maman hadirkan melalui secercah kisah perlawanan rekan-rekan mahasiswa di Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) terhadap sistem kebijakan kampusnya yang dirasa tidak bersahabat lagi.

Belajar dan Berjuang

Sebagai mahasiswa, tentu mereka punya harapan dan cita-cita besar untuk kelak bisa berpartisipasi dalam pembangunan peradaban bangsa. Mereka belajar sekaligus berjuang, semata untuk mengkader dirinya sebagai calon penerus cita-cita Nusantara ke depan: berkeadilan sosial bagi semua.

Dalam mengkader diri dan sesamanya, tak jarang memang beberapa hambatan akan dilalui. Pengorbanan seolah menjadi konsekuensi logis dalam sebuah perjuangan. Meski demikian, ini bukan berarti harus menciutkan nyali, melainkan harus lebih memantapkan posisi mahasiswa sebagai sang agen perubahan.

“Mei Berdarah” adalah frasa yang mungkin paling tepat menggambarkan peristiwa yang pernah dialami rekan-rekan mahasiswa UTY. Atas nama pendidikan, mereka berusaha merebut hak asasi yang dirasa telah dirampas oleh kebijakan. Dan atas nama kebebasan, mereka menggagas ruang publik dari cemarnya dunia pendidikan yang telah disalah-arahkan.

Ya, tentu ada saja hambatan-hambatan dalam pengupayaannya. Hambatan-hambatan seperti pengorbanan tentu akan ada saja dalam setiap perjuangannya. Sebagaimana dialami mahasiswa UTY, hambatan-hambatan mereka lalui bersama. Pengorbanan pun mereka berikan tanpa rasa takut dan kehilangan. Begitulah perjuangan mereka yang berhilir tidak hanya pada kekerasan fisik, melainkan juga intimidasi moral serta sanksi keras berupa D.O. dan skorsing.

Meski peristiwa tersebut menjadi kenangan pahit di antara mereka, tetapi tekad dan semangatnya tak pernah redup. Bahkan mundur selangkah pun tak pernah jadi prinsip. Bagi mereka, menjadi pengecut bukanlah niatan. “Jangan jadi pecundang, jadilah pejuang yang menjelmakan dirinya sebagai martir perubahan,” demikian tulis Maman dalam buku yang ia sebut sebagai goresan kecil itu.

Kesaksian: Kisah Perlawanan Mahasiswa UTY adalah catatan/goresan kecil yang lahir dari ruang pertarungan gagasan. Baik dari pertarungan gagasan penulisnya sendiri atas realitas yang dihadapinya, maupun pertarungan gagasan antara mahasiswa UTY dengan sistem kebijakan kampusnya yang Maman jadikan sebagai objek dari tulisannya.

Hematnya, hampir tak ada ide yang benar-benar lahir dari ruang kosong nan hampa. Begitulah saya menilai buku kecil ini dengan segala dinamika persoalan di dalamnya.

Sesuai dengan judul bukunya, Maman berusaha menceritakan kisah-kisah heroik sekelompok mahasiswa UTY. Dengan nada-nada yang sedikit “nakal”, Maman berkisah bagaimana para mahasiswa UTY kala itu berjuang tiada lelah melawan arus deras kebijakan kampusnya. Bagaimana mereka kala itu merespon realitas kampus yang dirasa sarat dengan pelanggaran-pelanggaran akademik di dalamnya yang itu seolah mendarah-daging di tubuh sistem pendidikan UTY sendiri.

Beberapa pelanggaran akademik yang dimaksud, sebagai misal, kenaikan biaya perkuliahan yang sama sekali tak bersinergi dengan peningkatan mutu pendidikan; kurikulum yang amburadul; tempat belajar yang tak kondusif; hingga para tenaga pengajar yang minim pengetahuan.

Belum lagi, melambungnya ongkos-ongkos kesehatahan yang justru semakin mencekik mahasiswa di tiap semesternya. Dan yang paling fatal adalah pelarangan organisasi ekstra di lingkungan kampusnya (hlm. 8). Semua Maman utarakan sebagai titik berangkat perjuangan mahasiswa UTY, sekaligus menjadi alasan logis mengapa mereka harus melawan.

Ya, siapapun tentu akan marah, berontak, dan melawan realitas yang tak berjalan sebagaimana harusnya—hanya yang gila yang mungkin tidak akan demikian. Ketika kita menghendaki apa yang seharusnya terjadi, sedang realitas melulu menjawabnya dengan wajah dan rupa yang berbeda, apalagi bertolak-belakang, maka di sanalah perlawanan kita atasnya itu harus muncul. Tanpa perlu pembuktian apa-apa lagi, sejarah telah memperlihatkan itu semua, termasuk apa yang telah Maman tulis sendiri dalam goresan kecilnya tersebut.

Tetapi satu yang mungkin perlu dicatat di sini adalah bahwa sebagai penulis, Maman sama sekali tak ada niatan untuk menebar kebohongan, menjatuhkan nama baik seseorang, kelompok atau institusi tertentu, apalagi pamer diri. Dalam prakata yang ditulisnya, Maman hanya hendak memperlihatkan kepada dunia betapa tirani dan penindasan itu ada di mana-mana. Tak hanya dalam kehidupan berskala besar seperti negara, melainkan juga di dunia pendidikan (mahasiswa) sekalipun yang semestinya tidak boleh ada (hlm. viii).

Mencari Alternatif

Sebenarnya, apa yang dikehendaki mahasiswa UTY kala itu hanyalah bagaimana menghadirkan wajah pendidikan yang demokratis, berkualitas, lagi melatih bagaimana cara mengabdi pada masyarakat, tidak sekadar kepada dunia kerja.

Tentu saja, ini bukan semata kewajiban lembaga pendidikan seperti UTY, melainkan sudah menjadi hak masing-masing warga negara tanpa kecuali yang memang telah diamanatkan dalam konstitusi negara dan Tri Dharma Perguruan Tinggi itu sendiri. Karenanya, dengan atau tanpa perjuangan atau tuntutan sekalipun, sudah seharusnya-lah kondisi yang demikian itu ada.

Lagi-lagi sayang, fakta selalu menjawabnya dengan nada yang berbeda. Karenanya, berangkat dari beberapa persoalan di lingkungan kampus, Maman menilik bagaimana upaya para mahasiswa UTY membentuk suatu wadah tertinggi kemahasiswaan, yakni Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Tujuan dari pembentukan wadah ini tak lain sebagai penampung suara mahasiswa, sebagai media penyalur aspirasi mereka ke pihak pengelola kampus. Karena memang, seperti yang dicatat oleh Maman sendiri, tak ada satu pun wadah yang bisa menaungi dan membawa aspirasi mahasiswa ke tingkat elit (para pengambil kebijakan kampus). Jikapun ada, paling sebatas nama tanpa peran. Alhasil, kampus dengan kebijakannya semakin leluasa memainkan peran sebagai penentu absolut (hlm. 7).

Bukankah kampus itu ibarat negara? Dalam negara, rakyatlah yang berkuasa. Mereka berhak menentukan setiap pengambilan keputusan apa yang harus diambil di dalam pengelolaannya. Mereka berhak menolak atau tidak, berhak menerima atau tidak, semua tergantung dari apa yang menjadi kepentingan dan kebutuhannya.

Nah, begitupun dalam dunia kampus. Sekalipun swasta, yang memang punya otoritas tersendiri dalam mengelola dan mengarahkan pendidikan dan sistemnya, tetap saja tidak dibenarkan untuk menyalahi fungsi pendidikan. Apalagi, sebagaimana kita ketahui, mahasiswalah sebagai pihak yang paling berkepentingan di dalamnya. “Ingat! Manusia bukan robot! Mahasiswa bukan sapi perahan!” tegas Maman.

Apa yang saya rangkum ini, bukanlah hendak menghadirkan rasa romantisme belaka atas perjuangan mahasiswa UTY yang Maman kisahkan dalam bukunya. Ya, kita semua (terutama saya sendiri) rindu pada kejujuran. Kita rindu pada keterbukaan, rasa keadilan, dan kita rindu pada keberanian moral sebagaimana Maman suguhkan kepada kita.

Tentunya, kerinduan-kerinduan semacam ini yang harus memacu kita untuk melihat jauh ke depan. Bahwa hidup dan masa depan hanya akan kita raih dengan sebuah perjuangan. Orang-orang yang hanya hidup dari harapan-harapan hanya akan melahirkan frustasi berkepanjangan. Harapan itu penting, tapi perjuangan untuk meraihnya adalah tujuan hidup yang sesungguhnya!

Judul              : KESAKSIAN: Kisah Perlawanan Mahasiswa UTY
Penulis           : Maman Suratman
Pengantar      : Wahyu Minarno
Penerbit         : Human-Liberty & Philosphia Press
Tahun             : Yogyakarta, Cet. I, 2015
Tebal              : 143 hlm; 14 x 20 cm
ISBN               : 978-602-7275-2-5