Kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah menurut Bank Dunia (World Bank). Adapun menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. 

Penyebab dari hasil survei tersebut tidak lain adalah karena kurang meratanya peningkatan kualitas pendidikan yang dilakukan pemerintah untuk seluruh wilayah di Indonesia.

Salah satu upaya yang telah dilakukan pemerintah, yaitu reformasi pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Harapan kepada program ini adalah tidak hanya diterapkan dengan maksimal di kota-kota besar dengan fasilitas yang wah, namun juga di daerah 3T yang bahkan untuk menuju sekolahnya saja harus menempuh medan yang sulit.

Kita telah mengetahui bahwa pendidikan merupakan kunci untuk menuju masyarakat yang berwawasan luas dan cerdas. Pendidikan mampu mengubah derajat seseorang menjadi lebih baik. 

Generasi muda penerus bangsa yang mampu bekerja cerdas dapat terlahir melalui pendidikan yang memiliki kualitas baik. Sehingga inovasi dalam dunia pendidikan di Indonesia sebenarnya sangat diperlukan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, menilai aspek pendidikan Indonesia perlu menambahkan lima kompetensi yang dimiliki oleh peserta didik. Adapun kelima kompetensi tersebut dianggap sebagai modal yang sangat dibutuhkan untuk siap bersaing dalam menghadapi tantangan di tahun-tahun yang akan datang. 

Lima kompetensi yang disebutkan mencakup kemampuan berpikir kritis, memiliki kemampuan kreatif serta inovatif, keterampilan berkomunikasi yang baik, kemampuan bekerja sama, dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi.

Namun melihat hasil dari reformasi pendidikan yang terjadi saat ini, sepertinya bertolak belakang dengan lima kompetensi yang dijabarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Sistem pendidikan di Indonesia saat ini bisa dikatakan kaku dan sentralis yang mana menghambat siswa, guru maupun sekolah untuk memiliki kemampuan kreatif serta inovatif.

Salah satu contoh penghambat kreativitas akibat reformasi pendidikan, yaitu pada aspek kurikulum yang mana sekolah tidak memiliki andil yang cukup besar dalam merancang kurikulum yang akan mereka terapkan nantinya. Hal tersebut membuat sekolah tidak bebas untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing sekolah.

Sekolah tidak memiliki wewenang yang cukup untuk merancang kurikulum yang membuat guru seperti budak birokrasi. Apalagi guru di Indonesia belum sepenuhnya mendapatkan penghargaan yang sebanding dengan tugas mereka untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa. 

Hal itu membuat guru kehilangan kreativitas dan inovasi yang menyebabkan mereka dapat bersikap apatis dan menurunnya etos kerja. Sehingga para guru tidak maksimal dalam menjalankan tugasnya dan itu berdampak pula pada kualitas peserta didik.

Banyak pertanyaan yang muncul mengenai keuntungan dari reformasi pendidikan yang sedang berlangsung saat ini. 

Apakah benar dengan adanya reformasi pendidikan maka kualitas dari pengenyam pendidikan dan tenaga pendidik mampu menjadi dan melahirkan generasi yang unggul? Atau malah program ini menghasilkan hal yang sebaliknya? 

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan terus diutarakan hingga benar nantinya memiliki hasil yang memuaskan bagi semua pihak.

Apa Reformasi Pendidikan Benar Efektif?

Membicarakan masalah keefektifan dari reformasi pendidikan, tentu akan selalu ditemukan kekurangan dan kelebihan. Tentu saja kita harus berfokus pada kekurangan yang ditimbulkan dari reformasi pendidikan agar tidak menjadi kendala karena tidak segera diatasi.

Salah satu contoh dari reformasi pendidikan yang telah diterapkan saat ini adalah e-learning. Jika ditinjau lebih lanjut, e-learning akan memberikan hasil yang sangat baik apabila dapat termanfaatkan dengan baik. E-learning memberikan manfaat kepada peserta didik dan tenaga pendidik untuk belajar didukung dengan kecanggihan teknologi.

Namun, di balik keuntungan dari e-learning, terdapat kelemahan yang masih sulit untuk diatasi. E-learning yang memanfaatkan kecanggihan teknologi memerlukan koneksi internet yang memadai. Hal ini tentu akan menjadi masalah di beberapa wilayah, khususnya daerah 3T di Indonesia.

Kelemahan dari e-learning juga akan berakibat pada tidak meratanya sistem pendidikan di Indonesia. Saat sistem pendidikan di daerah kota sudah berkembang cukup pesat, maka akan terjadi hal yang sebaliknya di daerah terpencil yang kesulitan untuk mengakses internet.

Hal ini akan terus terjadi kalau pemerintah tidak mengupayakan suatu strategi untuk membantu pendidikan di daerah 3T menyamai pendidikan yang berada di kota. Sehingga apa pun metode dari reformasi pendidikan yang akan diterapkan serta diupayakan tidak akan membuat pendidikan di seluruh Indonesia menjadi sama rata.

Tidak hanya di daerah terpencil, e-learning yang tidak dimanfaatkan dengan baik juga bisa membawa dampak buruk bagi siswa di daerah kota. Contohnya, siswa yang bersekolah di kota yang mana sekolahnya menerapkan sistem e-learning, akan menjadi sedikit malas untuk belajar dan melakukan diskusi bersama siswa lainnya. 

E-learning memberi efek yang bisa membuat siswa menjadi malas berpikir karena semua jawaban sudah tersedia di Google. Itu juga bisa membuat siswa tidak memiliki keterampilan berpikir kritis serta berkurangnya kemampuan bekerja sama dan berkomunikasi yang baik.

Selain itu, sistem e-learning juga membuka peluang bagi siswa untuk melakukan kecurangan saat ujian makin lebar. Di saat ujian sedang berlangsung, siswa bisa membuka Google untuk mencari jawaban dari soal-soal ujian. Hal ini sering terjadi karena kurangnya pengawasan dari para guru.

Para guru tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Karena banyak guru saat ini yang masih tidak menguasai teknologi, yang mana menyebabkan mereka mudah dibohongi oleh para siswanya.

Mengatasi kurangnya penguasaan teknologi oleh tenaga pendidik, maka perlu diadakannya pelatihan serta peningkatan wawasan mengenai teknologi agar nantinya mampu membimbing para siswa menggunakan teknologi sesuai dengan fungsinya. 

Untuk mengatasi masalah yang terjadi di daerah terpencil, pemerintah diharapkan segera mencari solusi yang tepat sehingga benar pendidikan di Indonesia dapat menjadi sama rata.

Jika pemerintah hanya membuat suatu program tanpa melihat situasi dan kondisi di seluruh wilayah Indonesia, maka daerah yang tertinggal akan makin ketinggalan dan berdampak pada susahnya untuk mencapai kata kesetaraan.

Reformasi pendidikan memang akan menjadi suatu program yang efektif dan menguntungkan apabila semua pihak mampu bekerja sama dalam mewujudkannya. Kelebihan dari reformasi pendidikan akan muncul di saat kekurangan dapat ditutupi atau bahkan dihilangkan. Reformasi pendidikan harus terus dievaluasi dan ditingkatkan agar mencapai kata berhasil.