3 tahun lalu · 147 view · 4 menit baca · Gaya Hidup collectie_tropenmuseum_een_koranschool_op_java_tmnr_10002385_0.jpg
Foto: id.wikipedia.org

Mengetengahkan Kembali Tradisi Mengaji

Dalam penyebaran ajaran Islam dibiasakan adanya pertemuan antara guru dan muridnya. Hal ini dicontohkan Nabi Muhammad saw. Ia menyampaikan risalah Tuhan dengan penuh kesabaran dan ketelatenan agar umatnya bisa memahaminya dengan baik dan benar. Ketika ada salah satu sahabat tidak paham, ia mengulangi lagi sampai orang tersebut benar-benar paham.

Cara pengajaran ini diteruskan para ulama dalam mengajarkan agama Islam kepada murid-muridnya. Mereka membuka majelis untuk siapa pun yang ingin memperdalam ilmu agamanya. Kian hari, disebutkan di dalam banyak literatur Islam, sistem pengajaran tersebut berdampak pada perkembangan keilmuan. Disiplin ilmu keagamaan semakin bervariasi dirancang para ulama salaf. Sehingga, para penerusnya tinggal mendalami disiplin ilmu yang diminatinya.

Selanjutnya, belajar dengan berjumpa langsung kepada guru (talaqqi) menjadi salah satu metode pengajaran Islam untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih luas. Dengan mengetahui latar belakang guru, baik riwayat hidupnya hingga alur pemikirannya, murid akan memepertimbangkan jejak gurunya atau tidak. Tidak jarang, murid memiliki perspektif berbeda dari gurunya tanpa mengurangi rasa hormat.

Dalam diskursus Hadis, talaqqi (bertemu dengan sang guru) menjadi salah satu syarat diterimanya suatu Hadis. Jika seorang periwayat tidak bertemu atau semasa dengan gurunya, terdapat indikasi kebohongan dalam periwayatan. Periwayat tersebut menyandarkan perkataannya kepada guru yang telah menyebutkan sebuah Hadis. Dari sini ditelaah bagaimana kedudukan Hadis dalam hujjah syariat.

Karena itu, bertemu dengan guru merupakan bukti ketersambungan sanad (rentetan periwayat) Hadis. Sehingga, Hadis dapat dipertanggungjawabkan validitasnya. Hal ini sejatinya tidak hanya dalam disiplin ilmu Hadis saja. Kebanyakan ilmu juga memberlakukan ini karena ketika seseorang menyampaikan ilmu dan tidak diketahui riwayat keilmuannya atau terutama nama-nama gurunya, maka ucapannya tidak akan diterima khalayak.

Seorang pencari ilmu harus belajar kepada seorang guru yang memang mumpuni di bidangnya agar sanad keilmuannya dapat dipertanggungjawabkan. Dengan begitulah kemudian Imam Ibn al-Mubarak berkata, “Sanad [transmisi penyampaian suatu ilmu] termasuk dari bagian agama. Andaikan tidak ada sanad, maka niscaya siapa saja bisa berkata sesuai kehendaknya.”

Karena itu, sanad merupakan hal penting yang memiliki dampak sangat signifikan dalam mewariskan suatu ilmu. Lebih dari itu, agar seseorang dapat dipercaya kredibilitas keilmuannya, maka ia harus memiliki guru. Tidak pantas seseorang membuat pernyataan, apalagi berkaitan dengan agama, sedangkan ia tidak jelas siapa gurunya.

Belajar (Agama) Melalui Internet

Korporasi mesin penelusur Google, telah menjelma sebagai “solusi” dalam mencari pengetahuan. Apa pun jenis pengetahuannya, baik tentang kabar, politik, hukum, budaya, sejarah, hingga keagamaan dapat kita temukan di dalam Google. Agak lucu membayangkan Google yang sering disebut “Mbah Google”, dan sebutan yang mengonotasikan kehebatan Google dalam memberi pengetahuan berdasarkan kebutuhan.

Hal ini kemudian menjadi sasaran empuk bagi para pelajar yang dikejar tugas. Mereka menjadikan Google sebagai solusi utama karena memang ia menyiapkan banyak informasi yang diinginkan mereka. Pelajar hari ini dapat menyelesaikan tugas-tugasnya dalam waktu singkat.

Terkadang adanya keingintahuan seseorang menjadi sebab Google sebagai jalan keluar untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari dirinya. Google akan menjawab dengan cepat dan tuntas. Bahkan, ia bisa menjawab dengan jawaban beragam.

Agar perbincangan kita tidak melebar ke mana-mana, kita kerucutkan pembahasan kita mengenai soal mencari pengetahuan (ke)agama(an). Sebagaimana sudah maklum, penganut Islam sekarang tampak terpisah menjadi berbagai golongan dari kaum moderat hingga ekstremis. Internet pun menjadi media promosi dan edukasi.

Penyebaran itu dilakukan demi meneguhkan keberadaan mereka dan diakui oleh khalayak umum. Mereka membuat suatu situs yang berisi kepercayaan dan keyakinan mereka. Membuat tulisan yang memuat berbagai persoalan keagamaan dengan disertai dalil-dalil dan pendapat pada ulama kelas atas. Mereka menjadikan media sosial sebagai wadah untuk melakukan penyebaran tersebut dan tersebarlah pengetahuan itu secara masif.

Tidak hanya itu, layanan internet, memberikan ruang untuk siapa saja yang ingin menyiarkan pemahaman keagamaan. Jadi, siapa pun orangnya, serta menganut kelompok keagamaan apa pun ia, bisa mengakses hal tersebut dengan hanya menulis kata kunci di kolom pencarian. Hal yang muncul lantas banyak diikuti tanpa mengecek ke sumbernya langsung, baik nash maupun kitab-kitab turats.

Perbuatan seperti ini memang tidak ada yang melarang dan juga tidak ada yang mengharuskan. Namun persoalannya adalah bahwa perbuatan seperti ini akan memicu pada pemberhentian akan belajar langsung kepada guru.

Artinya, karena fasilitas yang memberikan kebutuhan pengetahuan (keagamaan) dengan cepat meskipun belum tentu menjamin kebenarannya, maka seiring berjalannya waktu, tradisi talaqqi dengan guru akan terkikis secara perlahan. Akan datang suatu masa di mana kebanyakan orang-orang akan hanya mengandalkan internet dalam menambah wawasan pengetahuan (keagamaan), dan seorang pemuka agama atau kiai akan dikucilkan secara tidak langsung.

Hal yang mengkhawatirkan adalah adanya salah pemahaman akibat membaca pengetahuan (agama) yang disebarkan kelompok yang kontroversial kebenarannya. Karena pengetahuan keagamaannya minim, ia cerna info tanpa mengklarifikasinya lewat ahlinya atau membaca sumber-sumber yang sudah otoritatif, dan inilah yang sudah mulai mewabah pada zaman sekarang. Miris!

Karena itu, siapa pun yang ingin memperdalam dan menambah wawasan keagamaan, seyogyanya belajar kepada ahlinya langsung. Tidak hanya sekadar membaca muatan-muatan (postingan) di internet yang tidak dapat dipastikan otoritas kebenarannya. Belajar dengan penuh kesabaran, ketelatenan, dan menghormati sumber ilmu serta guru merupakan kunci utama untuk mendapatkan pengetahuan (keagamaan) yang manfaat dan berkah.

Terakhir, yang belajar (agama) hanya melalui berbagai muatan di internet, secara tidak langsung telah memutus transmisi ketersambungan dengan ulama-ulama terdahulu dan bahkan mengikis tradisi Islam yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Artikel Terkait