Akhirnya tuntas pula saya mengendus “Bau Mesiu: H. Abdul Manan dan Perang Kamang 1908” karangan Irwan Setiawan.

Dua hari sudah saya mempersempit ruang gerak. Sengaja berlama-lama tersebab sejak awal saya yakin “Bau Mesiu” jauh lebih besar dari sekadar riwayat hidup singkat Buya H. Abdul Manan atau laporan Perang Kamang 1908. 

“Bau Mesiu” adalah manuskrip penjabaran budaya Minang yang terkristalisasi dalam wujud sosok yang sebenar-benarnya orang Minang.

Ada tiga poin penting dalam buku ini yang menggugah terjadinya Perang Kamang. Pertama, tradisi merantau. 

Tidak bisa ditapik bahwa pergi merantau ke Negeri Sembilan, kini Malaysia, telah membuat H. Abdul Manan menjadi sosok yang “paripurna”. Dia ulama-pejuang dan pejuang-ulama. Pemahamannya akan Islam berbanding lurus dengan kepiawaiannya bersilek, berkuda, dan menembakkan senapan. 

Hebatnya, Buya nyata-nyata paham teori pergerakan. Dia seorang agitator plus mobilisator.

Kedua, pikiran moderat. 

H. Abdul Manan bukan seorang buya yang kolot meskipun punya garis kaum paderi tulen. Dia lahir dan menghabiskan masa remaja di kawasan pesemaian Tuanku Nan Renceh, satu dari Harimau nan Salapan kaum Paderi. Ayahnya, Ibrahim Tuanku Nan Kayo, juga mantan pejuang paderi.

Meskipun begitu, H. Abdul Manan hobi menunggang kuda, berburu, menembak burung, mengunyah sirih, dan lain-lain—kebiasaan-kebiasaan khas kaum adat. Buya juga dekat dengan kaum adat dan parewa. Ini pertanda, Buya adalah generasi Paderi periode kedua, generasi yang dipengaruhi oleh perkongsian kaum paderi dan kaum adat memerangi Belanda.

Ketiga, persatuan dan kesatuan masyarakat. 

Lumrahnya, dalam masyarakat Minang, kebijakan publik mesti disepakati bersama, dan dikerjakan bersama-sama. Semua orang punya peran, dan berperan sesuai dengan kemampuannya. 

Ini ruh Perang Kamang. Semua unsur terlibat: ulama dan santri, kaum adat, parewa, bahkan perempuan dan anak-anak.

Uniknya, H. Abdul Manan terbilang pendukung gerakan emansipasi perempuan. Buktinya, 1 dari 4 tokoh utama yang menggelorakan perlawanan rakyat atas kebijakan belasting adalah perempuan. Namanya Siti Maryam. Dia bertugas untuk kawasan Pasaman, Palembayan, Lubuk Basung, dan Tiku.

Maka, H. Abdul Manan, Siti Maryam, dan dua rekannya itu bisa didapuk sebagai aktor utama Perang Belasting di Sumatra Barat; perang dahsyat yang mendapat tempat khusus di koran-koran kolonial era itu. Perang yang bukan ujug-ujug, melainkan melalui proses pengorganisasian. Kebijakan belasting hanya pemicu.

Apalagi kalau dikaji-kaji, pajak yang ditarik Gubermen tidak besar-besar amat. Bahkan ada kebijakan yang sebenarnya jauh lebih sadis: tanam paksa pohon kopi, kerja rodi, atau ronda kampung misalnya. 

Lantas, kenapa kebijakan belasting yang dipilih?

Mungkin ini ada kaitannya dengan karakter orang Minang yang paling pantang dikhianati. Perjanjian Plakat Panjang 1833 menegaskan bahwa orang Minang tidak akan dipajaki lagi. 

Nahasnya, gara-gara krisis keuangan, Gubermen ingkar. Dan tersebab rasa sakit dikhianati tidak sembuh hanya dengan membuat lukisan olok-olok kontrolir Agam Tuo Westenenk berhidung Pinokio, maka orang Minangkabau pun melawan.

Pengkhianatan adalah kunci dalam Perang Kamang, dalam Perang Belasting, juga dalam PRRI. 

Yup, bukankah PRRI amat dipengaruhi oleh janji pemerintah pusat untuk pemberlakuan otonomi daerah yang lebih luas? Pendek kata: orang Minang punya manajemen pelipur duka yang yahud—surau, balai, dan lapau—tapi mereka tidak tahan bila dikhianati.

Membaca “Bau Mesiu”, utamanya kiprah Buya H. Abdul Manan, mau tak mau juga mengingatkan saya pada sosok Ibrahim Datuk Tan Malaka. Bapak Republik ini juga mendapat pencerahan selama perantauannya. Seperti H. Abdul Manan, punggung Tan Malaka juga terlalu lurus. 

Gagasan Tan Malaka untuk memadukan seluruh elemen kekuatan bangsa dalam merebut kemerdekaan bukan hanya moderat dan melintasi zamannya, tapi hampir-hampir terbilang fiksi. Masa komunis bisa kerja sama dengan Islam? 

Yap, kita sama-sama paham stategi devide et empire yang diterapkan Belanda membikin kekuatan rakyat gontok-gontokan. Tapi toh, gagasan itu pula yang menginspirasi dan akhirnya diterapkan Soekarno, Hatta, Syahrir, dan pendiri bangsa lainnya.

Juga Perang “basosoh” Kamang itu. Telisiklah baik-baik. Betapa mirip dengan Perang Semesta yang dicetuskan Tan Malaka. Lagi-lagi, gagasan ini kemudian diadopsi menjadi perang gerilya semesta oleh Soekarno dan Jenderal AH. Nasution.

Akhirnya, “Bau Mesiu” adalah buku yang amat menarik, dan jauh lebih besar dari makna harfiah judul yang menyertainya: “H. Abdul Manan dan Perang Kamang 1908” . 

Sayangnya, buku ini terlalu tipis! Buku ini belum bisa menjawab pergolakan pikiran H. Abdul Manan sehingga mau angkat senjata di usia senjanya—atau yang paling dekat: kenapa dan bagaimana riwayat perjuangan Buya di Perang Aceh? Juga hubungan dan kiprah dari keempat aktor perang Belasting—adakah resistensi atas kepeloporan Siti Maryam?

Termasuk, bagaimana dampak Perang Belasting bagi tokoh-tokoh Minangkabau generasi selanjutnya? Satu-satunya yang disebut hanya Hatta. Padahal, posisi Kamang di Luhak Agam. 

Selain punya Sekolah Raja yang jadi persemaian tokoh-tokoh republik dari Minang, Luhak Agam juga melahirkan tokoh-tokoh besar semacam Abdul Muis, Syahrir, Agus Salim, juga Presiden RI kedua yang masih terlupakan: Assaat Datuk Mudo.

Semoga saja Bung Irwan Setiawan berkenan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini melalui karya-karya selanjutnya.

  • Judul: Bau Mesiu: H. Abdul Manan dan Perang Kamang 1908
  • Penulis: Irwan Setiawan
  • Penerbit: FAM Publishing
  • Tebal: 132
  • ISBN: 978-602-335-563-1