Saya adalah seorang penyintas kanker. Dipercaya oleh Tuhan untuk hidup bersahabat dengan kanker, membuat saya mengabdikan sebagian hidup saya untuk berbagi. 

Beberapa tahun terakhir ini, saya menjadi pendamping pagi pejuang kanker dan keluarganya. Saya mendapat kesempatan untuk berbagi pengalaman di berbagai komunitas dan instansi. 

Ada lima pertanyaan yang paling sering saya terima, yaitu: Apakah ada pantangan makanan selama ini? Apakah memakai pengobatan alternatif selain medis? Apakah pada saat terapi pernah mengalami bosan dan ingin menyerah? Apakah sekarang bisa menjalani aktivitas dengan normal? Bagaimana cara membangkitkan semangat untuk berjuang?

Pertanyaan yang bersifat umum itu relatif mudah saya jawab karena semua pernah saya alami, hanya tinggal menceritakan ulang. Tetapi pada sebuah sesi ngobrol bareng di Yogya beberapa bulan lalu, saya mendapatkan pertanyaan yang berbeda dan baru pertama kali saya terima.

Pertanyaan dari mas Whani Darmawan, seorang aktor peraih Piala Citra 2019: ”Mbak Novi, apakah ada ketakutan dalam diri jika suatu saat nanti kanker akan muncul lagi? Jika ada, berapa persen besarnya?” Saya diam sejenak karena ragu dengan perasaan dan pikiran saya sendiri. Sesantai apapun kini saya hidup bersahabat dengan kanker, benarkah tidak ada ketakutan jika ia tumbuh lagi?

Dalam waktu beberapa detik, saya mencoba bertanya ke “dalam” dan sungguh tak mudah menemukan jawaban tepat untuk pertanyaan itu. Saya sering mendapatkan pertanyaan tentang “berapa persen” dan hitung-hitungan lain karena latar belakang pendidikan saya matematika. Tapi soal hitung-hitungan dari mas Whani itu lebih rumit untuk diselesaikan.

Setelah mendapat jawaban dari “dalam”, saya pun mengatakan dengan sedikit ragu. “Ketakutan tetap ada, Mas. Mungkin sekitar dua puluh persen”. Entah dari mana angka itu didapat, tentu bukan dengan rumus Phytagoras yang populer itu, tidak juga deret Fibonnaci apalagi trigonometri haha. Saya melakukan scanning pada diri sendiri tentang keberadaan emosi ini dan saya menemukannya.

Rasa takut adalah salah satu dari emosi manusia, selain marah, sedih, dan senang. Takut merupakan emosi yang tidak menyenangkan dan mengganggu secara kognitif (pikiran), afektif (perasaan), dan motorik (gerakan). Sebagai contoh sederhana, seseorang yang takut akan ketinggian. Saat berada di sebuah gedung bertingkat lalu melihat ke bawah, refleks yang biasanya muncul adalah keringat dingin, pucat, pupil mata membesar dan sebagainya.

Contoh rasa takut terhadap sesuatu yang wujudnya nyata seperti itu merupakan bagian dari insting manusia untuk merespon situasi yang dianggap membahayakan baginya. Sedangkan rasa takut saya terhadap munculnya kembali kanker setelah dinyatakan bebas, agak sulit diukur karena berada pada kondisi yang tidak sedang membahayakan.

Pertanyaan tersebut memang saya dapatkan saat saya berada pada kondisi yang sangat sehat tanpa keluhan. Pemeriksaan rutin setiap tahun menunjukkan hasil yang baik. Tidak ada tanda atau gejala apapun yang mengarah pada berkembangnya sel abnormal menuju kanker. Dan sedang menjalani kehidupan normal sebagaimana layaknya orang sehat lainnya.

Tetapi apakah benar ketakutan terhadap kanker sama sekali tidak ada? Seperti jawaban yang saya berikan kepada mas Whani di atas, jawabnya adalah ada. Lalu kenapa dua puluh persen? Simpel saja, kalau anak sekolah, dapat nilai 80 sudah terhitung baik dan aman. Nah saya merasa bahwa besarnya rasa ketakutan saya berada pada level yang masih aman.

Ketakutan yang membayangi saya adalah: rasa nyeri yang sangat besar, penegakan diagnosis yang memakan waktu lama dan sering kali menimbulkan rasa sakit. Lalu ketakutan akan pengobatan yang panjang, biaya yang besar, efek samping yang banyak, meninggalkan keluarga, aktivitas sampai ketakutan akan kematian dan berpisah dengan orang yang dicintai.

My Chemical Romance, grup musik asal Amerika menggambarkan dengan untaian kalimat yang sangat menyentuh dalam lagunya berjudul Cancer. Berbagai proses menyakitkan baik secara fisik dan mental yang dialami penyintas kanker tergambar apik dalam lagu ini. Dengan kalimat terakhir: ‘cause the hardest part of this is leavin’ you. 

Apakah ketakutan itu setiap saat membayangi saya? Tentu saja tidak. Bahkan hanya muncul sekelebat saja pada waktu-waktu tertentu, misalnya menjelang check up rutin tahunan. Saat-saat menunggu hasil lab bisa membuat hati gundah dan cemas. Pengalaman beberapa kali mendapat hasil lab yang buruk, terlintas sebagai bayangan yang memunculkan kembali perasaan takut.

Lalu bagaimana saya mengatasi rasa takut tersebut? Yang pertama, saya sadari dulu bahwa rasa takut itu adalah hasil perbuatan otak saya sendiri. Yah, pikiran kita memang sukanya jalan-jalan ke masa lalu dan masa depan. Lalu timbullah rasa takut akan sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terjadi pada kita.

Baca Juga: Kanker Plastik

Setelah menyadari tentang pikiran yang sedang mengembara ke masa depan, saya biarkan saja dan terima perasaan takut tersebut. Saya biasa melakukannya dengan cara duduk diam beberapa menit, pelan-pelan membawa perhatian tertuju pada apa yang ada di masa sekarang. Ini terbukti efektif bagi saya untuk menetralisir rasa cemas dan takut yang kadang muncul.

Sebagian orang menyebut ini sebagai praktik mindfulness, mungkin itu juga yang saya lakukan selama ini. Apapun namanya, tapi intinya adalah agar pikiran kita tidak terlalu rajin jalan-jalan ke masa lalu sehingga menimbulkan rasa sedih dan penyesalan atau ke masa depan yang akan menyebabkan munculnya kecemasan dan ketakutan.

Jadi, berapa persen pun ketakutan saya atau Anda akan munculnya kanker atau penyakit lain, sesungguhnya ketakutan itu hanya ada dalam pikiran kita sendiri. Ingat, bahwa kita punya kendali atas otak kita. So don’t worry be happy!