Dalam situasi pandemi Covid-19 ini masyarakat mengalami perubahan di segala aspek kehidupan baik dalam bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. Pandemi ini menimbulkan berbagai permasalahan kompleks dan cenderung berdampak negatif. 

Misalnya dalam bidang ekonomi, khususnya sektor pariwisata, perhotelan, dan transportasi, mengalami kerugian cukup besar, sehingga beberapa perusahaan melakukan PHK terhadap karyawannya. Begitu juga bidang pendidikan, para pembelajar juga dirugikan karena pembelajaran dilakukan secara terbatas.

Mayoritas masyarakat luas merasakan dampak negatif tersebut, seperti kehilangan pekerjaan, pelaku dunia usaha mengalami kebangkrutan, dan pembelajaran di sekolah terganggu, sebagian masyarakat terkena Covid-19 dan menyebabkan kematian. 

Dari berbagai masalah tersebut masyarakat mengalami masalah luar biasa yang menyebabkan hati menjadi susah, sedih, takut, cemas, tidak bahagia, dan stress bahkan depresi.

Sumber perasaan tidak bahagia, sedih, susah adalah hati. Hati manusia ini sangat mudah berbolak-balik, karena sangat mudah dipengaruhi berbagai faktor. Saat hati kita baik, suasana kebatinan akan baik, namun saat hati buruk, maka suasana kebatianan pun akan buruk.

Setiap manusia pasti ingin mencari kebahagiaan, karena kebahagiaan adalah fitrah atau bawaan alami manusia, melekat dalam diri manusia. Setiap orang hidup pasti menginginkan kebahagiaan, baik orangtua, dewasa, bahkan anak kecil menginginkan kebahagiaan dalam hidup. 

Orang menginginkan kehidupan normal, seperti fasilitas hidup tempat tinggal yang nyaman, kebutuhan pangan dan sandang terpenuhi, teman bisa diajak bersosialisasi, berkumpul, dan bersenang-senang. Semuanya diinginkan agar memperoleh kebahagiaan.

Tulisan ini bermaksud merumuskan bagaimana menjadikan hati kita meraih kebahagian yang hakiki. Ketika masalah dan cobaan mendatangi kehidupan kita, hati kita siap menghadapi dengan sabar, syukur, dan ikhlas. 

Perlu kita ketahui tentang janji Allah bahwa di setiap masalah yang terjadi pasti ada kemudahan dan jalan keluar. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Al-Insyirah ayat 5-6, “Sesunggunya bersama kesulitan pasti ada kemudahan.”

Kebahagian Perspektif Psikologi Positif

Seorang tokoh psikologi positif, Martin EP Seligman, mengemukakan pendapatnya tentang kebahagian yang merupakan gambaran dari manusia yang dapat mengidentifikasi keutamaan dirinya dan dapat menahan dalam kehidupan sehari-hari. Karena sifatnya yang subjektif, maka kebahagiaan setiap manusia memiliki ukuran yang berbeda-beda. 

Secara umum, faktor yang mendatangkan kebahagiaan menurut Seligman dapat diperoleh oleh kehidupan sosial di antaranya adalah uang, status pernikahan, kehidupan sosial, usia, kesehatan, pendidikan, iklim, ras, dan jenis kelamin, serta agama atau tingkat religiusitas seseorang, optimis, namun tetap realistis .

Dalam pandangan Seligman, aspek utama meraih kebahagiaan yaitu: menjalin hubungan positif dengan orang lain, interaksi yang penuh, menemukan makna dalam keseharian, dan menjadi yang gembira. 

Sedangkan menurut ahli psikologi yakni Myers, menyesuaikan orang bahagia adalah orang yang selalu menghargai diri sendiri, orang yang memiliki sifat optimis, memiliki sifat terbuka, dan mampu mengendalikan diri. Karakter itu menunjukkan bahwa ciri-ciri orang yang bahagia dapat diketahui, sehingga mereka menunjukkan bahwa menunjukkan orang yang kurang mendapat kebahagiaan.

Akan tetapi kita tahu bahwa kebahagian yang hanya memperturutkan hiburan duniawi dan nafsu kemungkinan besar tidak akan menimbulkan ketenangan jiwa dan kebahagian hati yang hakiki, karena nafsu nafsu duniawaktu dan akan hilang pada waktu tertentu. 

Sementara kebahagiaan hati yang hakiki akan menimbulkan ketenangan jiwa yang bersifat abadi. Salah satu cara meraih kebahagian hati yakni dengan faktor Ilahi atau melalui pendekatan dalam perspektif Islam.

Hati yang Bahagia Perspektif Islam

Kebahagian dalam Islam disebut dengan istilah al-Sa'ādah. Di antara yang menggunakan istilah tersebut adalah Imam al-Ghazāli. Beliau menjelaskan bahwa kebahagiaan (al-sa'ādah) adalah ketika seseorang mengenal dirinya (ma'rifah al-Nafs). 

Menurut Dr. Abdurrahman bin Mu'allā al-Lawaihiq, kebahagiaan dalam Islam merupakan ketenangan jiwa, hati khusyu ', kelapangan hati, yang dihasilkan dari istiqāmahnya ibadah zhahir dan batin yang mendukung kekuatan iman.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab Ighâtsatul Lahfân menjelaskan hati manusia itu bermacam-macam, yakni hati yang mati (qolbun mayyit), hati yang sakit (qolbun maridh), dan hati yang selamat serta bahagia (qolbun salim). 

Qalbun salîm adalah hati yang bersih dan selamat dari berbagai syahwat yang berseberangan dengan perintah dan larangan Allah. Bersih dan selamat dari berbagai syubhat yang menyelisihi berita-Nya, Bersih dalam rasa takut dan berharap kepada-Nya. 

Bersih dalam bertawakal kepada-Nya, dalam bertaubat kepada-Nya, dalam menghinakan diri di hadapan-Nya, dalam mengutamakan mencari ridha-Nya di segala keadaan serta dalam menjauhi kemurkaan-Nya dengan segala cara.

Untuk meraih predikat qalbun salîm dan mensucikan hati haruslah melaksanakan amal-amal shalih seperti ibadah, dzikir, tasbih, tahlil, dan sebagainya. Sesuai dengan cara yang ditentukan oleh nash Al-Qur’an dan Hadits. 

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al- Qur’an Surat Ar-Rad ayat 28: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.

Kemudian cara meraih kebahagian hati yang hakiki dan meraih solusi terbaik dari berbagai masalah pada musibah ini adalah dengan cara bertakwa kepada Allah SWT sebagaimana janji Allah dalam Al-Qur’an Surat At-Talaq ayat 2-3 : 

“….Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia akan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupkan keperluannya….”

Dalam ayat selanjutnya Allah SWT juga memberikan sebuah janji kemudahan dalam segala urusan kehidupan, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surat At-Talaq ayat 4 : “….Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam segala urusan.

Hakikat kebahagian hati yang hakiki adalah bersyukur di saat menerima nikmat, bersabar di saat menerima musibah, dan ikhlas lapang dada dalam menerima takdir Ilahi. Untuk mencapai derajat tersebut dengan jalan bertakwa kepada Allah SWT.

 Demikianlah solusi terbaik menurut Islam di saat berbagai musibah menghampiri kita. Sejatinya segala kekuatan, kebahagiaan, kelapangan, ketenangan, kesedihan, musibah, dan marabahaya itu datangnya atas kehendak Allah. Tugas manusia tidak lain hanyalah berikhtiar semaksimal mungkin dan bertawakal kepada Allah.