Masyarakat global mengenalnya dalam panggilan Yasser Arafat, walau dalam Bahasa Arab Namanya tertulis dengan bacaan Yasir. Senantiasa tampil dengan surban dan juga pakaian ala militer. Terkadang dilengkapi dengan kacamata.

Bagi kita yang duduk di bangku sekolah dasar pada kurun waktu 1980-an, ada acara TVRI yang bertajuk Dunia Dalam Berita. Kesempatan itulah yang memungkinkan menonton tayangan berita terkait Yasser Arafat. Sampai menyelesaikan sekolah menengah atas, tetap saja tontonan berita TVRI itu menjadi bagian dalam menyelesaikan aktivitas sepanjang hari.

Apalagi, durasinya 30 menit saja. Sehingga usai itu, langsung menuju ke sumur untuk sikat gigi. Selanjutnya, bersiap tidur. Sehingga Yasser Arafat menjadi nama tersendiri dalam deretan tokoh dunia.

Disebutkan atributnya sebagai jendral Organisasi Pembebas Palestina (PLO). Diterima luas di pergaulan antarbangsa, dan menjadi salah satu organisasi yang berkesempatan duduk dalam sidang-sidang PBB. Diantaranya juga pidato Yasser di forum PBB, bahkan dengan mengenakan sarung senjata. Walau itu tanpa senjata sekalipun.

Kiprahnya di Palestina, merupakan komitmen pribadi dan masyarakat. Dimana ini ditunjukkan dengan pilihan perempuan yang dinikahinya, Kristen Palestina Suha Arafat.

Tidak terbayangkan suasana pada pernikahan itu, 1990. Sekarang saja, pernikahan beda agama belum berterima dalam skala luas. Namun, pernikahan Yasser justru menunjukkan kemauan dan kemampuan menerima perbedaan. Bahkan dalam ranjangnya sekalipun, justru perbedaan bukanlah sebuah masalah.

Bolehjadi ini mengikut kepada pandangan ulama yang menjelaskan bahwa kebolehan menikahi perempuan beda agama. Mereka juga disebut sebagai ahlu kitab. Sehingga tetap sah untuk dinikahi.

Popularitas Yasser semakin meluas di Indonesia, apalagi ketika turut menghadiri KTT Non-blok semasa Indonesia menjadi tuan rumah, 1992. Tahun-tahun itu, ditandai dengan semakin banyaknya anak-anak Indonesia yang diberi nama Yasser Arafat. Begitu pula tokoh-tokoh dunia yang hadir semasa KTT tersebut. Menjadi nama yang ditasbihkan oleh orang tua pada putra-putrinya.

Perjuangannya sedikit demi sedikit berbuah. Tidak saja PLO diterima dalam sidang PBB, tetapi kemudian ditunjuk mewakili Palestina untuk perundingan perdamaian Palestina-Israel.

Perjanjian demi perjanjian dirintisnya. Diantaranya perjanjian Oslo, kemudian dimateraikan di Amerika Serikat, 13 September 1993. Dengan pemberlakuan perjanjian ini, Palestina mendirikan otoritas nasional.

Perjanjian ini keduanya saling mengakui dimana PLO mengakui Israel, dan sebaliknya. Walaupun demikian, mendapatkan penolakan. Pengungsi Palestina yang tersebar di seentaro dunia menolaknya. Namun, masyarakat di Palestina sendiri tetap memberikan dukungan sehingga otoritas nasional dimungkinkan untuk dilembagakan.

Dengan pembentukan otoritas ini, kemudian Yasser mendapat mandat untuk melengkapi struktur eksekutif dan legislatif. 1994, pindah ke tepi Gaza. Pertama kali, sekaligus menjabat Presiden, Perdana Mentri, Panglima Tentara, dan Dewan Legislatif. Dengan status presiden itu kadang disambut dengan panggilan rais. Hanya saja, Yasser sendiri lebih suka dengan panggilan jendral.

Tahun sebelumnya, mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian, bersama-sama dengan Yitzhak Rabin, dan Shimon Peres.

1995, antara November sampai Desember, Yasser berkeliling ke kota-kota yang sudah tidak lagi diduduki Israel. Diantaranya, Jenin, Ramallah, dan Neblus. Termasuk pos di Tepi Barat juga sudah dikuasai polisi otoritas nasional yang dipimpin Mohammed Dahlan, dan Jibril Rajoub.

Sebulan setelahnya dalam pemilihan umum, Yasser meraih suara 80 % lebih untuk memastikan posisi sebagai presiden otoritas nasional. Semasa itu dari 88 kursi legislative, 51 kursi dikuasai partai Fatah. Walaupun dalam pemilihan umum tersebut diboikot pelbagai kalangan seperti Hamas, DFLP.

Rentang empat tahun, Yasser mengalami masa-masa sukar dimana yang menjabat sebagai perdana mentri Israel dengan kemenangan selisih satu suara Benjamin Netanyahu, menolak untuk mengakui Palestina sebagai sebuah institusi negara.

Nanti setelah perdana mentri berganti, perjanjian perdamaian kembali dinegosiasikan di Camp David, Amerika Serikat, Juli 2000. Hanya saja dari semua tawaran yang dikemukakan Israel, ditolak sepenuhnya Yasser. Dengan tidak adanya peta jalan perdamaian itu justru intifadhah yang lahir. Perjuangan pembebasan Palestina dilakuan secara intensif, bahkan dengan bom diri oleh kelompok militan.

Kepemimpinan perdana mentri Ariel Sharon kemudian semakin melemahnya pembicaraan damai. Aksi kelompok militan dibalas dengan serangan berupa tembakan dan juga peralatan militer yang memadai. Dengan kondisi yang tidak memungkinkan ini untuk kampanye terbuka, akhirnya pemilihan umum dibatalkan.

Bahkan Sharon memerintahkan pengepungan kediaman Yasser. Dengan dukungan Presiden Amerika Serikat saat itu, George W Bush, Yasser disebut sebagai penggangu perdamaian. Akhirnya, tidak ada lagi kemajuan dalam langkah-langkah pembicaraan untuk perdamaian di Palestina. Justru korban demi korban yang jatuh dan tidak tertolong.

Walau sampai akhir hayatnya, Yasser tidak lagi dapat menyaksikan berfungsinya otoritas nasional sebagaimana yang sudah dirintisnya. Wafat dalam usia 74 tahun pada 11 November 2004. Dalam satu pertemuan, Yasser muntah. Kemudian diterbangkan ke rumah sakit militer di Perancis. Itupun setelah mendapatkan persetujuan pihak Israel. Dokter antarbangsa (Tunisia, Yordania, Mesir) datang memeriksa kondisi kesehatan. Hanya saja tidak dapat dilakukan perawatan di kediamannya, Ramallah.

Wasiatnya, dimakamkan di dekat masjid Al Aqsa. Atau dimana saja dalam kota Yerussalem. Hanya saja wasiat itu tidak dikabulkan Israel. Sehingga sebelum berada di tempat sekarang ini, Mukataa Ramallah, setidaknya dilakukan upacara berkali-kali, Paris, dan Kairo.

Syekh Tamimi mengadakan prosesi ulang pemakaman setelah mendapatkan informasi bahwa semasa dimakamkan menggunakan keranda. Bukannya dengan tatacara Islam. Sehingga pemakaman ulang dilaksanakan walau dinihari yang berlangsung dalam pukul 3.

Tepat tahun ketiga wafatnya Yasser Arafat, diresmikan oleh Presiden Abbas, sebuah Mausoleum yang dikhususkan untuk allahuyarham Yasser.

Apa yang dicapai Yasser menjadi tolok ukur tersendiri dalam perjuangan Palestina. Sehingga generasi setelahnya, sudah dapat meneruskan apa yang sudah dilakukannya. Hanya saja, perjuangan bagi kemerdekaan Palestina menjalani masa-masa sulit.

Ramadan 1442 H, bukannya rakyat Palestina menikmati idulfitri dalam damai dan kesyukuran. Justru perayaan awal Syawal ditiadakan secara nasional dan hanya dilaksanakan dalam wilayah masing-masing. Mengantisipasi serangan Israel yang sudah dilancarkan dalam akhir-akhir Ramadan.