2 tahun lalu · 560 view · 8 min baca · Perempuan sk-trimurti-2.jpg
http://www.langitperempuan.com

Mengenang SK Trimurti

Pejuang Hak Buruh Perempuan dan Anak

Pada 11 Oktober 2016 lalu, dunia memperingati International Day of the Girl Child. Penulis berinisiatif membagi sedikit hasil refleksi tentang seorang perempuan yang konsisten memperjuangkan hak kaum perempuan di Indonesia. Namanya Ibu Soerastri Karma Trimurti atau yang akrab disapa SK Trimurti dikenal tokoh jurnalis perempuan Indonesia. Apa sih kiprah beliau bagi perjuangan hak buruh dan anak?

Terlahir dalam keluarga ningrat, SK Trimurti memang sudah mengenyam pendidikan di sekolah khusus perempuan menjadi guru. Dia pun mengikuti saran kedua orangtuanya untuk menjadi guru berstatus pegawai negeri. Sayangnya segala berkah itu dipandang SK Trimurti sia-sia saja karena bangsa-nya masih mendapatkan perlakuan yang tidak adil dari bangsa kulit putih alias bangsa Belanda.

Sikap kepedulian terhadap masyarakat begitu kencang muncul dalam diri SK Trimurti karena sering ikut ayahnya berkeliling dari satu desa ke desa lain menjalankan tugas sebagai ndoro seten. Sebagai informasi, Ndoro Seten itu seorang carik yang kemudian meningkat menjadi Asisten Wedana alias Camat. Jadi tentu terbayang ayah SK Trimurti adalah orang terpandang saat itu. Akibat naluri yang terus menolak sikap kaum penjajah, SK Trimurti lalu melepaskan pekerjaannya sebagai guru dan memilih bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo) yang diganyang oleh Soekarno.

Perempuan bertubuh kecil nan lincah ini pun bergabung sebagai kader Partindo di Bandung. Di Bandunglah petualangan SK Trimurti dimulai, dia menjadi kader Partindo dan anak didik Soekarno bersama Wikana, Sukarni, dan Asmara Hadi. Dia juga menjalin relasi yang sangat akrab dengan istri Soekarni, yaitu Inggit Ganarsih. Bandung adalah kota dimana SK Trimurti mengawali karirnya sebagai seorang jurnalis. Seorang penulis.

Suatu kali, dia diminta langsung oleh Soekarno untuk menulis pada harian Fikiran Ra’jat, salah satu harian yang digarap oleh kelompok Partindo.

“Saya tidak bisa,” kata SK Trimurti. Namun apa daya, Soekarno mendesak. “Harus bisa.” kata Soekarno.

Pilihan SK Trimurti bergabung di Partindo dan menulis mendapat pertentangan keluarga. Menurut ayah dan ibunya, kegiatan SK Trimurti akan membahayakan seluruh anggota keluarga. Oleh sebab itu, perempuan yang lahir pada tanggal 11 Mei 1912 ini memutuskan pergi dari rumah keluarganya di Klaten, dan memulai hidup sebagai seorang pengembara.

SK Trimurti memulai karir dalam organisasi perempuan di Yogyakarta bersama kerabatnya Sri Panggihan mereka mendirikan Pengurus Besar Persatuan Marhaeni Indonesia. Zaman dulu, dan sampai zaman sekarang, media massa merupakan alat politik, corong kepentingan. Begitupula zaman SK Trimurti, Persatuan Marhaeni Indonesia juga berhasil membuat majalah Suara Marhaeni.

Tulisan-tulisan yang dimuat dalam Suara Marhaeni jelas berisikan kecaman kepada pemerintah Belanda. Hal itu membuat pengurus majalah Suara Marhaeni menjadi buronan Belanda. Untuk mengamankan diri mereka kerap kali berpindah tempat dan itu menyulitkan aktivitas politik dan percetakkan pamflet.

Ketidakberuntungan tetap membuat SK Trimurti dijerumuskan ke dalam bui dan disiksa oleh Belanda. Setelah 9 bulan dalam penjara, SK Trimurti dibebaskan. Ia tetap tak jera juga, nyatanya, dia masih bergabung di majalah Suluh Kita. Semakin hari perempuan berzodiak Taurus ini semakin piawai dalam menulis, tak ayal dia pun menerima tawaran lain menulis di Sinar Selatan, milik Jepang.

Perkembang pers yang pesat saat itu membuat gerah pemerintah Belanda. Maka dikeluarkanlah aturan bahwa semua media yang beroperasi harus atas izin Gubernur Belanda, jika tidak ada maka pemerintah berhak mencabut hak penerbitan alias persbreidel ordonantie. Semacam penerbitan SIUPP zaman Orde Baru.

Kisah Cinta SK Trimurti

SK Trimurti yang sangat terbius dengan aktivisme dunia menulis dan dunia perjuangan nyaris abai pada keinginan untuk menjalin hubungan pacaran. Dia pun bahkan sempat berpikir untuk tidak menikah guna memurnikan perjuangannya seperti halnya yang dilakukan para imam Katolik.

Hingga suatu hari berjumpalah SK Trimurti dengan Sayuti Melik, seorang bekas tahanan Boven Digoel. Kisah pertama antara keduanya terjadi ketika Sayuti Melik menuliskan sebuah artikel di Sinar Selatan. Tulisan yang mengecam Belanda itu ditulis secara anonim karena dia adalah bekas interniran Boven Digoel. Oleh sebab itu SK Trimurti ingin bertanggung jawab atas tulisan yang bagus itu dengan mencantumkan namanya sebagai penulisnya.

Keduanya begitu sering berjumpa dalam diskusi politik dan sering beradu pendapat secara sengit. Maklum, sejak kecil Sayuti adalah anak yang terkenal nakal, sering memberontak bahkan kepada kedua orangtuanya. Kalau kata orang Jawa cinta tumbuh karena terbiasa bertemu demikianlah yang terjadi antara Sayuti dan SK Trimurti. Suatu kali Sayuti pun melamar SK Trimurti.

“Kelihatannya kita bisa bekerja sama. Bagaimana kalau kau menjadi istri saya?” kata Sayuti Melik kepada SK Trimurti.

Siapa sangka SK Trimurti, permepuan bermental baja itu menerima pinangan Sayuti Melik. Namun sayang, pernikahan keduanya tak mendapat restu keluarga SK Trimurti. Sebagai keluarga ningrat ayah dan ibu SK Trimurti tidak mengharapkan menantu yang datang dari keluarga masyarakat biasa, apalagi Sayuti juga tak bekerja sebagai PNS. Namun karena keteguhan hati SK Trimurti pernikahan tetap digelar.

Pada masa mengarungi bahtera rumah tangga, keduanya bahkan membuka majalah bersama dengan nama Pesat, dimana Sayuti Melik menjadi pemimpin redaksinya. Maklum saja, Sayuti Melik awalnya mencoba menafkahi keluarga dengan berdagang batik, tetapi dia sering kecolongan pembeli. Alhasil SK Trimurti mengusulkan suaminya untuk mendirikan majalah saja.

Sayanganya kisah cinta ini bukanlah kisah cinta yang berakhir indah pada adegan pernikahan. Awal pernikahan mereka diuji dengan penangkapan SK Trimurti oleh polisi Belanda atas tulisan yang dimuat di Sinar Selatan, yang mana itu adalah tulisan Sayuti Melik. Tulisan itu dipandang Belanda sebagai tulisan yang memihak Jepang.

SK Trimurti pun dipenjara [sekali lagi ya, itu karena tulisan Sayuti Melik] dalam keadaan hamil pertama. Dalam tanahan kondisi SK Trimurti baik-baik saja, dia pun kerap melalui hari-harinya dalam tahanan dengan banyak berguyon kepada sesama tahanan baik itu orang Indonesia ataupun orang Jepang.

Ketika SK Trimurti bebas, Harian Pesat dibubarkan karena penjajah baru, pemerintah Jepang menolak ada organisasi, partai, ataupun penerbitan apapun. Gantian, Sayuti Melik yang diciduk pemerintah Jepang karena Sayuti diduga bagian dari anggota komunis bawa tanah. Anak pertama mereka pun kerap diungsikan ke beberapa kerabat karena panasnya kondisi politik saat itu.

Dua minggu berselang, SK Trimurti juga diciduk oleh Jepang, lagi-lagi dalam keadaan hamil putra keduanya, yang nantinya bernama Heru Baskoro. Dia sempat dikembalikan ke rumah untuk melahirkan namun dibawa lagi ke penjara setelah melahirkan Heru Baskoro. SK Trimurti masuk tahanan menolak Jepang.

Dia disiksa karena merendahkan Jepang, hal ini dipicu oleh penolakan dari SK Trimurti terhadap Nedaci orang Jepang yang ingin memperistri adiknya. Menurut SK Trimurti, suami dan istri harus setara, tidak bisa salah satu lebih rendah. Bagaimana mungkin seorang penjajah warga kelas satu memperistri warga pribumi, warga kelas dua? Nantinya ada kesenjangan dalam rumah tangga yang memicu kekerasan.

Atas penolakan itu SK Trimurti semakin mendapatkan perlakukan keras dari Jepang, dia disiksa, dipukul, dibentak, dihajar kepalanya. Penyiksaan itu juga disaksikan oleh Sayuti Melik. Polisi Jepang sengaja menyiksa SK Trimurti dihadapan Sayuti agar Sayuri mau mengakui kesalahannya.

Tubuh SK Trimurti ambruk padahal dia sedang menyusui Heru Baskoro. Kepalanya menjadi linglung, penuh luka di tubuh, belum lagi air susunya yang memanas membuat bayi keduanya enggan untuk menyusu. Butuh waktu untuk memulihkan kondisi SK Trimurti.

Perjuangan keduanya tidak berhenti, sampai perjuangan kemerdekaan RI. Sayuti masih menjadi tahanan Jepang sementara SK Trimurti bisa dibebaskan atas bantuan Soekarno. Bersamaan dengan itu tersiarlah kabar kekalahan Jepang yang menjadi peluang Indonesia untuk merdeka. SK Trimurti juga ikut membantu persiapan kemerdekaan bersama suaminya.

Saat itu Sayuti ikut serta dalam perundingan kemerdekaan RI di rumah . Hingga akhirnya pada proklamasi kemerdekaan SK Trimurti diminta mengerek bendera merah putih yang dijahit Fatmawati, tetapi dia menolaknya dan menyuruh Latief, mantan PETA yang lebih berpengalaman.

Aktivis Buruh, Perempuan dan Anak

Perempuan ini pun memulai aktivitas politiknya dengan masuk dalam Gabungan Serikat Buruh Partikelir Indonesia (GASPI), Barisan Buruh Indonesia (BBI), dan Barisan Buruh Wanita (BBW). Dia pun melanjutkan aktivisme itu dalam Partai Buruh Indonesia (PBI). Konsistensi SK Trimurti terhadap masalah buruh membuatnya terpilih sebagai Menteri Buruh oleh Presiden Soekarno bersama dalam kabinet Perdana Menteri Amir Syarifuddin.

Meski hanya setahun menjabat sebagai menteri karena kondisi politik yang tidak stabil, selama masa kepemimpinannya, SK Trimurti menghasilkan UU Perburuhan yang di dalamnya banyak mengakomodiri kebutuhan buruh perempuan, salah satunya hak cuti haid.

SK Trimurti juga masuk dan membidani lahirnya Gerwis alias Gerakan Wanita Indonesia Sedar. Nah, organisasi Gerwis inilah yang akhirnya berubah menjadi Gerwani. Gerwis meyakini perempuan memiliki kepentingan dalam perjuangan anti penjajahan. Gerwis juga bermaksud untuk mengerahkan seluruh lapisan tenaga wanita terutama buruh dan tani serta melepaskan diri dari perbudakan dan penindasan antara manusia dengan sesame manusia. Meskipun aktif berkecimpung dalam Gerwis, SK Trimurti tetap aktif menulis dalam Api Kartini dan Harian Rakyat.

Dalam tulisannya di Api Kartini, SK Trimurti banyak menuntut kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki. Misalnya; dia menentang bahwa perempuan berkewajiban memakai nama suaminya. Hal yang juga sangat ditentang oleh SK Trimurti adalah penolakan atas poligami. Buktinya, SK Trimurti berani mengkritik poligami yang dilakukan oleh guru kadernya sendiri, yaitu Soekarno. Tak heran jika kritik yang dilontarkan SK Trimurti sempat membuat Soekarno ngambek kepadanya. Perjuangan terhadap anti poligami juga turut diperjuangkan SK Trimurti dalam perumusan Undang-Undang Perkawinan.

Selalu Rela Berkorban

Kiprah SK Trimurti dalam Gerwis yang menyublim menjadi Gerwani ini tidak bertahan lama. Buktinya, ketika Sayuti Melik menulis pada Suluh Indonesia tentang pemahaman Nasionalisme Soekarno atau Soekarnoisme yang berbeda dengan Komunisme. Sayuti Melik menegaskan pagham Marhaenisme yang menitikberatkan pada Nasionalis, Agama, dan Sosialis. Bukan Nasionalis, Agama, dan Komunis. Tulisan ini berujung perselisihan antara kaum Soekarnoisme dengan golongan komunis.

SK Trimurti yang mulai menjauhkan diri dari Gerwani karena organisasi tersebut menajdi underbow PKI pun memutuskan keluar dari Gerwani. Dia merasa Gerwani saat itu mulai sangat bertolak belakang dengan visinya. Dia memilih ikut dengan suaminya, Sayuti Melik.

Perceraian dan Mawas Diri

SK Trimurti yang menganut falsafah Jawa dari Serat Dewa Ruci untuk selalu mawas diri. Apa maksudnya? SK Trimurti meyakini, manusia hendaknya selalu melihat diri sendiri karena hal itu akan membawa kita pada pengenalan akan diri sendiri. Falsafah ini juga yang mungkin mendorong SK Trimurti tetap komit untuk bercerai dari Sayuti Melik saat suaminya hendak berpoligami. SK Trimurti yang konsisten menolak poligami tidak melarang suaminya untuk beristri kembali, dengan syarat dia harus diceraikan.

Falsafah Mawas Diri juga mendorong SK Trimurti membuat majalah dengan nama Mawas Diri. Dalam majalah itu, SK Trimurti banyak mengangkat masalah perempuan dan pekerja anak. Dia begitu giat mengurusi perlindungan anak yang dipekerjakan oleh industri. Selain itu SK Trimurti banyak memberikan ajaran kantong bolong, ajaran dimana manusia menjauhkan diri dari materialistis dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Ajaran ini diakuinya memberi dampak agar manusia semakin sering menolong satu sama lain dan tidak egois.

Pada sisa hidupnya, SK Trimurti sempat ikut menandatangani Petisi 50 mengkritik pemerintahan Orde Baru. Di usianya yang semakin sepuh, SK Trimurti sempat mengalami bermacam penyakit yang membuatnya harus bolak-balik rumah sakit. Untungnya, pemerintah tidak tinggal diam pada tokoh perempuan. Sejumlah donasi diberikan untuk pengobatan SK Trimurti pada masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono.

SK Trimurti wafat 20 Mei 2008 pada usia 82 tahun. Sang inspirasi perempuan Indonesia ini terbukti terus memperjuangkan kesetaraan hak dan akses dalam hal pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan pilihan politik antara perempuan dan laki-laki. Dia adalah api yang harus terus nyala di dalam hati perempuan Indonesia.

SK Trimurti adalah lentera yang memberi harapan bagi perempuan Indonesia dan perempuan di seluruh dunia, perempuan harus berdiri bagi sesame perempuan. Perempuan dan laki-laki adalah partner kerjasama untuk kehidupan yang lebih baik.

Sumber:

Jazimah, Ipong. S.K. Trimurti: Pejuang Perempuan Indonesia. 2016. Jakarta. Penerbit Buku Kompas.

Artikel Terkait