Bagi kebanyakan orang yang sekolahnya sudah selesai, masa SMA merupakan masa yang paling menyenangkan. Di masa itu, mungkin awal bagi mereka menemukan arti persahabatan, bolos bareng saat jam pelajaran, nyontek bareng pas ulangan, suka sama seseorang tapi tak berani nembak, atau awal mengenal rasanya dicintai dan mencintai.

Saking berkesannya, Chrisye pun mengabadikan kenangan manis semasa SMA lewat lagunya yang berjudul “kisah kasih di sekolah”. Potongan liriknya seperti ini:

Sungguh aneh tapi nyata, takkan terlupa / Kisah kasih di sekolah dengan si dia / Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah / Tiada kisah paling indah, kisah-kasih di sekolah

Meskipun secara eksplisit Chrisye tak menyebutkan dalam lirik lagunya, masa sekolah yang ia maksud adalah masa SMA. Namun, kita bisa berkesimpulan lewat seragam putih abu-abu yang dikenakan oleh pemeran dalam video klip tersebut. 

Tapi terlepas dari kisah asmara, mengenang masa SMA membuat pikiran saya tertarik ke satu dekade lalu, pada kisah maraknya kehadiran geng di kalangan pelajar.

Saya menyebutnya marak, karena bukan tanpa alasan. Coba Anda bayangkan, setiap kelas hampir punya satu geng yang biasanya beranggotakan minimal tiga orang, jika dikalkulasikan dari kelas satu hingga kelas tiga, dengan klasifikasi kelas A hingga F, sudah bisa dipastikan jumlahnya tentu banyak, bukan?

Selain jumlah, juga yang tak kalah menarik, penamaan geng yang cukup unik, mulai dari nama hewan seperti Bunglon, Tumpang (bahasa Makassar untuk menyebut kodok), Salamander, sampai nama yang menggunakan istilah-istilah asing seperti Monday Morning (Monmor), Backdoor, Mozart dan beberapa nama lainnya. Namun, meskipun demikian kehadiran mereka, tak lantas memicu aksi baku hantam di sana-sini.

Ramainya eksistensi geng di kalangan pelajar mendorong salah seorang sahabat saya yang punya tingkah konyol, untuk ikut berpartisipasi meramaikan dunia pergengan di sekolah. Tanpa pertimbangan matang, dengan beranggotakan empat orang, kami pun mantap dan memberi nama geng kami dengan sebutan “No Signal”.

Pemilihan nama ini pun tak memiliki landasan filosofis, hanya diperoleh tanpa kesengajaan, saat ibu guru menemukan kendala menggunakan proyektor untuk menyampaikan materi pelajaran. Alih-alih materi, layar proyektor malah menampilkan latar biru dengan tulisan “No Signal. 

Entah mengapa, melihat ibu guru kebingungan, saya dan teman satu geng saling lirik satu sama lain sambil mesem-mesem. Mungkin kami sepemikiran jika ibu guru tampaknya tak terlalu cakap mengoperasikan proyektor. Dan sialnya, itu cukup menjadi bahan kejenakaan buat kami.

Biasanya, untuk membangun citra geng di antara pelajar seantero kabupaten khususnya di sekolah, para anggotanya menunggangi siaran radio. Setiap sore, penyiar radio sudah bergelut dengan isi pesan yang didominasi kaum pelajar. Cukup dengan biaya SMS dua ratus rupiah, kami sudah bisa eksis.

Selain memanfaatkan siaran radio untuk mendongkrak popularitas geng, biasanya meja serta bangku sekolah juga turut jadi sasaran. Kami menuliskan nama geng lewat kreasi font yang beragam dengan mengandalkan tipex, pulpen, spidol, dan kemampuan seni seadanya.

Maka tak jarang, selain berisi kunci jawaban berupa definisi dan rumus-rumus pelajaran yang digunakan untuk menyontek, meja dan bangku juga meriah dengan hadirnya nama-nama geng.

Nah, untuk perkara nyontek, nasib saya pernah sial betul. Coba Anda bayangkan, saat ulangan matematika sedang berlangsung. Waktu itu, saya dengan pedenya mengisi soal satu per satu tanpa merasakan kendala sedikitpun. Singkat cerita, saat semua pertanyaan sudah rampung saya jawab, tiba-tiba salah seorang sahabat satu geng nyolek saya dari belakang. Tentu, saya sudah paham maksud blio.

Saya mengangkat dengan bangga kertas jawaban, pada posisi yang mantap dijangkau oleh pandangan sahabat saya. Namun, heran saja, Ia terdengar sedang berusaha menahan tawa setelah urusan contek-menyonteknya rampung, sekelebat perasaan saya mengatakan ada yang tak beres.

Benar saja, keesokan harinya saat guru matematika menyampaikan hasil ujiannya, membuat saya plongah-plongoh, karena di luar dugaan, nilai yang saya perolehan tak sesuai ekspektasi, hasilnya malah berbanding terbalik.

Sialnya lagi, sahabat saya bukannya prihatin, malah menjadikan saya sebagai bahan kejenakaan dengan menyebut-nyebut beragam jenis menu olahan telur: telur rebus, telur mata sapi, telur dadar juga kacang telur.

Namun, menjadi bahan kejenakaan mereka, bukanlah perkara yang lantas membuat saya murka, toh saya juga bisa ambil bagian dalam menikmati kejenakaan itu. Lagi pula, bagi saya membangun hubungan persahabatan dengan candaan yang melewati pakem adalah hal wajar, tentu tak akan ada perasaan tersinggung karena sebagai sahabat satu geng, kami sudah saling memahami satu-sama lain.

Tentu, kenangan-kenangan masa SMA, telah tersimpan rapi dalam rak ingatan saya, dan bertamasya ke masa itu, akan selalu megingatkan pada kekonyolan bersama sahabat satu geng yang kadang bikin saya mesem-mesem sendiri.