Beberapa waktu ini, warganet seakan tersapu oleh nostalgia. Sepertinya, banyak yang rindu akan acara-acara komedi yang dulu menghibur kita. Bahkan banyak yang berkata bahwa format acara yang sekarang (dengan nama yang sama) tidak selucu dulu. Opera Van Java (OVJ) adalah salah satu dari acara tersebut.

Acara yang tayang dari 2008 sampai 2013 ini memiliki konsep yang unik. Wayang orang ala Jawa digunakan sebagai format acara, lengkap dengan dalang dan sinden. Akan tetapi, cerita dikemas dan dijalankan secara modern dan fleksibel. Di sini, para wayang memiliki free reign dalam menjalankan cerita. Begitu bebas, sampai para wayang sering melanggar benang merah cerita.

“Jadi dia (dalang) menceritakan tentang Sangkuriang, kita bertiga (para wayang) malah cerita Robocop,” tandas Sule (youtube.com, 2019). Pelanggaran inilah yang sering membuat dalang marah. Campuran ngawur dan ngamuk inilah yang menimbulkan tensi komedi di antara mereka.

Lantas, apa saja unsur-unsur acara ini yang menggelitik perut kita? Dalam rangka menjawabnya, mari kita mulai dengan mengidentifikasi pada pengecer jasa tawa di acara ini.

Pertama, Sutisna alias Sule sebagai punggawa lawak. Dalam kelompok ini, Sule adalah pemimpin de facto. Talenta komedinya yang tumbuh dari apresiasi dan praktek bobodoran Sunda membuat Beliau mampu melakukan berbagai hal. Bernyanyi medley? Menciptakan lagu lucu? Dikerjai? Mengerjai? Double cast? Beliau bisa melakukan semua itu dengan apik.

Kedua, Andre Taulany sebagai penanggap dan korban utama Sule. Latar belakang Beliau sebagai mantan vokalis Stinky memberikan kesan cool tersendiri. Meski demikian, Beliau juga bisa melawak dan cocok menimpali Sule dengan berbagai celetukannya. “Andre tuh dia AC-DC. Dia mancing bisa, jadi objek juga bisa,” kata Sule.

Ketiga, Parto sebagai dalang pengarah jalan komedi. Di antara lima sekawan ini, Beliau memiliki jam terbang yang paling tinggi. Sudah melawak sejak 1978, dalang Parto mampu membaca situasi pemain dengan sangat cermat. Sehingga, respon yang diberikan ikut menambah jenaka jalan cerita. Terkadang dalang bisa marah, namun juga bisa ikut kacau bersama para wayang.

Keempat, Aziz Gagap sebagai raja gimik. Pelawak satu ini bisa menggunakan dan melakukan apa saja untuk membuat keanehan. Mulai dari berdandan sebagai Paula Godzilla, boneka Susan, sampai kangguru berkepala kuda. Hanya dengan melihat Beliau, penonton dan para wayang bisa terpingkal-pingkal. Selanjutnya, keanehan ini menjadi bahan lawakan untuk meledakkan kantong tawa.

Kelima, Nunung sebagai diseminator tawa. Sejak berkiprah di Srimulat, Beliau memang terkenal mudah sekali tertawa. Suara tawa Beliau juga menggelikan dan membuat semua penonton ikut tertawa bersamanya. Apalagi kalau sudah sampai ngompol di panggung. Tanpa peduli lawakannya lucu atau tidak, semua penonton pasti tertawa melihat Beliau terkencing-kencing.

Chemistry di antara kelima talenta ini memunculkan kelucuan yang alami. Masing-masing wayang dapat membaca apa yang akan dilakukan lawan mainnya. Sehingga, ada sebuah spontaneous order yang muncul di panggung. Untaian setiap lawakan seakan menjadi chaotic sequence yang harmonis.

Dalam menciptakan benang merah komedi, para wayang OVJ memakai tiga cara; slapstick, gimik, dan musikalisasi. Namun, slapstick mendominasi permainan karena kehebohan yang diciptakannya. Kebanyakan momen ikonik yang dikenang berasal dari gaya lawak ini. Masih ingat ketika Sule kecebur sumur? Parto dan Nunung berantem tanpa juntrungan? Inilah manifestasi slapstick modern kita.

Akan tetapi, slapstick ala OVJ bukan tanpa akar. Setyowati et al (2012:1) menyatakan bahwa slapstick OVJ adalah perkembangan dari plesetan Dagelan Mataram. Dagelan Mataram sendiri adalah bagian integral dari budaya Jawa. Sehingga, kita bisa mengatakan bahwa OVJ adalah evolusi slapstick dari Dagelan Mataram sebagai produk budaya kita.

Lebih jauh lagi, Setyowati et al (2012:2) menjabarkan evolusi ini secara rinci. Jika plesetan Dagelan Mataram terbatas pada verbal, maka plesetan OVJ sudah merambah luas. Ada inti tema lakon, moralitas cerita, watak para tokoh, kostum, musik, dan rancang panggung yang dibuat nyeleneh. Gaya slapstick berpengaruh besar terhadap tiga keanehan pertama.

Akan tetapi, slapstick sendirian tidak cukup. Gaya ini hanya gong dari satu kerangka kerja lawak. Dia harus ditopang lewat gimik dalam kostum dan rancang panggung. Selain itu, musik berperan krusial untuk menghipnotis penonton.

Dalam soal kostum, gimik diwujudkan lewat unsur penampilan yang kocak. Aziz Gagap sebagai raja gimik mengandalkan dandanan wajah dan wig yang berantakan. Sementara, Sule menggunakan sanggul super besar dan bertingkah petakilan sebagai Mbok Genyeng atau karakter perempuan lain. Sehingga, kostum-kostum ini menunjukkan niat para wayang untuk melucu.

Umumnya, rancang panggung OVJ dipenuhi dengan properti dari sterofoam. Selanjutnya, sterofoam ini digunakan para wayang untuk melucu. Caranya? Tentu dengan slapstick. Properti tersebut digunakan untuk menghajar pemain lain atau memukul diri sendiri. Meski sempat diprotes beberapa pihak, penghancuran properti sterofoam tetap menjadi gimik yang diingat pemirsa.

Terakhir adalah musik. Dalam jalan acara, para wayang (khususnya Sule dan Andre yang mumpuni dalam musik) sering bernyanyi. Ada berbagai lagu yang diciptakan dari acara ini. Mulai dari Cici Lalang, Follow Me, Saranghaeyo, dan lain sebagainya. Apalagi para wayang juga mengeluarkan pelesetan lagu-lagu pop. Ada Cenat Cenut, Andeca-Andeci, dan lain sebagainya.

Namun ada satu fitur musik yang membuat penulis kagum; medley spontan. Berbagai lagu dari genre yang berbeda bisa dirangkai dengan ciamik. Bayangkan, dari Merpati Putih-nya Chrisye bisa berakhir dengan lagu Boulevard­ dari Dan Byrd. Hanya orang-orang dengan musikalitas tinggi yang mampu melakukannya.

Kesimpulannya, OVJ adalah evolusi slapstick dari budaya kita. Keberadaannya membawa plesetan ala Dagelan Mataram keluar dari batasan verbal menuju unsur penampilan lawak lainnya. Dengan evolusi ini, budaya kita menjadi semakin kompleks dan jutaan orang menemukan hiburan segar.

Hiburan segar yang bukan sekedar hiburan. Dia juga membuktikan kreativitas self-enrichment dari budaya Indonesia.