Wiraswasta
3 tahun lalu · 311 view · 2 min baca menit baca · Gaya Hidup collectie_tropenmuseum_portret_van_raden_ajeng_kartini_tmnr_10018776.jpg
Foto: id.wikipedia.org

Mengenang Kartini

Sejarah mencatat seorang perempuan di awal tahun 1900-an bernama RA Kartini sebagai orang yang memiliki gagasan revolusioner khususnya untuk kaum perempuan. Berkat gagasan emansipasi yang diperjuangkannya, setiap 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Jika menceritakan biografinya, tentu membutuhkan banyak referensi, tapi mari kita cermati apa yang membuatnya begitu dikenal sampai saat ini.

Ya dia mempunyai gagasan yang revolusioner. Derajat perempuan dan laki-laki haruslah sama. Sebab, pada saat itu derajat wanita lebih rendah dari laki-laki. Wanita dibesarkan tanpa harus memiliki ilmu pengetahuan yang baik. Cukup bisa memasak dan melayani suami dan anak dengan baik itu saja sudah cukup.

Coba perempuan saat itu hadir di tengah-tengah kehidupan masyarakat sekarang, saya rasa dia akan kesulitan mendapatkan jodoh khususnya di daerah kota metropolitan. Bagaimana tidak, seseorang yang berpendidikan tinggi dan mandiri saja masih sulit mendapatkan jodoh.

Pada 21 April 2016, tepat 112 tahun Kartini wafat. Lalu dengan cara seperti apa kita memperingati hari besar tersebut? Apakah cukup dengan buat status di Facebook, Twitter, dan media sosial lain dengan “Selamat Hari Kartini. Semoga perempuan Indonesia bisa lebih baik”. Saya rasa, anak SD kelas 1 pun bisa melakukan itu dan membuat status di media sosial sebagai salah satu wujud memperingati Hari Kartini.

Mari kita kembali kepada apa yang membuat Kartini dikenal sampai saat ini, yaitu ide dan gagasan yang revolusioner. Saya rasa itu lebih tepat dan mungkin  itulah yang diharapkannya untuk perempuan-perempuan Indonesia.

Jika Kartini hadir di tengah-tengah kita melihat keadaan perempuan generasi bangsa sekarang, mungkin dia akan sedih. Bagaimana tidak sedih, banyak pemudi di usia produktif  sudah memakai narkoba, seks bebas, dan hamil di luar nikah. Lebih menyukai kumpul di mal sambil melakuka swafoto bersama makanan dibandingkan duduk diskusi bersama menyampaikan ide pemikiran dalam sebuh forum pemikir dan membaca buku-buku literatur.

Tentunya Kartini mempunyai gagasan yang revolusioner karena ia hobi membaca. Lihat saja banyak sahabat pena Kartini di luar negeri sampai akhirnya membuat tulisan yang sangat terkenal, Habis Gelap Terbitlah Terang. Kartini saat itu berjuang melawan keadaan tetapi tetap taat kepada orangtua.

Kita juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan generasi perempuan bangsa Indonesia. Banyak pihak yang terlibat untuk mewujudkan Kartini-Kartini Indonesia. Keluarga, lingkungan sosial mempunyai peran besar untuk menciptakan bibit-bibit Kartini. Keluarga seharusnya lebih membatasi anak-anak dari acara televisi yang kurang mendidik. Memberikan smartphone untuk anak harus mempertimbangkan usia dan kematangan mental.

Banyak tindakan asusila yang diawali kebiasan menonton film porno. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai lembaga yang berwenang untuk memberikan peringatan kepada stasiun televisi harus lebih tegas, jangan sampai hanya judul acaranya saja yang diganti tetapi bentuk acara tetap sama.

Lingkungan sekolah dan bermain menjadi rumah kedua seorang remaja perlunya selektif memilih teman karena bisa memengaruhi pola berpikir dan kemudian prilakunya. Usia remaja menjadi transisi kehidupan untuk belajar hidup mandiri. Jika di awal perkembangan sudah salah, kemungkinan besar akan kesulitan menyampaikan gagasan revolusioner.

Sudah cukup Kartini Indonesia tertidur. Pada 21 April 2016 dia harus bangun dan menyampaikan gagasan revolusioner terbaiknya untuk Indonesia.

Artikel Terkait