2 tahun lalu · 440 view · 3 min baca · Agama 64927.jpg
Ustad Alfan Wahyudin

Mengenang Canda dan Keceriaan Bersama Ustad Alfan

Saya agak sedikit kebingungan untuk mengulas sosok ustad yang satu ini. Baru menulis namanya di judul saja saya sudah hampir ketawa sambil teringat-ingat ekspresi wajahnya ketika ia mengajar dan melawak di kelas saya.

Ya, ustad yang satu ini lebih relevan untuk dikategorikan sebagai jelmaan Sule Sutisna ketimbang sebagai ustad alim-saleh yang ahli dalam beretorika di mimbar-mimbar mushalla. Ustad yang satu ini dibekali selera humor yang luar biasa.

Sisi humor yang melekat dalam dirinya ini, pada akhirnya, mampu membuat para santri riang dan nyaman ketika mereka belajar di kelas-kelas mereka. Saya termasuk manusia yang beruntung bisa mengenal sekaligus diajar oleh beliau. Selain asyik dan menghibur, ustad ini juga memiliki kemampuan linguistik yang memukau.

Selama empat tahun lamanya (dari kelas tiga sampai kelas enam) saya dan teman-teman diajari bahasa Arab. Materi yang diajarkan tidak pernah berubah-berubah, hanya satu, yaitu Muthala’ah. Muthala’ah ini semacam kumpulan narasi-narasi berbahasa Arab yang dinukil dari sejumlah referensi dan beberapa kitab.  

Materi ini dijadikan sebagai salah satu materi wajib di pesantren. Tujuannya ialah melatih kemampuan santri dalam membaca, menganalisis dan tentunya bercerita dalam bahasa Arab.

Setiap masuk kelas beliau punya cara berjalan yang khas. Kaki masuk melangkah, tatapan matanya langsung tertuju ke arah siswa. Baru masuk saja kadang sudah bisa membuat para santri tertawa. Dan ketika belajar dimulai, pasti selalu ada saja santri yang menjadi korban celotehan-celotehannya.

Tapi justru sisi itulah yang membuat para santri rindu dengan kehadiran ustad yang satu ini. Mereka merindukan kedatangan beliau bukan hanya untuk belajar, tapi untuk diajari melawak sampai mereka tertawa celangap sambil terbahak-bahak.

Saya adalah korban nyata dari kejeniusan lawakannya. Sayang seribu sayang, saya tidak bisa merekam semua lawakan-lawakannya itu.

Saya berusaha untuk mengingat tapi tak kunjung ingat. Andai kata dia mau merekam joke-joke-nya itu di sosial media, saya kira dia bisa mengalahkan Raditya Dika yang kerap tampil di layar kaca.

Dalam konteks kehidupan beragama, keberadaan ustad-ustad humoris seperti beliau ini saya kira penting. Keberadaan kaum agamawan yang suka dengan humor dan kelakar itu menurut saya dibutukan demi terwujudnya kehidupan beragama yang segar, cerah, penuh gairah, tidak membosankan, dan pastinya membuat kita nyaman.  

Saya menduga keras bahwa orang-orang yang suka menampilkan agama dengan wajah seram dan serius itu besar kemungkinan mereka memiliki selera humor yang rendah. Karena itu, tidak heran kalau mereka gampang tersinggung dan mudah mengekspresikan amarah.    

Padahal, humor dan kelakar itu penting. Bukan saja untuk menghibur diri, tetapi ia juga diperlukan untuk mereduksi kekakuan dan kegarangan wajah agama yang sering kita lihat beberapa bulan belakangan ini.

Di tengah meruyaknya ajaran keagaman yang sarat kebencian, saya kira kita perlu membangun corak keislaman yang humoris penuh canda. Islam yang tak hanya melulu berbicara tentang dalil-dalil agama, tapi juga mampu menghadirkan canda dan tawa dalam kehidupan sehari-hari kita.

Simbol Islam humoris yang paling baik di Indonesia itu, menurut saya, tercermin terang dalam diri Gus Dur. Selain dikenal sebagai sosok yang alim—bahkan ada yang mengategorikannya sebagai seorang Sufi—tokoh yang pernah menjadi Presiden Republik Indonesia ini juga dikenal sebagai orang yang punya selera humor tinggi.

Akhirnya Islam yang ditampilkan Gus Dur adalah Islam yang menyenangkan, bukan Islam yang menyeramkan. Islam Gus Dur adalah Islam yang sarat dengan keasyikan, bukan Islam yang disesaki dengan keseriusan dan marah-marahan.

Dengan mengenang sosok humoris seperti Gus Dur, saya menjadi sadar bahwa dalam beragama dan mendakwahkan agama itu kita tak selamanya harus menampilkan ketegasan dan kekerasan seperti halnya kita berada dalam arena peperangan.

Di samping memahami firman-firman Tuhan, beragama juga membutuhkan tawa dan candaan. Agama akan mudah diterima orang kalau tampil dengan wajah yang tenang, sejuk, santai, tidak mudah marah, tidak gampang tersinggung, dan yang pasti, tidak alergi dengan candaan.

Sekarang ini kita hidup di negeri yang damai, bukan negeri perang seperti 1400 tahun silam. Karena kita hidup di negeri yang damai, maka yang kita butuhkan itu adalah corak keislaman yang humoris, bukan wajah Islam yang sadis dan bengis. Islam bengis cenderung membuat orang ketakutan, tapi Islam humoris akan mampu membuat orang lain asyik dan nyaman.

Islam humoris akan mampu membangun kehidupan beragama yang segar dan menggairahkan, sementara Islam yang bengis hanya akan membuat orang-orang di luar agama kita lari dan ketakutan.

Sejak di pesantren, saya melihat cerminan Islam humoris itu dalam diri Ustad Alfan. Selain tampan dan suka tampil elegan, ia juga mampu menjadikan Islam yang dia ajarkan kepada para santri menjadi Islam yang cair, asyik, tenang, santai dan menceriakan.

Salam untuk Ustad Alfan dari bumi perantauan.

Kairo, Saqar Quraish, 13 Juli 2017  

Artikel Terkait