Belajar filsafat adalah belajar tentang bagaimana berpikir dengan cara sederhana. Dimulai dari hal kecil, seperti mempertanyakan diri sendiri.

Dalam buku Dunia Sophie karya Jostein Gaarder, diceritakan bahwa suatu hari, sepulang sekolah, Sophie Admundsen tiba-tiba dikejutkan dengan sebuah surat tanpa nama dan alamat pengirim yang berisi pertanyaan, “siapa kamu? Dari manakah datangnya dunia ini?”

Sebuah pertanyaan mendasar yang tak pernah terpikirkan dan dipertanyakan oleh Sophie sebelumnya dan mungkin juga Anda. Kemudian, sejak saat itu, ia mulai mempelajari filsafat. Ya, belajar filsafat salah satunya adalah sebuah upaya untuk mengenali diri sendiri. Hal ini jugalah yang saat ini saya tekuni sejak beberapa tahun terakhir.

Sesuai judulnya, tulisan ini membabar tentang seorang filsuf sekaligus penyair yang berasal dari India, Sir Allama Muhammad Iqbal (1877-1938) (yang pada 21 April kemarin adalah peringatan 81 tahun kematiannya) dengan bukunya yang monumental The Reconstruction of Religions Thoughts in Islam. Buku ini sesungguhnya adalah kumpulan hasil ceramahnya di berbagai tempat, dilengkapi juga dengan syair-syairnya.

Sebelum mengenal pemikiran Iqbal lebih lanjut, saya membuka dengan apa yang dipertanyakan oleh Iqbal, “bagaimana Tuhan menciptakan kehidupan atau alam semesta ini?”

Pertama, Tuhan menciptakan kehidupan ini tidak main-main (Qs. Ad-Dukhan: 38-39), sudah ada perencanaan yang matang, bukan bimsalabim jadi atau seperti kata teori Bigbang bahwa alam terbentuk karena ada dentuman besar, bukan. Ini sebentuk isyarat bahwa jangan main-main dalam hidupmu! Kejarlah tujuanmu!”.

Kedua, kehidupan ini harus direnungkan (Qs. Ali Imran: 190-191). Bagaimana cara mengejar tujuan hidup? Yaitu dengan berpikir, merenung.

Ketiga, alam semesta tidak statis, selalu berkembang, termasuk manusia (Qs. Fathir: 1). Keempat, alam dapat berubah (Qs. Al-Ankabut: 20). Jalan-jalanlah di bumi, amatilah bagaimana alam diciptakan, gunung ditinggikan, bumi dihamparkan. Dan, ayat ini cocok juga bagi mereka yang suka travelling yaitu melihat Kemahakuasaan Allah.

Setelah Tuhan menciptakan kehidupan dan alam semesta, lalu Allah menciptakan manusia. Pertanyaannya, apa itu mausia? Siapa dia? Untuk apa dia diciptakan? Iqbal cukup gamblang memberi penjelasan terkait hal ini:

Pertama, manusia itu istimewa, pilihan Tuhan (Qs. Thaha: 122). Setiap manusia itu istimewa karena dia adalah pilihan Tuhan. Kedua, manusia adalah wakil Tuhan di bumi (Qs. Al-Baqarah: 30). 

Ketiga, manusia pengemban amanah, sepaket dengan segala kebebasan yang diberikan Tuhan plus risikonya (Qs. Al-Ahzab: 72) apa pun yang dilakukan oleh manusia, semuanya pasti akan dipertanggungjawabkan, ada balasannya. Amanah itu berat (Dilan gak akan kuat, eh). Keempat, manusia adalah partner Tuhan (Qs. Al-Ra’d: 11).

Manusia: Aktus dan Potensia

Dalam diri manusia berdasarkan filsafat Iqbal, terdapat khudi (egokecil) lawannya adalah khuda (ego besaryaitu Tuhan). Menurut Iqbal, manusia adalah ego kecil yang memiliki potensi yang besar. Potensi ini bersifat spiritual. Sedangkan Actus bersifat material atau minimal memungkinkan registrasi indrawi.

Manusia punya banyak potensi dan potensi itu butuh diaktualkan. Sebagai contoh, kita punya potensi menjadi orang besar, punya potensi jadi wali atau sufi, semua potensi-potensi itu akan terwujud jika diaktualkan. Itulah mengapa kita dari kecil diusuruh untuk punya cita-cita setinggi-tingginya agar potensi yang ada dalam diri bisa terus diaktualkan.

Namun, banyak dari kita yang tidak percaya diri akan cita-cita tersebut. Inilah yang dikritik oleh Iqbal bahwa penyakit umat Islam dari dulu sampai di zaman modern ini adalah ketidakpercayadirian, yaitu tidak percaya diri dengan kemampuan sendiri. Akhirnya menarik diri dari dunia dan tidak bangun-bangun sampai hari ini.

Ego: Kesendirian yang Esensial

Ego berarti aku “diri” (self), keakuan atau ada. Apakah Anda yakin bahwa Anda ada? Dengan cara apa Anda bisa membuktikan bahwa diri Anda memang ada? Kata Iqbal, untuk membuktikan bahwa dirimu ada, yaitu saat kamu bilang, “aku ingin,” maka itulah dirimu.

Ego memiliki ciri personalitas, kemandirian dan individualitas atau lebih tepatnya, ciri ego itu adalah kesendirian yang esensial. Contoh, Anda sakit, dokter tahu bahwa Anda sakit tetapi dia tidak dapat merasakan sakit yang Anda rasakan.

Ego atau diri memiliki dua sifat dasar, kebebasan dan kreativitas. Bagi Iqbal, Islam butuh dua hal ini, yaitu butuh manusia yang bebas dan kreatif. Jadilah orang yang bebas dan kreatif di mana kreatif tidak bisa dilakukant tanpa kebebasan, dua-duanya harus sejalan baru ego akan hidup.

Tidak berhenti di situ saja, ego atau diri juga harus senantiasa diwarnai dengan; pertama, percaya diri (orang yang minder egonya tidak akan hidup). Kedua, menghargai diri (ia kita punya banyak kelemahan tapi tetap hargai diri kita karena kita adalah makhluk pilihan Tuhan. Tidak menghargai diri berarti telah mengecewakan Tuhan). Ketiga, yakin pada diri (kita harus yakin bahwa kita pasti bisa melakukan apa yang ingin kita capai).

Keempat, menjaga diri (orang yang tidak menjaga dirinya, maka egonya tidak berkembang. Misalnya Anda sakit, lalu Anda menyepelekan sakit Anda sehingga tidak mau berobat dengan mengatakan, “paling nanti juga sembuh sendiri.” Ini sama dengan tidak menjaga diri. Dirimu bukan milikmu, dirimu adalah milik Allah, titipan). Kelima, penegasan diri (tegaskan dirimu, jangan malas!).

Tujuan ego adalah berproses ke arah yang lebih baik. “Tujuan ego bukan untuk melihat sesuatu, melainkan menjadi sesuatu, menjadi terus-menerus,” tegas Iqbal. Tidak hanya itu, ego juga dapat menguat dan melemah. Agar ego kuat, warnailah dengan;

Pertama, cinta (isyq) memunculkan ego yang tidak egois. Kedua, faqr yaitu berhubungan dengan kesadaran atau kelemahan diri. Manusia adalah makhluk yang lemah sehingga butuh Allah yang Maha Kuat.

Ketiga, semangat dan keberanian. Semangat untuk melakukan hal kecil hingga hal besar, terutama semangat dan berani melakukan kebaikan. Keempat, tenggang rasa, yaitu mau merasakan apa yang dirasakan orang lain untuk menghilangkan sifat egois.

Kelima, kasb alhalal cari yang halal karena yang halal itu menenteramkan sebab yang haram tidak menenangkan, membuat hati gelisah. Jangankan yang haram, yang subhat saja ditinggalkan. Dan keenam, bekerja orisinil dan kreatif.

Selain itu, lanjut Iqbal, jangan lakukan hal-hal berikut ini karena dapat melemahkan ego; pertama, takut (fear). Anda takut besok makan apa, jodoh Anda siapa, dan ketakutan semacamnya akan dapat melemahkan ego.

Kedua, minta-minta (sual), menggantungkan diri pada orang lain. Ketiga, perbudakan (slavery), dihegemoni orang, diatur-atur, ditindas. Keempat, membanggakan keturunan atau silsilah keluarga.

Puncak dari itu semua, yaitu suksesnya ego pasti butuh orang lain, butuh masyarakat. Oleh karena itu, manusia tidak boleh lari dari dunia dan ego akan utuh jika ditumbuhkan kesadaran mistik dan profetik. 

Terakhir, kata ada quote dari Iqbal, “god is not a dead equation,” (Tuhan bukan rumus mati yang tidak bisa ditawar, yang mati itu adalah gagasan kita tentang Tuhan).

Jadi, inti belajar filsafat itu adalah mengenali diri sendiri. Nah, setelah membaca tulisan singkat ini, apakah Anda sudah mulai mengenali diri Anda? Apakah Anda sudah mulai menyukai filsafat? Jawabannya ada pada diri Anda sendiri.

Terakhir, saya tulis potongan sajak Iqbal tentang diri:

Titik yang berkilau yang disebut diri
Selalu memendarkan percikan kehidupan di dalam tubuh kita.
Melalui cinta ia semakin bertahan,
Semakin hidup semakin kukuh, dan semakin berkilau. 
Melalui cinta esensinya berkobar
Dan perbendaharaan tersembunyinya berkembang
Diri membutuhkan api dari cinta
Dan belajar bagaimana mencahayai cahaya dengan api.
Adalah cinta yang membawa kedamaian dan 
begitu pun dengan konflik di dunia ini
Cinta adalah air kehidupan dan 
juga adalah pedang tajam
Belajar seni menjadi pencinta dan berhasrat mencinta.
Berjuang mencapai mata Nuh dan 
Mengidamkan hati Ya’qub.
Menyingkap alkimia di tangan berlumpur
Dan mencium gerbang kemuliaan.