Belakangan ini media nasional memuat berita menggemparkan mengenai virus cacar monyet (Monkeypox) pertama yang terjadi di benua Asia yaitu di Singapura. Sehingga Virus ini ramai diperbincangkan di negara-negara sekitarnya.

Berawal dari Pemerintah Singapura yang mengumumkan dan mengkonfirmasi bahwa benar adanya warga negara Nigeria yang mengikuti lokakarya di Singapura telah terinfeksi virus ini pada awal Mei 2019 lalu.

Namun, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia menepis rumor yang beredar bahwa virus tersebut telah menyebar di Indonesia. Karena tidak ditemukannya tanda-tanda kehadiran virus cacar monyet di wilayah nusantara. Dan meminta masyarakat untuk tidak merasa khawatir dan panik berlebihan.

Meski demikian, pemerintah tidak tinggal diam, wilayah yang berbatasan dekat dengan Negri Singa ini tetap diawasi dengan ketat di bandara serta pelabuhan. Thermal Detection (pengukur suhu tubuh) telah dipasang dibeberapa titik kedatangan dari Singapura dan Malaysia, seperti Pelabuhan Internasional di Batam dan Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim (SSK) di Pekanbaru.

Penyakit cacar monyet ini sendiri adalah penyakit yang banyak ditemui di beberapa wilayah di Afrika, dan jarang di temui di Asia. Afrika Tengah dan Afrika Barat adalah tempat berasalnya penyakit ini. Bisa dikatakan penyakit  ini disebabkan oleh virus  langka.

Kasus monkeypox ini pertama kali ditemukan pada tahun 1970 di Republik Demokratik Kongo. Dan mewabah untuk kedua kalinya pada tahun 1996 hingga 1997 di Kongo.

Kasus cacar monyet pertama di luar Afrika ditemukan pada tahun 2003 di Amerika Serikat. Sebagian besar pasien ini diduga telah melakukan kontak fisik  dengan anjing padang rumput peliharaan yang terinfeksi oleh tikus Afrika yang diimpor ke Amerika Serikat.

Dan pada 8 Mei 2019 lalu, seorang laki-laki berusia 38 tahun dirawat di bangsal isolasi National Center for Infectious Diseases Singapura. Setelah dikonfirmasi sebagai kasus cacar monyet pertama, sebanyak 22 orang terdekatnya telah dikarantina.

Penyakit ini merupakan penyakit zoonotic atau ditularkan dari binatang kepada manusia atau sebaliknya. Manusia yang berinteraksi atau mengkonsumsi daging hewan terinfeksi ini akan ikut tertular. Virus cacar ini kebanyakan ditansmisikan ke manusia melalui jenis satwa liar seperti primata (monyet), tikus atau hewan pengerat lainnya.

Gejala yang ditimbulkan monkeypox tidak serta-merta langsung terlihat. Biasanya dapat dilihat sekitar 14-21 hari setelah terpapar virus.

Gejala monkeypox ini sebenarnya lebih ringan daripada cacar air. Seperti demam, sakit kepala hebat, nyeri otot, nyeri punggung, pembengkakan getah bening, dan kekurangan energi. Sedangkan ruam pada kulit biasanya muncul setelah 1-3 hari demam dimulai.

Dalam kurun waktu 10 hari, ruam yang timbul dikulit tersebut dapat berevolusi menjadi lepuhan kecil berisi cairan, bintil dan akhirnya kerak. Untuk menghilangkan kerak tersebut, diperlukan waktu hingga tiga minggu, meskipun pasien telah menjalani perawatan untuk cacar monyet.

Dengan fakta belum ditemukannya obat khusus untuk menangani virus cacar monyet ini, maka penanganannya pun hanya dilakukan berdasarkan gejala yang dialami pasien.

Perlu diingat, bahwa penyakit ini merupakan penyakit yang dapat menular bahkan dengan cepat. Individu yang terjangkit atau positif tertular penyakit ini harus segera dikarantina dan ditangani secara khusus agar tidak menyebar ke orang lain.

Manusia yang memiliki kekebalan tubuh yang lemah, lebih rentan tertular daripada yang memiliki kekebalan tubuh kuat. Virus ini dapat menyebar melalui kontak langsung dengan penderita. Misalnya melalui percikan cairan tubuh si penderita seperti batuk, bersin, bahkan darah.

Namun, dikarenakan penyakit ini berasal dari hewan, maka hanya sedikit kasus cacar monyet yang ditularkan manusia ke manusia. Direktur Eksekutif NCID, Profesor Loe Yee Sin mengatakan “Rata-rata, setiap pengidap akan menularkan infeksi pada kurang dari satu orang saja. Cacar monyet tidak mudah menular seperti flu. Rantai penularan juga dapat diputus melalui pelacakan kontak dan karantina”.

Monkeypox dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia hingga kematian. Namun begitu, kemungkinan untuk meninggal sangat kecil bila langsung ditangani dengan benar. Terkhusus bagi anak-anak dan balita, akan sangat berbahaya jika sampai terinfeksi.

Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) mencatat 1 dari 10 balita dan anak-anak yang terkena virus monkeyfox meninggal dunia.

Sayangnya belum ada vaksin khusus untuk mengangani monkeypox ini. Studi menunjukkan bahwa pernah ada vaksin veriola yang 85 persen efektif mencegah cacar monyet, namun sudah tidak lagi diproduksi untuk khalayak umum. Oleh sebab itu, cara terbaik menghentikan penyebaran cirus cacar monyet ini adalah dengan mencegah infeksinya.

Agar tidak ikut terjangkit virus ini, hindari bepergian ke daerah-daerah yang sedang mengalami wabah penyakit ini. Juga hindari berkontak fisik dengan orang-orang yang memiliki gejala monkeypox. Batasi mengkonsumsi daging yang tidak dimasak dengan benar. Juga, Kemenkes menghimbau masyarakat untuk menerapkan hidup bersih dan sehat pada diri sendiri, keluarga dan lingkungan.