Berbicara mengenai ziarah, tentu kita sebagai warga Indonesia familiar dengan hal ini. Karena memang, di setiap momen hari besar agama maupun adat-istiadat, seringkali diselingi dengan ritual ziarah, baik itu mengunjungi makam keluarga, sanak saudara, atau tempat suci. 

Ternyata, tak beda dengan Indonesia, Iran pun juga memiliki tradisi ziarah. Menurut Pars Today, disana, ada dua kota yang biasa dijadikan destinasi ziarah, yakni Mashhad dan Qom. Sebab, di dua kota tersebut, disemayamkan jasad dua kakak beradik yang dihormati lantaran keistimewaan khusus serta memiliki garis keturunan ke Rasulullah SAW, yaitu Ali Ar-Ridha dan Fathimah Al-Maksumah.

Komplek makam kedua tokoh ini pun dibangun megah bak istana. Sementara, setiap harinya, selalu ramai dikunjungi peziarah, baik dari lokal maupun mancanegara. Terutama, di hari-hari besar Islam, ramai sekali dipadati kerumunan peziarah. Mengutip Tehran Times, selama bulan Maret hingga April 2011, jumlah peziarah yang datang sebanyak 1,1 juta orang, padahal pada saat yang sama masih terjadi pandemi Covid-19.

Di sisi lain, ada juga beberapa makam selain kedua makam itu yang ramai dikunjungi para peziarah, yakni makam para pendakwah keturunan Rasulullah SAW yang datang menyebarkan agama Islam di tanah Persia, atau biasa disebut disana dengan nama "Emamzadeh". Makam-makam para Emamzadeh ini sendiri tersebar di banyak tempat.

Menariknya, makam-makam para Emamzadeh tersebut dapat kita temukan hampir di setiap kota di Iran. Dan, untuk menandainya, biasanya pada makam itu dibangun kubah seperti masjid. Sehingga, makam tersebut jauh dari kesan menyeramkan, yang ada malah tampak indah. Apalagi, oleh masyarakat setempat biasanya dijadikan pusat kegiatan keagamaan. 

Hal serupa juga terdapat di Indonesia, dimana banyak makam para wali yang tersebar di banyak kota. Dan, biasanya makam tersebut, selain sama ramainya dikunjungi peziarah juga dijadikan pusat kegiatan keagamaan. Oleh karenanya, seringkali kita temui keberadaan makam berada di dalam komplek masjid di Indonesia.

Di Iran, kita tidak hanya menemukan makam-makam para ulama saja. Bahkan, tokoh-tokoh sebelum Islam, seperti Ester di Hamedan, Cyrus di Pasargard, dan Nabi Daniel di Shush juga dapat dengan mudah kita sambangi. Mungkin yang belum mengetahui Nabi Daniel adalah seorang Nabi yang berasal dari Bani Israel yang diakui kenabiannya oleh para pemeluk agama Ibrahimi, yaitu Yahudi, Nasrani, dan Islam.

Termasuk juga makam tokoh-tokoh Islam, seperti Imam Ghazali di Thus dan Ibnu Sina di Hamedan juga ada di Iran. Tak ketinggalan, Sibawaih, seorang ahli bahasa Arab, makamnya juga berada di Shiraz. Dan, semua makam-makam itu, selain dihormati juga terawat dengan baik.

Sebagai salah satu peradaban terkuno, Persia yang kaya akan kesusastraan dikenal dengan penyair-penyair Islam klasik. Uniknya, makam para penyair tersebut tak luput dari perhatian masyarakat disana, sehingga kita dapati adanya bangunan kubah pada makam serta biasanya diperindah dengan pekarangan taman yang luas. Semisal seperti di makam Ferdowsi di Thus, makam Saadi dan Hafez di Shiraz, serta makam Omar Khayyam dan Fariduddin Attar di Nisyabur.

Tradisi ziarah yang disukai oleh masyarakat Iran membuat makam-makam para ulama hingga penyair ini terawat dengan baik. Antusiasme masyarakat terhadap tradisi ini tampak mencolok mata tatkala kita langsung datang kesana. Mulai dari ramainya peziarah yang datang, hingga penghormatan mereka terhadap makam-makam itu. Bahkan, pemerintah Iran telah memasukkan 1.200 situs keagamaannya sebagai Daftar Warisan Nasional Iran, dilansir dari Pars Today

Uniknya Kebiasaan Peziarah Iran

Menurut Afifah Ahmad dalam "Tradisi Ziarah di Negeri Persia", tradisi ziarah seakan menjadi tradisi rutin yang dilakukan di setiap akhir pekan atau hari libur oleh masyarakat Iran. Layaknya berwisata religi, masyarakat disana biasanya datang bersama keluarga untuk berziarah. Lantaran, komplek makam yang asri cukup nyaman bagi para peziarah untuk berkumpul bersama keluarga atau sekedar berteduh selepas berdoa.

Ada satu hal yang menarik perhatian ketika menyaksikan kebiasaan para peziarah di Iran. Yaitu, kebiasaan berbagi makanan ringan, seperti kurma atau permen khas Iran ‘nazri’ antar sesama peziarah. Kadang, malah ada juga yang membawa gandum untuk dibagikan kepada burung-burung di sekitar komplek makam. Ternyata, kebiasaan ini bukan tanpa sebab, melainkan terselip sebuah filosofi bahwa selain berdoa kepada Allah juga perlu membina hubungan baik dengan sesama.

Kemudian, bila memasuki makam, kita akan mendapati betapa ekspresifnya masyarakat Iran ketika berziarah. Tak hanya melakukan pembacaan doa dan shalat sunnah seperti berziarah pada umumnya, peziarah disana juga memegangi serta menyentuh zarih, ruangan kecil yang memagari makam inti. Unik lagi ketika kita berziarah ke makam penyair. Terutama di makam Hafez, masyarakat Iran tidak hanya melafalkan surat al-fatihah saja, tetapi juga melantunkan syair-syairnya di samping pusara makam.

Bila berkaca ke kebiasaan tradisi berziarah di Indonesia, kita dapat temukan banyak kesamaan dengan tradisi berziarah di Iran. Karena, di Indonesia sendiri juga tak kalah banyak makam-makam ulama, seperti wali songo misalnya, dan juga tokoh bangsa, seperti Soekarno yang ramai dikunjungi oleh para peziarah.

Maka, dapat dibayangkan jika tradisi ziarah terus dilestarikan akan banyak sekali dampak positifnya. Mulai dari merawat identitas bangsa dengan mengenang sekaligus meneladani sang tokoh, hingga mengoptimalkan potensi wisata religi yang mana mampu menggerakkan produktivitas masyarakat sekitar makam.