Konsultan
2 tahun lalu · 399 view · 4 menit baca · Gaya Hidup picture-of-love-0.jpg

Mengenal Tipe Pasangan Berdasar Pilkada DKI

Tipe 1: Untuk apa Pilkada

Tak percaya dengan struktur pemerintahan. Sibuk bikin status dan berbagi berita terkait isu adat, HAM, pluralisme dan ketidakadilan sosial. Bersikap bak motivator, share kalimat kutipan tokoh-tokoh ideologis pujaannya. Coba cek handphone-nya, pasti ada koleksi lagu Rage Against The Machine atau minimal lagunya Marjinal. Kalau dia laki-laki, suka merayu pakai kalimat Emma Goldman. Jarang jajan. Harus selalu diingatkan untuk pakai pengharum badan.

Tipe 2: Persetan dengan Pilkada DKI dan segala urusannya.

Tidak pernah mendukung Jokowi dan selalu anti politik elektoral,  sibuk bikin status facebook soal politik borjuasi. Sibuk mengejek kelompok di luar ideologinya. Percaya sepenuhnya dengan keharusan menang kelompok buruh dan tani, tapi lebih sering bikin status ketimbang mengorganisir.

Handphone-nya pasti simpan lagu Internasionale (google sendiri sajalah) dan mungkin Pink Floyd. Pasangan kayak begini biasanya kurang disiplin sama hidupnya. Tapi kalau punya uang selalu mau traktir dan tak ragu minta ditraktir saat tak berduit.

Tipe 3: (Tak) Peduli dengan pilkada DKI dan segala urusannya!.

Saat Pilpres lalu kemungkinan besar ikut dukung jokowi. Lalu sibuk kasak kusuk agar temannya masuk jadi komisaris. Suka juga mengejek kelompok lain sambil nongkrong di warung kopi. Ikut banyak kelompok WA dan medsos cuma untuk cari materi gunjingan.

Tak pernah lupa ikut bersolidaritas untuk semua aksi perlawanan rakyat. Heroik sekali. Karena susah cari pasangan, maka kalau punya pasangan biasanya jadi posesif banget. Padahal masih suka bergaya tak setuju dengan prinsip kepemilikan.

Tipe 4: Segalanya adalah tentang Pilkada!

Pilkada ini seperti perjuangan hidup mati. Seolah-olah Jakarta akan jadi Suriah dan Indonesia akan hancur kalau jagoannya tidak terpilih. Bahkan sampai hati menghina orang-orang yang selama ini kerja bagi kelompok termarjinal.

Baginya, HAM itu nomor sekian meski lantang suaranya untuk hak-hak kaum minoritas yang selama ini dibela hak-nya. Iya, suka kontradiktif. Hati-hati, pasangan seperti ini lebih sering bersikap acuh dan sibuk sama handphone-nya saja. Harus sabar.

Tipe 5: Keadilan buat rakyat adalah yang utama

Tipe ini jarang posting soal pilkada. Lebih sering foto di ruang seminar, workshop, pelatihan atau pertemuan nasional. Jangan tanya berapa petisi yang sudah ditandatangani untuk isu ketidakadilan. Hobi share kegiatan atau agenda aksi atau festival. Bikin status sudah mirip filsuf, susah dipahami tapi lumayan kelihatan keren. Pasangan ini cenderung awet dan merawat hubungan, ia akan menghindari konflik. Mungkin hubungannya akan membosankan, tapi aman.

Tipe 6: Keadilan buat rakyat harus yang utama

Mungkin hampir setiap hari posting berita soal pilkada. Meski masih lebih banyak posting soal ketidakadilan rakyat yang terjadi di seluruh Indonesia. Membuat status atau tulisan panjang yang membeberkan kemuakannya terhadap perilaku calon atau pendukung calonnya yang dianggapnya melanggar HAM atau calon lainnya yang tidak pluralis. Selalu berdiri bersama kelompok liyan.

Orang ini sesungguhnya tahu betul siapa yang semestinya ia dukung, tapi kemudian menolak melakukannya karena calon dan pendukungnya dianggap tidak peduli dengan isu HAM. Akhirnya ia memilih untuk tidak memilih. Cek KTP-nya, mungkin bukan orang Jakarta. Pasangan macam ini mungkin akan selalu berhitung dalam pengeluaran. Sering merajuk.

Tipe 7: Pertemanan adalah yang utama

Beraninya lewat inbox, mendukung A ke pendukung A. Mendukung B terhadap pendukung B. Siapapun pemenangnya, selalu mendapat manfaat. Hati-hati dengan pasangan yang melakukan ini, pasti sering tebar pesona diam-diam.

Tipe 8: Woles

“Pilkada? SARA? HAM?” …  “uhmmm…. kayaknya pernah dengar” Bagi yang mendapat pasangan seperti ini, siap-siap saja diajak nonton siarang langsung inbox atau dahsyat. Lebih keren sedikit, mungkin akan diajak ke Singapura lihat air keluar dari patung Merlin.

Tipe 9: Pilkada benar-benar segalanya!

Setiap hari posting meme lawan atau pujaannya. Setiap ada info terkini soal kebaikan pujaannya, pasti disebar. Jika ada hiruk pikuk negatif soal lawannya, ikut bersorak sorai dan menghina. Jika ada status temannya yang mengkritik kebijakan pujaannya, dengan segala cara akan dilawan. Salah benar tak peduli, berita hoax pun disebarkan. Kalau diprotes, langsung bilang cuma copas.

Pokoknya, pejah gesang nderek pujaan. HAM bisa diabaikan, isu SARA bisa dibelakangkan. Daftar follow: Jonru, Felix Siauw dll. Jika punya pasangan seperti ini, segeralah periksa pacar atau pasangan terdahulunya, bisa jadi ada yang pernah mendapatkan kekerasan darinya. Pasangan model ini juga sulit menerima kekalahan, mereka akan depresi berkepanjangan.

Tipe 10: Pilkada penting tapi bukan segalanya

Kemungkinan bukan warga DKI. Bisa jadi warga Bekasi, Banten atau Jogja. Mereka ini tahu dan sadar pilkada itu penting tapi sudah putus asa sama semua kandidatnya. Lebih sering posting soal kehidupan keluarga, jalan-jalan dan makanan.

Suka sedikit nyinyir sama pilkada DKI dan para pendukungnya, namun saat diejek oleh warga DKI, langsung kasih ikon menangis atau tertawa terbahak-bahak. Pasangan jenis ini selalu memiliki mimpi besar dalam hidupnya, siap-siap saja dengan segala keruwetannya.

Tipe 11: Pilkada Penting tapi (kamu) bukan segalanya.

Masih memiliki kepercayaan terhadap politik elektoral. Pragmatis dan selalu cari lesser evil meski tahu benar apa konsekuensinya. Menolak pelanggaran HAM dan juga menolak SARA. Ia sepenuhnya menyetujui kebebasan berpendapat, berekspresi melalui aksi-aksi massa adalah hak yang tak bisa diganggu gugat.

Ia tak sungkan menyatakan pendapat meski pendapatnya mungkin menyakiti orang lain. Orang semacam ini mungkin bisa sangat romantik, tapi ia tak ragu untuk memutuskan hubungan jika ada prinsipnya yang tercederai.