1 bulan lalu · 177 view · 7 min baca menit baca · Filsafat 78795_74039.jpg
Ilustrasi: Steemit

Mengenal Tiga Macam Mustahil

Kalau Anda berasal dari keluarga kaya raya, ayah Anda seorang kiai besar, ibu Anda seorang ustazah tenar, dan Anda sendiri tercatat sebagai lulusan terbaik dari salah satu kampus ternama di dunia, kemudian Anda ingin melamar perempuan kota yang kebetulan level sosial-ekonominya di bawah Anda, kira-kira, kalau Anda berniat untuk melamar, lamaran Anda itu mungkin diterima atau tidak?

Tak perlu berpikir panjang untuk menjawab pertanyaan ini. Melihat status Anda yang seperti itu, rasanya tidak sulit untuk berkata iya. Kemungkinan besar lamaran Anda akan diterima. Meskipun kemungkinan ditolak itu juga tetap ada. 

Yang jelas, tak ada kesulitan bagi kita untuk berkata bahwa diterimanya lamaran Anda itu merupakan hal yang mungkin, bukan mustahil.

Tapi bagaimana kalau sekarang Anda berasal dari kampung, ayah Anda hanya seorang petani biasa, ibu Anda hanya seorang ibu rumah tangga, dan Anda sendiri hanya lulusan S1 dari salah satu perguruan tinggi swasta, kantong pun tak begitu tebal, pekerjaan Anda tidak begitu menjanjikan, kemudian Anda berharap nikah dengan anak pengusaha besar, maharnya sendal jepit, biaya nikah gratis, dengan ajuan persyaratan bahwa kelak semua kebutuhan rumah tangga akan ditanggung oleh sang istri?

Kira-kira, kalau begitu keadaannya, lamaran Anda mungkin diterima atau tidak? Terwujudnya pernikahan Anda itu sendiri sebenarnya mungkin-mungkin saja. Tidak ada yang tidak mungkin. Tapi, melihat tradisi yang berlaku, dan melihat keadaan yang ada, rasanya impian Anda itu mustahil. 

Meskipun, kalau dilihat dari sudut pernikahannya, itu mungkin-mungkin saja. Tapi mengapa dikatakan mustahil? Jawabannya, dia dikatakan mustahil karena disebabkan oleh faktor yang lain, yang dalam hal ini adalah tradisi atau kebiasaan.

Perbuatannya itu sendiri pada dasarnya mungkin saja terjadi, seperti halnya yang pertama. Tapi, karena mempertimbangkan aspek yang lain dia menjadi mustahil. Dasar kemustahilannya bukan karena dirinya sendiri (lidzâtihi), melainkan karena sesuatu yang lain (lighairihi). 

Baca Juga: Mustahil

Ini satu contoh kemustahilan yang dalam buku-buku kalam sering disebut dengan istilah mustahîl lighairihi, yakni sesuatu yang tidak mungkin ada, atau tidak mungkin terjadi, tapi ketidakmungkinan tersebut bukan disebabkan oleh dirinya sendiri, melainkan karena sesuatu yang lain. 

Contohnya sangat banyak. Dan pada umumnya, makna mustahil yang kerap kita gunakan dalam percakapan sehari-hari masuk dalam kategori mustahil yang pertama ini.

Sekarang kita beralih ke contoh yang lain. Di hadapan saya saat ini, ada sebuah tasbih yang biasa saya gunakan untuk berzikir. Tasbih tersebut terletak di atas meja bersamaan dengan buku-buku yang biasa saya baca. 

Pertanyaannya: mungkin tidak tasbih itu berada di atas meja, tapi dalam saat yang sama dia juga berada melilit di bagian leher saya? Kira-kira itu mungkin, tidak? 

Coba sekarang Anda bayangkan. Ada tasbih diletakkan di atas meja, dan dalam saat yang sama tasbih itu ada di leher saya. Kejadian ini mungkin tidak? 

Selama akal Anda sehat, Anda akan mengatakan bahwa kejadian tersebut sangat mustahil terjadi. Mengapa mustahil? Karena kejadian seperti itu tak akan pernah ada, dan tidak dimungkinkan untuk ada.

Sekarang apa bedanya contoh kedua ini dengan contoh yang pertama? Bedanya simpel. Yang pertama kemustahilannya itu disebabkan karena sesuatu yang lain (lighairihi), sedangkan yang kedua kemustahilannya itu disebabkan oleh dirinya sendiri (lidzâtihi), bukan karena sesuatu yang lain. 

Artinya, ketika saya mengatakan bahwa tidak mungkin ada tasbih di atas meja, tapi dalam saat yang sama juga ada melilit di bagian leher saya, ketidakmungkinan itu bukan disebabkan karena sesuatu yang lain, melainkan karena dirinya sendiri. Memang kejadian seperti tidak akan pernah terjadi. Karena itu bertentangan dengan hukum akal.   

Nah, contoh kemustahilan kedua ini, dalam ilmu kalam, sering disebut dengan istilah mustahîl lidzâtihi, yakni sesuatu yang tidak mungkin ada, dan ketidakmungkinannya itu disebabkan karena dirinya sendiri, bukan karena sesuatu yang lain.


Definisi mustahil itu sendiri ialah “sesuatu yang tidak menerima keadaan” (mâ lâ yaqbal al-Wujûd), atau “sesuatu yang tidak mungkin ada.” Jika ketidakmungkinan itu disebabkan oleh dirinya sendiri, maka ketika itu ia disebut mustahîl lidzâtihi. Tapi jika ketidakmungkinan itu disebabkan oleh sesuatu yang lain, maka ketika itu ia disebut mustahîl lighairihi. 

Penting dicatat bahwa semua yang masuk kategori mustahîl lighairihi ini sebenarnya masing tergolong mumkin lidzâtihi. Artinya, dia sendiri, pada dasarnya, jika dilihat secara berdiri sendiri, mungkin ada dan mungkin tidak ada, mungkin terjadi dan mungkin tidak terjadi. 

Hanya saja, seperti yang saya jelaskan tadi, karena kita mengaitkan dia dengan aspek yang lain, yang tadinya mumkin itu bisa menjadi mustahil. Tapi mustahilnya termasuk mustahil lighairihi, bukan mustahil lidzâtihi. Sementara yang mustahil lidzâtihi tidak seperti itu. Dia tidak akan pernah terjadi, dan tidak dimungkinkan untuk terjadi sama sekali.

Yang ketiga ada yang disebut dengan mustahîl bilqiyâs ilal ghair. Biasanya, mustahil yang ketiga ini berkaitan dengan sesuatu yang saling berkorelasi satu sama lain (mutadhâyifân). Saya beri contoh sederhana, misalnya, dengan suami dan istri. Pernahkah Anda melihat suami tanpa istri, atau melihat istri tanpa adanya suami? 

Saya yakin pada umumnya orang akan berkata iya. Faktanya memang bisa saja ada suami tanpa istri, sebagaimana sangat mungkin ada istri tapi tidak memiliki suami. Ya, itu kalau Anda melihat wujudnya. Yang sekarang saya tanyakan adalah maknanya kesuamian dan keistriannya.

Mungkin tidak ada seseorang yang menyandang gelar suami, atau makna kesuamian, tapi dia sendiri tidak memiliki istri, atau sebaliknya? Itu jelas mustahil. Wong seseorang itu baru dikatakan suami kalau memang dia memiliki istri. Sebagaimana perempuan juga baru bisa dikatakan sebagai istri kalau memang dia memiliki suami. 

Kalau tidak ya perempuan saja, bukan istri namanya. Begitu juga dengan laki-laki. Kalau tidak punya istri ya namanya bukan suami, tapi jomblo. Kesuamian itu meniscayakan adanya keistrian. Sebagaimana keistrian juga meniscayakan adanya kesuamian.

Jadi kalau saya tanya: mungkin tidak ada suami yang tidak beristri, atau istri yang tidak memiliki suami? Maka jawabannya, sekali lagi, itu mustahil. 

Tapi, berbeda dengan dua macam kemustahilan sebelumnya, kemustahilan yang satu ini disebabkan karena hubungannya dengan sesuatu yang lain. Karena kesuamian dan keistrian itu merupakan dua hal yang saling berkorelasi, maka penggambaran yang satu bergantung pada penggambaran yang lain. 


Mustahil ada suami tanpa istri. Sebagaimana mustahil ada istri kalau tidak ada suami. Dan inilah yang disebut dengan istilah mustahîl bilqiyâs ilal ghair, yakni sesuatu yang tidak ada, tapi ketiadaanya disebabkan karena hubungannya dengan sesuatu yang lain.

Ketika berbicara tentang kekuasaan Tuhan, para teolog Muslim pada umumnya mengatakan bahwa kuasa Tuhan itu hanya berkaitan dengan sesuatu yang bersifat mumkin. Yakni sesuatu yang mungkin ada dan mungkin tidak ada. Karena itu dia tidak berkaitan dengan yang mustahil. 

Mengapa bisa begitu? Karena, kata mereka, sifat kuasa (qudrah) itu fungsinya mengadakan dan meniadakan (al-îjad wa al-'Idâm). Karena itu, sebagai konsekuensi logisnya, kuasa Allah tidak mungkin berkaitan dengan sesuatu yang dia sendiri tidak mungkin untuk diadakan, juga tidak perlu untuk ditiadakan.   

Jika kita meyakini bahwa kuasa Allah itu berkaitan dengan yang mustahil, maka ketika itu kita hanya dihadapkan dengan dua kemungkinan: Pertama, ada sesuatu yang mungkin untuk diadakan padahal dia sendiri pada dasarnya tidak menerima keadaan. Kedua, ada sesuatu yang mungkin untuk ditiadakan padahal dia sendiri pada dasarnya hanyalah ketiadaan. 

Bisakah kita menerima dua pilihan itu? Silakan Anda berpikir panjang, tapi pada akhirnya dua kemungkinan itu akan sulit untuk kita terima.

Sesuatu itu bisa diadakan atau ditiadakan kalau memang dia sendiri mungkin untuk diadakan dan mungkin untuk ditiadakan. Itu ketentuan yang sangat logis. Karena itu, sesuatu yang murni berupa ketiadaan, seperti halnya mustahil, tidak mungkin diadakan ataupun ditiadakan. 

Kalau diadakan itu mustahil, karena kalau sesuatu yang tidak ada karena dirinya sendiri itu mungkin diadakan, maka ketika itu dia tidak menjadi mustahil lagi, tetapi menjadi mumkin. Ditiadakan juga tidak ada gunanya. Untuk apa ditiadakan, wong dia sendiri sudah tidak ada kok?

Itulah alasan mengapa para teolog menegaskan bahwa kuasa Tuhan itu hanya berkaitan dengan sesuatu yang mungkin, dan tidak berkaitan dengan yang mustahil. Tapi mustahil yang mana? 

Mustahil yang dimaksud adalah mustahîl lidzâtihi, bukan mustahîl ligairihi. karena yang tergolong mustahil lighairihi pada dasarnya masih dimungkinkan untuk terjadi. Karena itu, dia masih bisa dikaitkan dengan kuasa Allah Swt. Sedangkan mustahil lizdatihi tidak demikian. Alasannya seperi yang saya jelaskan tadi.

Artinya, kalau ada yang bertanya: mungkin tidak sekarang Tuhan menikahkan saya dengan perempuan yang kulitnya sebening berlian, giginya seputih kain kafan, wanginya seharum kasturi, cantiknya hampir selevel bidadari, pertanyaan ini masih sah untuk diajukan, dan masih sah untuk dikaitkan dengan kekuasaan Tuhan. 

Karena pertanyaan tersebut mengaitkan kuasa Tuhan dengan sesuatu yang bersifat mungkin karena dirinya sendiri (mumkin lidzâtihi), meskipun terbilang mustahil jika dilihat dari aspek yang lain (mustahîl lighairihi). Dan kebanyakan mukjizat nabi sebenarnya masuk dalam kategori ini.  

Tapi sangat keliru kalau ada orang bertanya: Bisa tidak Tuhan menjadikan angka dua lebih besar dari angka empat? Atau, mungkin tidak Allah menjadikan buku ini terletak di atas meja, dan dalam saat yang sama dia juga terletak di bawah lantai? Mungkin tidak Tuhan menjadikan seseorang mati, tapi dalam saat yang sama dia juga tidak mati? 

Begitu juga dengan pertanyaan populer abad pertengahan yang bilang: Bisa tidak Tuhan mengangkat batu yang sedemikian besar, sehingga saking besarnya Dia sendiri tidak mampu mengangkatnya?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini keliru karena dia mengandaikan keberadaan sesuatu yang dia sendiri pada dasarnya tidak dimungkinkan untuk ada. Yang mengajukan pertanyaan semacam ini tidak bisa membedakan mana yang disebut mustahil dan mana yang tergolong mungkin. Bahwa Tuhan berkuasa atas segala sesuatu, iya. Tapi, kuasa Tuhan tidak bisa dikatkan dengan sesuatu yang bersifat mustahil.

Karena fungsi dari kuasa Tuhan ialah mengadakan sesuatu yang dimungkinkan ada, atau meniadakan sesuatu yang dimungkinkan untuk tiada. Sementara mustahil adalah sesuatu yang tidak ada dan tidak dimungkinkan untuk ada. Sehingga sangat logis kalau ada ketentuan bahwa dia tidak berada dalam lingkaran kuasa Allah Swt.

Artikel Terkait