16202_73716.jpg
Maulana Syekh Yusri dan Habib Luthfi bin Yahya
Sosok · 7 menit baca

Mengenal Syekh Yusri dan Ajaran Tasawufnya

Di mata sebagian kalangan, ajaran tasawuf seringkali diasosiasikan dengan konservatisme dan sikap anti pati terhadap dunia. Tasawuf sering diidentikkan dengan pakaian lusuh, jubah kucel, jidat hitam, tasbih mengular, bertapa di pegunungan, dan mengindar dari hiruk pikuk kehidupan sambil terus menerus mengingat Tuhan.

Asumsi seperti ini pada akhirnya seringkali mengantarkan orang pada kesimpulan keliru bahwa tasawuf itu merupakan salah satu alasan di balik kemunduran dan keterbelakangan umat Islam. Nalar teosentrik yang dibangun oleh para sufi—dalam bayangan mereka—cenderung membuat orang menghindar dari hiruk pikuk duniawi. Manakala orang sudah tak peduli dengan kehidupan duniawi, maka ketika itulah semangat untuk memajukan peradaban pun melumpuh dan tak bernyawa lagi.  

Namun, semua asumsi negatif tentang Tasawuf dan para sufi itu, saya kira, akan runtuh seketika ketika kita mengenal sosok ulama yang satu ini. Selain dikenal sebagai seorang ulama, musryid tarekat syadziliyyah di Mesir ini juga dikenal sebagai seorang dokter, yang setiap hari melayani orang-orang sakit, bukan hanya duduk dan bertapa dalam masjid. Rumahnya terbilang mewah, hartanya melimpah, tapi dalam saat yang sama, beliau juga sufi yang tekun dalam beribadah. 

Biografi Singkat  

Nama lengkapnya adalah Yusri Rusydi al-Sayyid Gabr al-Hasani. Dari keturunan Sayyidina Hasan ibn ‘Ali ibn Abi Thalib. Lahir pada tanggal 23 September 1954 di kawasan Rawd al-Farag, Kairo, Mesir. Dari penuturan yang pernah saya dengar dari beliau, ayahnya, Rushdi, adalah seorang insinyur (muhandis). Tapi kakeknya termasuk salah seorang ulama al-Azhar.

Tak seperti kebanyakan ulama al-Azhar yang menempuh pendidikan Agama, Yusri muda justru mengawali karir keilmuannya dalam bidang ilmu kedokteran. Pada tahun 1978 ia berhasil menyelasaikan studi strata satunya di Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Kairo. Kemudian lima tahun setelahnya, pada tahun 1983, ia meraih gelar magister. Dan pada tahun 1991, ia meraih gelar dokter dari Universitas yang sama dengan spesialisasi Ilmu Bedah.

Setelah lulus dari fakultas Ilmu Kodekteran dan resmi menjadi dokter, kecintaannya akan ilmu-ilmu Agama tak menyurutkan niatnya untuk kembali memasuki bangku sekolah. Ia mengawali pendidikan formalnya di al-Azhar di Fakultas Syariah Islamiyyah dari tahun 1992 sampai tahun 1998 dan lulus dengan predikat baik sekali (jayyid jiddan).

Selama kuliah di al-Azhar, ia banyak berguru kepada sejumlah ulama besar seperti Syekh Nashr Farid Washil, Mantan Mufti Mesir, Syekh Kamal al-‘Annani, Ahli  Fikih terkemuka di al-Azhar, Syekh Rabi’ Gauhari, Anggota Dewan Ulama Senior al-Azhar, Syekh Muhammad Zakki Ibrahim dan ulama-ulama lainnya.

Selama menempuh studi ilmu kedokteran di Kairo, ia juga secara konsisten mempelajari ilmu-ilmu keislaman dan berguru kepada sejumlah ulama besar di masanya. Tahun 1985 ia menyelesaikan hafalan al-Quran di tangan Syekh Abdul Hakim Khathir, melalui riwayat Hafsh, dengan sanad muttasil kepada Rasulullah Saw.

Dari tahun 1976 sampai tahun 1978 ia belajar kitab al-Muwattha, salah satu kitab otoritatif dalam bidang hadits, kepada Syekh Muhammad Hafiz al-Tijani, salah seorang Ahli Hadits di masanya.

Ia juga berguru kepada Syekh Muhammad Nagib al-Muthi’i, pengarang kitab Takmilat al-Majmu, dari tahun 1978 sampai 1981. Dari Syekh Nagib al-Muthi’i ia mendapatkan ijazah Shahih Bukhari, Hasyiyatai Qalyubi wa ‘Umairah, Ihya Ulumiddin dan kitab-kitab lain dalam bidang Fikih dan Hadits.

Ulama yang paling mempengaruhi perjalanan intelektualnya adalah Syekh Abdullah ibn Shiddiq al-Ghumari, ulama besar asal Maroko. Dari Syekh Abdullah ibn Shiddiq al-Ghumari, ia menerima Ijazah kitab al-Syamail al-Muhammadiyyah, dan beberapa kitab hadits lainnya, sekaligus ijazah Thariqah al-Shiddiqiyyah al-Darqawiyyah al-Syadzuliyyah pada tahun 1980. Dari Syekh Abdullah, ia juga mempelajari kitab al-Luma’, salah satu kitab rujukan dalam bidang Ushul Fikih, bersama Syekh ‘Ali Gom’a, Mantan Mufti Mesir.

Dari Syekh ‘Ali Gom’a—yang juga murid Syekh Abdullah ibn Shiddiq al-Ghumari—ia mempelajari kitab al-Waraqat fi Ushul al-Fiqh, Jam’ al-Jawami, Mughni al-Muhtaj, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Muqaddimat ibn Shalah, al-Asybah wa al-Nazhair, Syarh al-Kharidah al-Bahiyah, Fath al-Qarib dan lain-lain.

Selain ulama-ulama di atas, Syekh Yusri juga berguru kepada ulama-ulama besar lain seperti Syekh Ismail Shadiq al-‘Adawi, Syekh Muhammad Zaki Ibrahim, Muhammad ibn ‘Alawi al-Maliki, Syekh Ibrahim Abdul Ba’its al-Kattani, Syekh Muhammad Hasan Utsman dan lain-lain.

Berkat ketekunannya dalam menuntut ilmu, kini ayah dari lima anak ini dikenal sebagai ulama kharismatik al-Azhar yang memiliki pengaruh luas dengan jumlah pengikut yang melimpah, baik dari dalam maupun dari luar. Setiap hari masjidnya yang terletak di kawasan Mukattam selalu ramai dikunjungi oleh mahasiswa dan mahasiswi asing yang datang dari berbagai negara.

Sayang, ia tak banyak menelurkan karya intelektual. Namun, keilmuan seseorang tentu saja tak diukur dengan banyaknya buku yang ditelurkan. Meski tak banyak menulis buku, sebagian besar ilmunya bisa diakses melalu ceramah dan pengajian yang ia rekam. Sebagian besar ceramah dan pengajian-pengajiannya bisa Anda akses di website ini.  

Sejauh ini, beliau sudah mengampu dan menamatkan beberapa kitab seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan al-Tirzmidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan Nasai’, Sunan Ibnu Majah, al-Syamail al-Muhammadiyyah, al-Syifa, Manazil al-Sairin, al-Risalah al-Qusyairiyyah, al-Hikam al-‘Athaiyyah, Fath al-Qarib, Riyadh al-Shalihin dan lain-lain.

Sampai hari ini beliau masih aktif mengajar kitab Shahih Bukhari, kitab Muwattha, Kitab al-Adzkar, al-Khashaish al-Kubra, di samping pengajian Tafsir al-Quran dan Ilmu Qiraat di Masjid al-Asyraf setiap pagi.

Membumikan Spirit Cinta dalam Beragama

Di antara pahatan terpenting dalam bangunan ajaran Tasawuf Syekh Yusri—sebagaimana ajaran para sufi pada umumnya—ialah pesan agar senantiasa menanamkan spirit cinta dalam beragama. Tanpa adanya spirit cinta, agama akan sulit menemukan relevansinya dalam kehidupan nyata.

Rasa cinta itu, kata Syekh Yusri, pertama-tama harus kita tujukan kepada Allah Swt. Bukan saja karena Dia yang memilikinya segalanya, tetapi juga karena rasa cinta yang kita miliki itu tak akan pernah terpatri dan tertanam kecuali atas izin dan kehendak-Nya.

Tapi, kita tidak mungkin bisa mencintai Allah Swt kecuali setelah kita mampu mengenal dan juga mencintai kekasih-Nya, yakni Rasulullah Saw. Karena beliau, dalam istilah Syekh Yusri, adalah “manifestasi kesempurnaan Tuhan” (majla al-Kamalat al-Ilahiyyah) yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Rasulullah Saw adalah jalan. Karena itu, hanya melalui beliaulah kita bisa mengenal Tuhan.

Dalam setiap majlisnya, Syekh Yusri selalu menekankan pentingnya aspek ini dalam kehidupan beragama. Menurut beliau, cinta terhadap Rasulullah Saw itu merupakan keniscayaan mutlak bagi siapa saja yang ingin mendekatkan diri kepada Allah Swt.

“Semakin dekat kita dengan nabi kita, semakin dekat pula kita dengan Allah Swt. Orang yang tidak menjadikan Rasulullah Saw sebagai jalan, tidak akan pernah sampai kepada Tuhan walau beribadah siang dan malam.” Tuturnya dalam suatu majlis. 

Di lain kesempatan, beliau juga pernah berpesan—dan pesan ini selalu saya ingat: “Harus kalian ingat, bahwa yang akan menjaga kalian dari kekufuran, kesesatan dan penyimpangan-penyimpangan itu bukan hafalan al-Quran, bukan pula amalan, melainkan ketergantungan dan rasa cinta yang mendalam kepada Rasulullah Saw. Orang yang memiliki kedalaman cinta kepada Rasulullah Saw akan selamat dari fitnah, walau sebesar ombak di lautan.

Ajaran tasawuf Syekh Yusri senantiasa menekankan pentingnya memperteguh ikatan emosional dan spiritual kita dengan Rasulullah Saw. Karena hanya dengan memperteguh ikatan itulah kita bisa beragama dengan benar.

Ya, jasad beliau memang sudah berpindah ke alam baka. Namun, ruh dan spiritnya senantiasa menyertai kita. Keberadaan kita sendiri—kata Syekh Yusri—tak lepas dari adanya ruh Nabi Muhammad Saw. Tanpa kemuliaan ruh tersebut, niscaya kita semua tak akan tercipta.

Rasa cinta kepada nabi ini, tegasnya lebih jauh, pada akhirnya akan mampu memperbaiki akhlak dan budi pekerti kita dengan sesama hamba Tuhan. Semakin sering kita bersalawat, semakin sering kita membaca perjalanan hidupnya, akhlak kenabiaan pun secara perlahan lahan akan menyinari jiwa kita. 

Orang yang mencintai nabi, misalnya, tidak mungkin menyakiti orang-orang non-muslim, karena dia pasti sadar bahwa nabi adalah rahmat. Bukan hanya untuk orang-orang Islam, tapi juga untuk orang-orang di luar Islam, bahkan seluruh alam. Selama mereka manusia, maka mereka adalah makhluk terhormat dan mulia. Karena mereka semua adalah manifestasi dari kebesaran Tuhan yang Mahakuasa.

Besar kemungkinan, orang-orang yang sering terlibat dalam aksi-aksi terorisme, kekerasan dan pembunuhan atas nama agama itu adalah orang-orang kurang mampu dalam memupuk spirit cinta dalam beragama. Kecintaan kita pada Rasulullah Saw mestinya mampu menjadikan kita sebagai umat yang damai, tenang dan tak suka dengan kerusuhan.

Jika kita renungkan secara mendalam, semua problem kemanusiaan yang menghimpit dunia kita ini sejujurnya hanya berpulang pada satu sebab, yaitu cinta dunia. Persis seperti bunyi salah satu hadits yang menyebutkan, bahwa “cinta dunia itu merupakan pangkal dari seluruh kejahatan.” (hubb al-Dunya ra’s kulli khathiah)”

Dan rasa cinta kepada nabi itu, kata Syekh Yusri, dapat mengikis rasa cinta kepada dunia. Artinya, semakin dalam rasa cinta kepada beliau, dunia ini akan semakin terlihat kecil. Semakin kecil dunia di mata kita, semakin jauhlah kita dari fitnah dan hasutan setan yang senantiasa berusaha untuk menjerumuskan kita.

Dalam pandangan Syekh Yusri, inti dari bertasawuf itu adalah akhlak. Bertasawuf itu adalah upaya untuk memperbaiki akhlak. Baik akhlak terhadap sesama, maupun akhlak terhadap yang Mahakuasa. Dan akhlak yang sempurna itu hanya bisa kita contoh dari Nabi Muhammad Saw.

Dengan memupuk rasa cinta kepada beliau, niscaya keindahan akhlak itu akan terpatri secara perlahan-perlahan. Jika akhlak kenabian itu sudah tertanam, niscaya hati kita akan dipenuhi oleh rahmat, seperti halnya nabi yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Wa ma arsalnaka illa rahmatan lil alamin. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab