Mahasiswi
6 bulan lalu · 170 view · 3 menit baca · Kesehatan 30838_31311.jpg
https://auliajustrahma.files.wordpress.com/2017/09/1.png

Mengenal Stunting dan Pencegahannya

Cegah Stunting, itu Penting !

Stunting,,,

    Mungkin istilah tersebut terdengar asing ditelinga masyarakat. Sampai saat ini,masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengetahui apa itu stunting. Padahal, berdasarkan Pemantauan Status Gizi (PSG) 2017 angka prevalensi balita stunting di Indonesia masih tinggi yakni 29,6 % . Presentase tersebut lebih tinggi dari batas toleransi stunting yang ditetapkan WHO (World Health Organization) yaitu 20 % atau seperlima dari jumlah keseluruhan balita di negara tersebut. Oleh karena itu, WHO menetapkan Indonesia sebagai Negara dengan status gizi buruk.

   Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi kurang dalam waktu yang cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai janin masih di dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia 2 tahun. Salah satu ciri stunting yaitu anak yang memiliki tinggi badan lebih pendek dari anak normal seusianya. 

Anak pendek (stunting) dapat diketahui bila seorang anak sudah diukur panjang atau tinggi badannya, lalu dibandingkan dengan standar, dan hasilnya berada di bawah normal.Stunting dapat terjadi karena beberapa faktor,antara lain kurangnya pemenuhan gizi di 1000 hari pertama kehidupan, buruknya fasilitas sanitasi, dan kurangnya kebersihan lingkungan.


     Stunting berdampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, seperti kesulitan belajar, kemampuan kognitif lemah, mudah lelah, dan tak lincah dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya, serta resiko untuk terserang penyakit infeksi lebih tinggi. Stunting juga dapat menimbulkan penyakit degeneratif,seperti penyakit diabetes mellitus, jantung koroner, dan hipertensi.

     Menurut  Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang Brojonegoro, dalam jangka panjang  stunting menimbulkan kerugian ekonomi sebesar 2-3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) per tahun. Jika PDB Indonesia sebesar USD 13.000 triliun, maka diperkirakan potensi kerugian akibat stunting dapat mencapai USD 260 - 390 triliun per tahun (Bank Dunia, 2016). 

Ketika dewasa, anak yang mengalami kondisi stunting pun berpeluang mendapatkan penghasilan 20 persen lebih rendah dibandingkan dengan anak yang tidak mengalami stunting. Untuk itu, pencegahan stunting menjadi prioritas nasional dalam rangka Kerja Pemerintah (RKP)2018 dan 2019. Pencegahan stunting menjadi prioritas nasional karena pemerintah mendorong pertumbuhan sumber daya manusia Indonesia berkualitas.Kementerian PPN juga mengajak masyarakat untuk ikut serta dalam pencegahan stunting.

     Stunting dapat dicegah  dengan cara memenuhi gizi ibu hamil, memaksimalkan pemenuhan gizi di 1000 hari pertama kehidupan, pemberian ASI Eksklusif dan MPASI, balita rutin ke Posyandu, memenuhi kebutuhan air bersih, meningkatkan fasilitas sanitasi, dan menjaga kebersihan lingkungan. Pelayanan kesehatan yang baik pada anak akan meningkatkan kualitas pertumbuhan dan perkembangan anak, baik pelayanan kesehatan ketika sehat maupun sakit.


     Selain itu, stunting juga dapat dicegah dengan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) dan Germas. PHBS dan Germas menjadi pilihan dalam mewujudkan derajat  kesehatan masyarakat yang baik . PHBS menurunkan kejadian sakit terutama penyakit infeksi yang dapat membuat energi untuk pertumbuhan teralihkan kepada perlawanan tubuh menghadapi infeksi, gizi sulit diserap oleh tubuh dan terhambatnya pertumbuhan. 

Terdapat  10 indikator PHBS yaitu persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, memberi bayi ASI Eksklusif, menimbang balita setiap bulan, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, menggunakan jamban sehat, memberantas jentik nyamuk, makan sayur dan buah setiap hari, melakukan aktifitas fisik setiap hari, dan tidak merokok.  Setelah kita membiasakan PHBS, kita juga bisa menerapkan dengan Germas. 

Kemenkes menuturkan bahwa Germas menjadi solusi terbaik untuk mencegah stunting. Edukasi kepada masyarakat merupakan langkah yang perlu dilakukan, selain mengedukasi bagaimana cara hidup sehat kepada ibu hamil. Hidup sehat menjadi cara penting untuk mencegah tejadinya stunting dan penyakit lainnya.

    Kementerian Kelautan dan Perikanan juga ikut serta dalam mencegah stunting. Salah satu upaya dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI yaitu program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan atau disingkat GEMARIKAN. Direktur Jenderal (Dirjen) Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Nilanto Perbowo mengatakan, ikan sebagai sumber protein sangat relevan untuk mendukung program prioritas pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia dan meningkatkan kemandirian ekonomi berbasis pada kelautan dan perikanan. 


Menurutnya, Indonesia memiliki potensi sumberdaya ikan sebesar 9,9 juta ton dan potensi luas lahan budidaya 83,6 juta Ha yang dapat dioptimalkan untuk mendorong perluasan dan kesempatan kerja, serta meningkatkan ketersediaan dan konsumsi sumber protein ikan bagi masyarakat. Ikan menjadi salah satu solusi karena memiliki beberapa keunggulan, antara lain ikan merupakan sumber protein yang berperan terhadap pertumbuhan dan perbaikan sel tubuh. 

Ikan juga mengandung vitamin A,D,B6,B12 serta mineral yang berfungsi untuk mencegah berbagai penyakit. Kandungan omega 3 pada ikan bermanfaat untuk menjaga kolesterol dan jantung. Omega 3 pada ikan juga lebih tinggi dibandingkan dengan ayam dan sapi. Selain itu, harga ikan yang sering dikonsumsi masyarakat relatif lebih murah dibandingkan sumber protein hewani yang lain.

Stunting merupakan masalah gizi yang akan berdampak hingga anak berusia lanjut apabila tidak ditangani segera. Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat Indonesia harus menyadari bahwa pola hidup sehat merupakan langkah untuk mencegah berbagai penyakit termasuk stunting.

Cegah Stunting, itu Penting!


Artikel Terkait