Candi Borobudur merupakan Candi Budha terbesar di dunia menurut Guinness World Record dan menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia. Dibangun sekitar abad ke-8 dan ke-9 Masehi pada masa Dinasti Syailendra yang merupakan penganut agama Budha Mahayana.

Tumpukan batu tersusun rapi ditas area seluas 15.000 m² menjulang tinggi hingga sepuluh tingkat, ibarat sebuah bangunan dari lego, balok-balok batu ini saling mengait meski tanpa bahan perekat sama sekali, berdiri tegak di sebuah desa bernama Borobudur, wilayah kabupaten Magelang, Jawa Tengah. 

Candi Borobudur diperkirakan telah ada sejak tahun 824 M, pada abad keemasannya, candi megah ini menjadi tujuan peziarah dari seluruh penjuru dunia, mulai dari negeri Tiongkok, India, hingga Kamboja. Namun seiring berubahnya zaman, pamor candi ini semakin memudar, mulai jarang dikunjungi dan menjadi tak terawat. 

Bangunan ini bahkan kehilangan rupa aslinya akibat bencana alam yang mendera, candi Borobudur terabaikan selama berabad-abad lamanya, hingga pada tahun 1814, seorang berkebangsaan Inggris bernama Sir Thomas Tamvod Raflesh yang menjadi gubernur Hindia Belanda mendapat kabar mengenai penemuan sebuah monumen besar di sebuah hutan di bagian tengah pulau Jawa. 

Meski hanya berhasil membersihkan sebagian bagian candi nama Sir Thomas Tamvod Raflesh tercatat dalam sejarah sebagai penemu Candi Borobudur yang pernah hilang. Ketika Belanda mengambil alih kekuasaan Inggris di Hindia Belanda pada tahun 1816, perhatian terhadap Candi Borobudur kembali meredup. 

Selama hampir seratus tahun kemudian hanya beberapa penelitian saja yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Sedangkan yang marak terjadi adalah penjarahan, bagian-bagian candi di preteli dan dijadikan koleksi terutama kepala arca Budha. 

Praktek perdagangan bagian candi ini melahirkan sebuah usul kontroversial untuk membongkar Candi Borobudur secara keseluruhan dan memindahkan relif-relifnya ke museum. Namun seorang arkeolog asal Belanda Greenfild menentang usulan itu. Ia berusaha mempertahankan agar bangunan ini tetap utuh meski praktik pencurian masih terus terjadi. 

Hingga suatu ketika, ketika masyarakat arkeolog di Yogyakarta Issier Ma, menemukan bagian kaki yang tersembunyi dari Candi Borobudur. Penemuan yang mendorong pemerintah kolonial Hindia Belanda mengambil langkah untuk tetap melestarikan bangunan Candi Borobudur, mereka pun membentuk komisi untuk melakukan penelitian yang terdiri dari Brandes, seorang sejarawan seni Belanda, Teodor Van Erp seorang Insinyur dan juga tentara Belanda serta Van De Camr, Insinyur ahli konstruksi.

Tahun 1907, pemugaran pertama Candi Borobudur mulai dilakukan oleh tim di bawah pimpinan Teodor Van Erp. Tujuh bulan pertama pemugaran, mereka habiskan untuk menggali tanah demi menemukan kepala arca dan panel batu yang masih hilang. Van Erp juga membongkar tiga teras melingkar dan stupa utama Candi Borobudur. 

Van Erp bahkan sempat mencoba menyusun kembali catra, bagian teratas dari candi. Pemugaran yang dilakukan oleh Van Erp berakhir pada tahun 1911 karena keterbatasan anggaran. Sayangnya pemugaran dengan biaya 82.400 Gulden ini tidak memperhatikan masalah drainase dan tata air pada candi, sehingga beberapa tahun kemudian dinding-dinding candi mulai miring dan kembali retak.

Masa penjajahan Belanda berganti dengan masa penjajahan Jepang. Jepang dengan sengaja membebaskan tahanan Belanda bernama Stoter Ham, yang bertugas mengawasi candi Borobudur, agar perbaikan bangunan candi tetap berjalan. Tahun 1945, Indonesia merdeka, Indonesia disibukkan dengan kondisi negara yang belum stabil, candi Borobudur kembali terabaikan. 

Baru pada tahun 1960, keinginan untuk memugar candi Borobudur kembali mencuat. Namun sayang, keinginan ini tidak didukung dengan peralatan serta dana yang memadai, hingga akhirnya harapan datang dari seorang Dawud Yusuf, pria kelahiran Medan yang menaruh perhatian besar terhadap tumpukan batu bernama candi Borobudur ini.

Pertemuan pertama Dawud dengan Borobudur itu membekas, memori akan kesemrawutan bangunan itu tertanam begitu dalam dibenaknya, namun dia tidak dapat berbuat sesuatu, hingga suatu ketika, Dawud melanjutkan pendidikan ke sebuah Universitas Sorbone di kota Paris Perancis, kota yang menjadi tempat kedudukan UNESCO, sebuah lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengurus masalah pendidikan, sains, dan kebudayaan dunia. 

Dari lembaga ini, Dawud mengetahui adanya dana dari UNESCO untuk pemugaran bangunan yang dianggap sebagai warisan dunia. Dari sana, perjuangan Dawud Yusuf dimulai, Dawud menceritakan hasil temuannya kepada duta besar Indonesia di Perancis, namun sayang, pihak kedutaan tidak dapat berbuat banyak, karena segala keputusan harus bersumber dari pusat, yaitu Jakarta. 

Namun Dawud tidak patah semangat, ia terus mengikuti setiap diskusi yang di selenggarakan UNESCO, meski tanpa dukungan dari kedutaan Indonesia setempat. Sejak saat itu, Dawud semakin rutin mengikuti pertemuan di UNESCO. Ia bahkan rela membolos kuliah demi menghadiri debat yang berkaitan dengan usaha penyelamatan Candi Borobudur.

Bulan Agustus 1967, perjuangan Dawud membuahkan hasil, pada kongres ke 27 di Amerika Serikat, UNESCO akhirnya menyetujui pemberian bantuan untuk perbaikan candi Borobudur, UNESCO mulai mengirim tenaga ahli pada awal tahun 1968. Mereka menyimpulkan bahwa Candi Borobudur memang layak di pugar dan harus dilakukan secepatnya, meski harus menunggu pencairan dana dari UNESCO.

Pemugaran kedua Candi Borobudur pun dimulai, pemugaran yang dipimpin oleh Profesor Doktor Soepomo menitik beratkan pada pembuatan aliran air dan perbaikan struktur bangunan yang miring. Restorasi Candi Borobudur ini menjadi proyek pemugaran situs arkeologi di Indonesia yang pertama kali menggunakan teknologi modern pemberian dari UNESCO, di mana untuk alat angkut dan angkat sudah menggunakan Power Green untuk mengangkat di bagian atas kemudian diturunkan ke bawah, lalu di bawah ada Genre Crime yang dapat menghubungkan halaman atas candi untuk membawa batu ke halaman bawah sebagai perlakuan konservasi.

Pemugaran Borobudur juga dilakukan dengan teknik modern yaitu menggunakan metode pembongkaran dua sisi, sisi selatan dan utara adalah bagian yang dipugar terlebih dahulu, dimulai dari bagian tengah, kemudian bergerak melebar hingga kesudut-sudut candi. 

Teknik ini juga diterapkan untuk membongkar bagian barat dan timur candi, selain fokus kepada teknik perbaikan candi tim juga diwajibkan memperhatikan prosedur dalam melakukan pemugaran. Meski di awal persiapan telah dilakukan pendidikan terkait teknik dan prosedur pemugaran, namun masih banyak kendala yang dihadapi tim saat bekerja di lapangan.

Selain tantangan secara teknis, ada juga ancaman dari pihak-pihak yang kontra dengan pemugaran Candi Borobudur. Tahun 1983 pemugaran kedua Candi Borobudur selesai dilakukan hasilnya sungguh mengagumkan. Candi Borobudur ibarat terlahir kembali, tak tampak lagi bangunan miring atau cucuran air dari sela bebatuan, proyek besar ini berakhir dengan sukses. 

Candi Borobudur menjadi incaran para wisatawan, bahkan dijadikan lokasi favorit untuk menikmati gerhana matahari total pada 11 Juni 1983. Namun ancaman bagi Borobudur belum berakhir, tahun 1985, sebuah kelompok radikal kanan mencoba meledakkan Candi Borobudur, Sembilan bom dipasang pada patung Budha yang berada dibagian atas candi tujuh diantaranya meledak.

Pasca pemboman tersebut kondisi Borobudur relatif stabil, bahkan pada tahun 1991 Candi Borobudur ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO dan menjadi salah satu dari tujuh keajaiban budaya yang ada di dunia. Meski kini Borobudur menjadi perhatian dunia, namun tantangan pelestariannya tidak berhenti sampai di sini saja.

Letak bangunan candi yang berada di ketinggian dan dikelilingi gunung berapi, membuatnya rentan terkena bencana alam, gempa abu vulkanik, lahar menjadi ancaman besar bagi kelestarian Candi Borobudur. Selain itu kondisi bangunan yang terus menerus dikunjungi wisatawan juga membuatnya sangat rentan terhadap kerusakan.