Psikopat adalah sebuah spektrum. Jadi, setiap orang punya kadar psikopatik. Secara umum, ‘istilah psikopat’ mengacu pada orang dengan kadar psikopatik tinggi dan kata ‘bukan psikopat’ mengacu pada mereka yang berkadar psikopatik rendah.

Jumlah psikopat adalah 1% dari jumlah populasi normal. Penduduk Indonesia ada 267an juta jiwa. Bisa dikatakan yang psikopat ada sekitar 2,67 juta. Sebagian kecil ada di sekitar kita dan mungkin kita adalah salah satunya.

Kondisi lingkungan yang buruk, misalnya ia korban kekerasan orang tua atau mengalami trauma seksual, berkontribusi dalam perkembangan psikologis seorang psikopat. 

Ibaratnya, seseorang yang pemarah punya kecenderungan lebih besar untuk mempunyai anak temperamental dibandingkan kecenderungan yang dimiliki oleh ayah penyabar.

Namun, walau begitu, kadar psikopatik yang tinggi dimiliki seseorang bukan karena pengaruh pergaulan atau pola asuh melainkan karena bawaan bayi. Psikopat sudah memiliki susunan syaraf yang berbeda dari lahir.

Hasil pemeriksaan dengan alat yang disebut Magnetic Resonace Imaging (MRI) mengungkapkan bahwa otak psikopat dengan otak manusia normal memang berbeda fungsi dan strukturnya. 

Psikopat menunjukkan minimnya aktivitas pada bagian utama otak yang berperan penting dalam pengolahan emosi, seperti rasa takut, marah, dan senang.

Ciri psikopat ada banyak. Dr.Robert Hare adalah Professor Emeritus Psikologi di University of British Columbia. Bersama dengan rekannya, Dr. Babiak.Dr.Hare menulis buku berjudul ‘Psychopaths:Snakes in Suites’ yang menjadi acuan banyak artikel dan jurnal. 

Dr.Hare menjabarkan bahwa psikopat adalah sosok yang pandai bicara dan sering berbohong. Menurutnya psikopat tidak  punya gol jangka panjang dan tujuan yang realistik. Mereka juga merasa diri mereka lebih baik dari yang lain dan tidak  punya komitmen untuk berhubungan seksual hanya dengan 1 partner.

Psikopat juga parasit atau oportunis serta manipulatif. Emosi mereka datar, mereka tidak pernah  merasa bersalah setelah membuat sebuah kejahatan.

Selain itu mereka waktu kecil biasanya punya problem tentang perilaku, misalnya memotong buntut kucing atau mencongkel mata ikan hidup. Kontrol emosi mereka kurang. Jadi,  pelaku kekerasan dalam ruamh tangga (KDRT) misalnya, ini bisa dipastikan punya kadar psikopatik di atas rata-rata.

Psikopat juga impulsif. Mereka berpikir bahwa mereka melakukan sesuatu semata-mata karena ingin. Hal ini berakar dari perilaku mereka yang memang ingin meraih kepuasan, kelegaan atau kesenangan  dalam waktu singkat.

Psikopat punya pengetahuan soal perasaan tapi tidak bisa merasakan. Dari luar mereka bisa terlihat bahagia atau sangat sedih karena mereka meniru. Tak heran jika mereka kerap terlihat aneh saat sedang menunjukkan emosinya.

Kita sudah lihat di atas bahwa karakteristik psikopat berjumlah  cukup banyak.Kita bisa mengidentifikasi seseorang psikopat atau bukan dengan cara melakukan pengamatan yang menyeluruh. Kita tak bisa melihat 1-2 ciri lalu menyimpulkan,”Ah, dia penganut seks bebas jadi pasti psikopat."

Identifikasi idealnya dilakukan dengan cara mencermati apakah sosok yang kita curigai memiliki banyak ciri psikopat atau tidak.  Kita bisa mengamatinya lewat interaksi yang intens, konsultasi dengan ahli  dan banyak membaca.

Bagaimanapun, walau sudah melakukan pengamatan yang cermat serta mempelajari banyak literatur, level orang awam hanya bisa sampai ke tahap mengidentifikasi atau dalam bahasa lain ‘menandai bahwa orang itu saya duga kuat sebagai psikopat.’ Kepastian bahwa orang itu adalah psikopat hanya bisa dilakukan psikolog.

Jadi, orang awam bisa mengidentifikasi dan  psikolog bisa mendiagnosa karena mereka memiliki alat dan  ilmu untuk melakukannya. Ini pun tetap harus hati-hati karena psikopat bisa menipu psikolog, mengelabui tes lie detector dan memanipulasi  proses asesmen.

Untuk tahap awal, kita bisa coba mengidentifikasi psikopat dengan cara mengamati emosinya. Psikopat punya cognitive empathy  tapi tak punya affective emphaty. Artinya, mereka tahu serba-serbi rasa  tapi  untuk benar-benar merasakan, mereka tidak bisa.  

Bagaimanpun, mereka bisa pura-pura merasakan. Kepura-puraan psikopat saat mengekspresikan rasa atau emosi mereka, jika kita cermat, bisa kita rasakan. Lihat saja pemain film yang meniru gerak-gerik orang terkenal. Memang mirip tapi jika kita mengenal siapa yang mereka tiru, kita akan merasa ada keganjilan.

Rasa aneh itu kita alami karena  yang pemain film itu lakukan, tidak otentik. Gerak-geriknya bukanlah gerak-gerik mereka yang asli. Mereka  ‘hanya’ mengamati lalu meniru.

Psikolog Angela Book dari Brock University, Kanada, mengadakan tiga eksperimen. Psikopat ditunjukkan adegan seram dan diminta meniru emosi yang nampak di layar. Mereka mampu tampil seolah-olah punya perasaan dan bahkan menunjukkan rasa takut yang lebih kuat dibandingkan rasa takut mereka yang bukan psikopat.

Dalam eksperimen itu, psikopat tampil lebih manusiawi daripada responden yang normal. Ini wajar karena psikopat latihan dan meniru. 

Karena itu, Book berkata, ”Makanya jangan heran, reaksi umum orang-orang saat diberitahu bahwa teman mereka psikopat biasanya adalah,”Masa’sih? Dia psikopat? Orang sebaik itu ?!”