Bibliocrime  mungking asing   terdengar ditelinga kita  kata  bibliocrime, sehingga tak terbanyang dibenak  tentang  bibliocrime sebenarnya.  Bibliocrime sendiri sesuatu yang  baru  di dalam kehidupan ini, dan  sudah lama terjadi.

Apalagi di perpustakaan sebagai  lembaga informasi, fenomena bibliocrime ini  menjadi momok yang amat ditakuti karena mengeroti segala  kompenen  dalam  perpustakaan.   Sehingga   mengurangi  citra perpustakaanpun akan rusak dimata publik.

Ada beberapa penyebab yang melatabelangi terjadinya perilaku  bibliocrime, salah satunya adalah open acess/ sistem layanan terbuka. Layanan ini mempunyai beberapa kelemahan yaitu: pertama membiarkan  pengguna/pemuska  untuk memilih serta memilah  bahan pustaka  tampa memerlukan campur tangan pustakawan sebagai pengelola perpustakaan, menjadikan  susunan di rak tidak beraturan lagi sesuai dengan klasifikasi standar  penyusunan bahan pustaka.

Kedua intensitas atas raibnya bahan pustaka amat besar jikau  dengan closs access/ sistem layanan tertutup, karena tidak terkotrolnya  gerak-gering pemustaka. Ketiga terjadinya kerusakan pada bahan pustaka akibat tidak ada  adanya rasa kasih  sayang pemustaka. Biasnya penerapan  sistem terbuka ini  di adopsi oleh layanan terbuka yang ada di tiap tiap  perpustakaan.

Bibliocrime ini sendiri di bagi dalam berebapa jenis  perilaku diantaranya adalah:

Vandalisme

Vandalisme sendiri indetik dengan perilaku pencoretan  yang merusak keindahan dan estetika pada lingkungan, sehingga vandalisme menyasar  berbagai macam jenis bendaapun menjadi sasaran empuknya, seperti tembok-tembok fasilitas publik, jalan raya bahkan terlebih lagi koleksi  di perpustakaan. Biasanya vandalisme ini  menyasar koleksi yang berbasis tercetak.

Sebagian dari  kita mungkin biasa  mengahabiskan waktu  di perpustakaan  guna mencari berbagai  literature  yang akan menambah khzanah keilmuaan, tidak jarang  menemukan  buku-buku penuh dengan coretan, sehingga  tergangu ketika membaca.

Perobekan

Perobekan  merupakan suatu diperbuatan  oleh seseorang untuk menghilangkan  atau memisahkan sesuatu, tujuannya agar dapat memilikinya, dan bisanya terjadi  pada benda-benda tercetak berbahan kertas seperti buku, koran. Sehingga koleksi buku diperpustakaanpun tidak lupu dari tindakan perobakan. Biasanya banyak ditemukan pada perpustakaan di instansi-intasnsi  pendidikan seperti  perguruan tinggih.

Perguruan tinggih adalah salah satu lingkungan  yang paling  sering menggunakan perpustakaan, karenanya mengacu kepada tri drama perguruan tinggih. Sehingga  setiap hari warga masyrakat akademika kampus selalu memadati perpustakaannya. Tetapi terkadang kebaikan serta ketulusan perpustakaan tidak diimbangin oleh ramah pemustaka yang sering  merobek bahan pustaka.

Hal ini terjadi karena tuntunan   tugas dari para mahasiswa mengakibatkan  dengan sengaja  menyobek bagian penting baginya dalam sebuah  buku. Padahal koleksi  miliki perpustakan merupakan hak  informasi  semua masyakat akademik kampus untuk menikmatinya, bukan senaknya dirusaki tampa merasa bersalah.    

Pencurian 

Dalam kehidupan sehari-hari kita terbiasa dengan istilah pencurian karena  pencurian sendiri dapat di temui di lingkungan masyakat. Sebab perilaku ini adalah pengambilan  hak orang lain tampa izin menjadikan sang korbanpun merana dan sengsara atas kehilangan   sesuatu miliknya.

Begitu juga dengan  pencurian di perputakaan tidak hanya menjarah   fasilitas, tetapi juga  juga barang-barang pribadi milik  pemutaka maupun pustakawan  seperti laptop, hp, bahkan lisptikpun menjadi sasaran empuk para pelaku. Sungguh ironi memang balasan air tuba yang di terima perpustakaan.

Peminjaman Tidak Sah 

Selanjutnya kebiasaan yaitu  peminjaman tidak sah, perilaku  ini berkaitan dengan jasa sirkularsi yang   berarti  pinjam meminjam buku melebih ambang batas waktu peraturan  dari perpustakan.  Sehingga menyebabkan  tergagu  proses transfer informasi.

Tidak hanya memimjam di luar kewajaran tetapi juga   peminjam  pengatas namaan orang lain. Hal ini  termasuk  peminjaman tidak sah, sebab jiklau terjadi hal  tak diingkan pada koleksi  siap yang akan bertanggung jawab.

Perilaku bibliocrime  tidak boleh mendarah daging di perpustakaan karena akan memustakan  infomasi. Maka hal yang harus dilakukan adalah upaya penanggulanganya yang notabend pustakawan harus berperan aktif sebagai pengelola dari perpustakaan itu sendiri.

Dalam penanganan tindakan bibliocrime, ada beberapa  upaya yang harus diambil oleh perpustakaan  yaitu:

Desain dan Tata letak 

Desain sebuah bangunan menjadi sebuah  tolak ukur  dari tingkat keamanan tempat, maka saat mendesain tata bangun gedung haruslah mempertimbangan aspek kerawanan dari kejahatan itu. Agar nantinya  penghuni dan juga barang-barang di dalam bangun tidak merasa gelisah akan  kejahatan .

Tidak hanya soal bangunan saja yang harus dirancang secara  matang, tetapi juga pada penataan  perabotan perpustakan yang mencegah dari perilaku  kejahatan. Misalkan  membuat penataan  rak-rak koleksi menggunakan  unsur-unsur estetika, sehingga cantik dilihat oleh mata dan memudahkan pemantauan.

Penerapan Aturan Ketat 

Penerapan aturan ketat  merupakan sesuatu yang dapat dilakukan guna memberikan efek jera bagi pelaku bibliocrime agar tidak melakukannya lagi. Penerapan aturan ketak ini bisa berupa pemberian  denda besar bagi pelakunya atupun hal –hal  yang mendidikan

Pelatihan kepada pustakawan   

Pemberian pelatihan ini untuk  menunjang kepekaan dari pustakawan, agar mereka bisa   mengajarkan kepada pemustaka tentang bagi mana sesungguhnya cara menggunakan koleksi yang baik dan benar.

Penggunaan CCTV

Pengguanaan CCTV  sebagai alat pemantau  yang sudah dipakai di segala tempat perkantoran, pusat perbelanjaan tak terkecuali bagi perpustakaan untuk memantau koleksi dari tangan-tangan jahil manusia.

Tidak hanya perpustakaan saja yang melakukan hal pengamanan,  tetapi juga kita sebagai pemustaka penikmat literasi juga harus menjaga koleksi perputakaan agar tidak  rusak dan dapat digunakan oleh semua orang. Salah satunya adalah dengan senantiasa mengikuti aturan perpustakaan  dan serta mempergunakan bahan pustaka dengan baik dan benar.