Selain salah dan dosa, manusia juga tidak pernah bisa luput dari penyakit. Penyakit yang dimaksud di sini adalah penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri atau kuman yang menyusup masuk ke dalam tubuh dan memengaruhi kesehatan seseorang.

Bentuk perlawanan manusia terhadap penyakit telah diikhtiarkan berabad-abad silam melalui beragam metodologi pengobatan, baik tradisional maupun modern. Kedua metode tersebut masih sangat relevan digunakan sampai sekarang.

Tidak hanya dunia pengobatan modern saja yang mengalami perkembangan, pengobatan tradisional pun mulai tumbuh pesat di tengah masyarakat dan dianggap sebagai solusi alternatif, karena terkenal low cost

Hal tersebut demikian terjadi sebab pada pengobatan tradisional, kita tidak akan menjejali pelbagai fasilitas mewah bin mahal seperti pada pengobatan modern. Kita hanya perlu mempersiapkan alat dan bahan sederhana dari alam untuk mengobati suatu penyakit.

Bahan-bahan yang digunakan oleh manusia untuk dijadikan sebagai kebutuhan obat-obatan, salah satunya adalah tumbuhan. Kebutuhan akan pangan dan obat hampir sepenuhnya tergantung pada tumbuhan, oleh karena itu sejak zaman prasejarah, manusia telah melaksanakan pekerjaan seleksi tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai tumbuhan pangan (Moeljopawiro dan Manwan 1992). Dengan kata lain, kita berutang banyak nyawa kepada alam sebagai suppliyer utamanya.

Bayangkan, apa jadinya manusia jika alam tidak lagi memberikan hasil bumi karena ada tangan-tangan jahat yang terus mengeksploitasinya tanpa jeda. Maka dengan sendirinya, manusia akan mati karena kelaparan dan diserang banyak penyakit akibat krisis pangan. 

Untuk itu, penulis juga merasa perlu mengimbau kembali agar kita tetap menjaga kelestarian alam dengan cara, tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi polusi udara, menanam pohon serta  turut serta mengedukasi masyarakat melalui program-program ramah lingkungan.

Balik lagi pada pembahasan mengenai pengobatan tradisional, di Indonesia sendiri sudah banyak ditemukan produk unggulan kesehatan yang berbasis herbal. 

Pengembangan dan penelitian obat tradisional (terutama herbal) sejalan dengan kebutuhan pasar nasional yang mulai memberi perhatian besar pada obat tradisional. Berdasarkan data Riskesdas 2013, 49% masyarakat Indonesia menggunakan ramuan obat tradisional untuk menjaga kesehatan dan kebugaran (Kemenkes, 2013).

Data di atas, meskipun agak jadul, namun telah memberikan sedikit gambaran kepada kita terkait tingginya concern penggunaan obat-obatan tradisional oleh masyarakat Indonesia. Pengobatan yang digandrungi kaum menengah ke bawah itu juga nyaris tidak memiliki efek samping bagi penggunanya. Kita tentu tahu bahwa jika pada obat herbal, tradisional yang memanfaatkan serat alami tumbuhan memiliki tingkat risiko efek samping lebih kecil dari obat yang sudah dicampur bahan kimia.

Dari tiap-tiap daerah di Nusantara, terdapat bermacam-macam tumbuhan obat dengan penamaan yang berbeda sesuai kearifan lokal daerah tersebut. Agar kita lebih memahami secara mendalam serta lebih jelas lagi terkait apa saja tanaman tradisional di daerah kita, yang dapat digunakan sebagai bahan pembuatan obat tradisional, maka kita perlu berkenalan lebih dulu dengan salah satu  istilah dalam ilmu Biologi yaitu, Enobotani.

Etnobotani Tanaman Obat

Ada dua dari banyak definisi Etnobotani menurut para ahli. Pertama, Etnobotani merupakan cabang ilmu yang interdispliner, yaitu mempelajari hubungan manusia dengan tumbuhan dan lingkungannya (Baroto, 2004).

Kedua, Etnobotani mempelajari pemanfaatan tumbuhan secara tradisional oleh suku bangsa yang primitif, yang mana gagasannya telah disampaikan pada pertemuan perkumpulan arkeologi tahun 1895 oleh Harsberger.(Chandra 1990, dalam Soekarman 1992).

Kedua penjelasan tersebut sama-sama mengandung beberapa unsur antara lain, manusia, tumbuhan dan lingkungannya. Itu artinya, dengan mempelajari ilmu Etnobotani, kita diharapkan setidaknya mampu mengidentifikasi manfaat suatu tanaman terhadap kelangsungan hidup manusia sesuai dengan lingkungan serta budaya yang ada di sana.

Di dalamnya pula, kita dapat mengetahui bagaimana pola interaksi antara individu atau kelompok dengan alam, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Sejak dulu, jauh sebelum mengenal teknologi kesehatan, nenek moyang kita sering menggunakan saripati pelbagai jenis tumbuhan dengan segala keterbatasan untuk menyokong kesehariannya. Dari tumbuhan itu, dibuatlah produk diversifikasi seperti penyedap masakan, obat-obatan, bahan bangunan, bahan pewarna dan lain sebagainya.

Untuk mendokumentasikan pengetahuan masyarakat tradisional tentang budaya pengobatannya itu, maka diperlukanlah penguasaan ilmu Etnobotani.

Salah seorang Mahasiswa Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Theresia Makaria Farneubun dalam Skripsinya yang berjudul “Etnobotani Pangan Dan Obat Masyarakat Suku Kei Kampung Adat Waur Kei Besar Maluku Tenggara” telah membahas mengenai tradisi pemanfaatan obat tradisional oleh masyarakat lokal di Kepulauan Kei, khususnya di Desa Waur di Kei Besar. Menurutnya selama ini, tradisi di desa tersebut belum terdokumentasikan dengan baik.

Suku Kei memanfaatkan hutan sekitar desa untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari seperti mengambil kayu bakar, rotan, tumbuhan pangan dan obat, berburu binatang buruan dan berbagai macam hasil hutan lainnya.

Namun demikian, pemanfaatan tumbuhan untuk keperluan sehari- hari pada masyarakat Suku Kei belum terdokumentasi dengan baik. oleh karena itu kajian pemanfaatan tumbuhan (kajian etnobotani), pangan dan obat pada masyarakat Suku Kei perlu dilakukan (Theresia, 2014).

Dalam skirpsinya tersebut, ia juga menjelaskan alasannya melakukan penelitian tentang jenis tumbuhan apa saja di Desa Waur yang dapat diolah menjadi obat tradisional menggunakan peralatan sederhana, sehingga masyarakat secara eksplisit akan merasa terbantu dengan adanya proliferasi pengetahuan terkait manfaat obat tradisional di lingkungannya. 

Metode yang digunakan dalam penelitiannya adalah wawancara, observasi lapangan dan pembuatan herbarium.

Hasil dari penelitian yang dilakukannya selama kurang lebih satu bulan itu, memaparkan bahwa di Desa Waur, terdapat jenis tanaman yang biasa digunakan sebagai bahan makanan seperti pisang, sagu, keladi embal (singkong), petatas dan embal roan (daun singkong), ditambah bunga pepaya. Sedangkan untuk kebutuhan obat-obatan, Theresia menemukan sekitar 111 spesies tumbuhan dari 50 famili. Dua di antaranya yang akan kita bahas adalah Enmur dan Wang Roan.

Enmur Wang Roan dan Pelestariannya

Masyarakat Kei umumnya dan Desa Waur pada khususnya, sangat memegang erat budaya pelestarian lingkungan secara turun temurun dari leluhur mereka. Sebagai upaya mencegah adanya pengrusakan hutan oleh oknum warga, maka mereka bersepakat untuk membuat sebuah simbol, sasi atau tanda larangan pada daerah yang dianggap sangat dilindungi. 

Tiga tanda larangan yang biasa dipakai yakni, walut (ukiran batu), tetauw (kayu yang diukir) dan hawear (anyaman daun kelapa).

Tindakan tersebut dirasa sangat efektif karena masing-masing pelanggar akan terkena denda jika tertangkap sedang mencuri tanaman atau sengaja menebang pohon tanpa sepengetahuan masyarakat. Denda dibayar dengan menyerahkan lela (meriam protugis) peninggalan sejarah atau tail mas (emas putih).

Prosesi penyerahan tersebut tentu harus melibatkan seluruh perangkat desa, tokoh adat dan masyarakat agar pelaku mendapat efek jera dan berjanji tidak akan mengulangi pelanggarannya lagi.

Upaya pencegahan ini dilakukan oleh penduduk sekitar, mengingat pentingnya menjaga ketersediaan tanaman pangan dan tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai obat seperti Enmur (Phyllantus niruri) dan Wang Roan (Kleinhovia hospita). 

Kedua tanaman ini memang banyak terdapat di seluruh wilayah di Nusantara, akan tetapi tidak semua orang mengetahui manfaat serta cara pengolahannya menjadi sebuah obat yang aman untuk dikonsumsi. Penamaannya juga berbeda-beda sesuai daerahnya.

Enmur atau biasa dikenal dengan Meniran adalah jenis tanaman obat tradisional yang biasanya digunakan untuk meningkatkan daya tahan tubuh karena mengandung  kimia utama berupa flavonoid, lignan, dan alkaloid, sehingga memiliki efek farmakologi sebagai antiinflamasi, antipiretik, diuretik, penambah nafsu makan, sakit kuning, malaria, batuk, dan disentri (Badan POM RI, 2006). Sedangkan, untuk senyawa alkaloid, saponin, steroid atau triterpenoid, tidak ditemukan (Carrick, 1968).

Untuk habitat, Enmur sendiri tumbuh secara liar pada tanah gembur yang mengandung pasir. Masyarakat biasanya memetik daun Enmur di tengah hutan, sebab Enmur merupakan tumbuhan yang berasal dari daerah tropis yang tumbuh liar di tempat yang lembab dan berbatu, serta tumbuh di hutan, ladang, kebun-kebun maupun pekarangan halaman rumah, pada umumnya tanaman ini tidak dipelihara kerena dianggap tumbuhan rumput biasa (Thomas, 2007).

Sama halnya dengan tanaman Enmur, Wang Roan atau Tahongai juga tumbuh liar di hutan dan ditemukan di tepian Sungai. Wang Roan merupakan tumbuhan obat yang digunakan oleh masyarakat sebagai obat batuk, akan tetapi berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Raflizar dan Sihombing (2009) ditemukan bahwa daun wang roan (Kleinhovia hospita) mengandung golongan kimia saponin, cardenolin, bufadienol dan antrakinon yang dapat mengurangi kerusakan sel hati yang ditimbulkan oleh karbon tertaklorida dan berkhasiat untuk pengobatan radang hati.

Selain kedua jenis tanaman tersebut, ada juga beberapa tanaman lain seperti Bunga ular (Cissus discolor), daun kaca- kaca (Peperomia pellucid), kubang dit (Datura metel) untuk mengobati penyakit demam. Uru-ruak (Spatholottis plicata), bunga lilin (Stachytarpheta indica) untuk mengobati penyakit ginjal. Kumis kucing (Orthosiphon stamineus), pepaya (Carica papaya) untuk mengobati penyakit malaria (Theresia, 2014).

Terdapat berbagai macam cara penggunaan tumbuhan obat oleh masyarakat Kampung Waur sendiri baik berbentuk ramuan maupun obat tunggal seperti direbus, dikunyah, diremas, ditumbuk, diparut, dibakar maupun yang langsung dimakan. Dari beberapa cara yang telah disebutkan, yang paling banyak dipakai oleh masyarakat adalah cara ditumbuk lalu direbus, baru kemudian diminum. 

Adapun yang memanfaatkannya dengan cara ditumbuk sampai halus, kemudian dibalut ke bagian tubuh yang sakit digunakan untuk mengobati bisul, luka, gatal-gatal, panu atau menghilangkan kutu kepala yang disebut dengan penyakit kar-karit yang menyebabkan luka- luka pada kulit kepala.

Masyarakat Desa Waur, Kepulauan Kei telah membuktikan kemampuannya dalam mengidentifikasi tanaman pangan serta obat untuk melawan penyakit di daerahnya. 

Semoga dengan makin meningkatnya peran ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat akan semakin mengenal lebih banyak lagi pemanfaatan keanekaragaman hayati, lengkap dengan budaya pengolahan tanaman pangan dan obat yang ada di daerah masing-masing.

Sumber

  • Suryadarma, IGP. 2008. Etnobotani. Diktat Kuliah Biologi. Universitas Negeri Yogyakarta.
  • Paramita, Swandari. 2016. TAHONGAI (Kleinhovia hospita L.): REVIEW SEBUAH TUMBUHAN OBAT DARI KALIMANTAN TIMUR. Jurnal volume 9, no. 1, Agustus 2016. Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Samarinda. Kalimantan Timur.
  • Widyastuti, Rahma, Bakti, M. Samsu Adi, Listyana, Nurul H. KARAKTERISASI MORFOLOGI DAN FITOKIMIA TANAMAN MENIRAN (PHYLLANTHUS NIRURI L). Jurnal Ilmiah. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan  Obat Tradisional (B2P2TO-OT).
  • Makaria, Theresia Farneubun. 2014. SKRIPSI; ETNOBOTANI PANGAN DAN OBAT MASYARAKAT SUKU KEI KAMPUNG ADAT WAUR KEI BESAR MALUKU TENGGARA. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Bogor.
  • Thomas. Tanaman Obat Tradisional 2. Yogyakarta: Kanisius, 2007, h. 81-85.
  • https://bontangpost.id/9424-tahongai-tanaman-mujarab-dari-benua-etam/ | BontangPost.ID