Sebelum menjelaskan lebih lanjut mengenai maternal jealousy. Saya menjadi teringat cerita dongeng puti salju yang dibuang oleh ibu tirinya dikarnakan sang ibu tiri tidak mau tersaingi dengan kecantikan paras putri salju. Oleh karena itu, putri salju dibawa ke hutan bersama prajurit atas permintaan ibu tiri tersebut untuk dibawa ke hutan dan dibunuh. 

Namun karena tak tega, putri salju akhirnya dibuang ditengah hutan oleh prajurit dan tidak jadi membunuhnya. Akhirnya Prajurit memberikan paru binatang buruan untuk diberikan kepada ibu tiri sebagai bukti kalau prajurit berhasil membunuh putri salju.

Pertengahan bulan lalu, ramai diperbincangkan di media sosial kasus ibu mertua yang selingkuh dengan menantunya. Topik ini menarik perhatian dari berbagai kalangan. Sekilas kalimat tersebut seperti judul sinetron. Kelihatannya hal ini mustahil dan sulit untuk dipercaya. Saya kira kasus ibu yang cemburu terhadap anaknya hanya ada dicerita dongeng. Namun ternyata, hal ini benar dan nyata terjadi. 

Bila dilihat dari kasus yang menimpa Norma Rismala  kondisi ini secara psikologis dinamakan maternal jealousy. Kondisi di mana ibu menunjukkan kecemburuan terhadap anaknya. Sama halnya dengan kasus Norma Rismala yang ibu kandungnya merebut suami dari anaknya sendiri.

Maternal jealousy merupakan kondisi seorang ibu yang merasa cemburu terhadap anak perempuannya dan merasa anak perempuannya itu merupakan saingan terbesarnya. Kasus maternal jealousy tanpa disadari mungkin terjadi di sekeliling kita, namun dengan contoh yang tidak seekstrem seperti di atas.

Contohnya saja seorang ibu yang tidak memperbolehkan anak remajanya berdandan dengan alasan “kamu nanti terlihat tua lo.. masih gadis ngak usah dandan!”. Padahal si ibu berdandan dengan dandanan menor dengan bedak tebal dan bibir merah.  Kenapa dilarang? Toh si ibu melakukan hal yang sama, yang ingin anaknya lakukan dan apa yang dilakukan itu merupakan bagian dari hak asasi masing-masing. Padahal anak yang dilarang berdandan itu merupakan anak yang sudah lulus kuliah dan beranjak dewasa.

Ada beberapa penyebab munculnya faktor maternal jealousy, sebagaimana yang dikutip oleh Halimah seorang Praktisi Gentle Parenting & Parenting Influencer Indonesia dalam vidionya diantaranya: Pertama, adanya narsistik personalisis problem dalam diri seseorang. Hal ini merupakan kondisi kepribadian seseorang yang menganggap dirinya penting dan harus dikagumi. Kondisi ini membuat dirinya hampir selalu merasa dirinya lebih baik dibandingkan dengan orang lain.

Kedua, depresi pasca melahirkan yang tidak ditangani dengan baik. Ternyata hal ini akan mengakibatkan dampak yang sangat besar tidak hanya bagi seorang ibu tetapi juga anak yang dilahirkan. Karena pada kondiri pasca melahirkan yang membuat semua serba berubah. Mulai dari waktu berdua dengan suami berkurang, aktivitas yang melelahkan, kurangnya waktu meet time yang berbeda jauh dengan sebelum punya anak. 

Pada saat depresi setelah melahirkan seorang ibu itu muncul dalam hal ini akan berdampak pada kecenderungan seorang ibu menyalahkan dirinya sendiri dan anak yang dilahirkannya. Maka hal ini perlu ditangani dengan baik. Jangan sampai kehadiran anak membuat suatu permasalahan dan rasa bersalah. Dan kehadiran anak akan memberikan kesengsaraan bukan kebahagiaan.

Ketiga, kultur di Negara Indonesia. Perempuan dikondisikan uuntuk saling bersaing mendapatkan cinta dari laki-laki. Karena laki-laki diangkap sumber dari keamanan, finansial, dan rasa cinta. Seolah-olah kita perempuan yang ngak mampu untuk memberikan rasa cinta, mendapatkan penghasilan dan finansial.

Halimah juga menyinggung kasus yang hampir sama di luar negeri. Ibu dari Michigan, USA ini membuat akun fake untuk memaki dan membully anaknya sendiri. Ibu tersebut memaki anaknya setiap hari dengan mengatakan hal-hal buruk tentang anaknya. Faktanya, anak perempuan tersebut merupakan seorang murid yang berprestasi dan populer di sekolah.

Hal ini menjadi peringatan bagi kita terutama bagi perempuan, para ibu dan calon ibu diluar sana. Kalau kita merasa terluka dengan atau kekurangan cinta pada diri kita. Kita merasa cemburu terhadap cinta yang diterima anak kita. 

Bisa disebabkan karena dari kecil kita kurang mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah dan ketika kita mempunyai anak dan anak kita dekat dengan ayahnya (suami kita) dan karena hal tersebut akhirnya kita merasa ngak suka atau menjadi sifat cemburu ini yang perlu untuk diwaspadai. Hal tersebut perlu untuk kita kendalikan supaya tidak menjadi racun untuk anak kita nanti.

Seorang ibu idealnya akan merasa senang dan bahagia ketika anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik, cantik, berprestasi, sukses, disukai banyak orang dan dikelilingi banyak cinta. Namun tidak dengan hal ini.  Perlu diingat…ciri-ciri diatas tidak dapat menjadi patokan untuk mendiagnosis seseorang yaa. Seseorang dapat didiangnosis hanya dengan seorang yang ahli dalam bidangnya. Dalam hal ini seorang dokter atau psikiater.