1 tahun lalu · 1395 view · 7 menit baca · Filsafat 85523_81398.jpg

Mengenal Macam-Macam Luzum

(Ngaji Mantik Bag. 9)

Pembahasan mengenai luzum ini merupakan lanjutan dari pembahasan dalalah iltizamiyyah yang sudah diterangkan pada tulisan yang lalu. Sebelum kita masuk kedalam pembagian, perlu kita jelaskan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan luzum.

Singkatnya, luzum itu artinya konsekuensi atau keterkaitan (irtibath). Atau, lebih jelasnya, dalam buku-buku mantik diterangkan bahwa luzum itu ialah “adam al-infikak ‘aqlan aw ‘urfan” (ketak-berpisahan baik secara akal maupun kebiasaan).

Untuk memahami pengertian tersebut, kita ambil contoh yang sederhana. Antara api dan panas, seperti yang sudah penulis contohkan pada tulisan yang lalu. Api dan panas adalah dua hal yang berbeda, tapi, meskipun berbeda, keduanya saling terkait erat.

Buktinya, manakala disebut api, pastilah akal kita akan membayangkan rasa panas. Api dalam hal ini disebut malzum, sedangkan panas yang kita pahami dari api disebut sebagai lazim. Dalalah-nya adalah dalalah iltizamiyyah

Sebagai lanjutan dari dalalah iltizamiyyah, pada tulisan kali ini kita akan membahas macam-macam luzum berserta contoh-contohnya. Pengetahuan mengenai hal ini penting agar kita bisa membedakan mana luzum yang mu’tabar, dan mana luzum yang ghair mu’tabar, menurut para ahli ilmu mantik.  

Secara umum, pembagian luzum bisa dilihat dari sisi. Pertama, dari aspek kejelasan dan ketidak-jelasannya (bi’tibar al-Wudhuh wa al-Khafa). Kedua, dari aspek ruang atau tempatnya (bi’tibar al-Mahall).

Berdasarkan Kejelasan dan Ketidak-jelasannya.

Berdasarkan kejelasan dan ketidak-jelasanya, luzum dibagi dua: Ada yang disebut luzum bayyin, ada yang disebut luzum ghair bayyin. Ada keterkaitan yang jelas, dan ada keterkaitan yang tidak jelas.

[1] Luzum Ghair Bayyin (keterkaitan yang tidak jelas)

Definisinya: “ma yahtaju fi itsbati luzumihi ila dalil” (sesuatu yang dalam memastikan keterkaitannya membutuhkan bukti atau dalil).

Contoh luzum ghair bayyin: alam dan kebaruan (al-Huduts). Adakah keterkaitan antara keduanya? Ada, tapi tidak jelas. Ya, bagi orang beriman mungkin itu sudah jelas. Tapi bagi orang yang tak tahu menahu tentang hakikat alam tentu saja membutuhkan dalil. Karena ia membutuhkan dalil, maka ia disebut luzum ghair bayyin (keterkaitan yang tidak jelas).

[2] Luzum Bayyin (keterkaitan yang jelas)

Definisnya:ma la yahtaju fi itsbati luzumihi ila dalil” (sesuatu yang dalam memastikan keterkaitannya tidak membutuhkan bukti atau dalil).

Contoh luzum bayyin: Keterkaitan antara api dan panas. Api adalah api. Panas adalah panas. Dua hal yang berbeda. Tapi mereka saling terkait. Di mana ada api, di situlah ada panas.

Apakah Anda memerlukan pembuktian rasional untuk menjelaskan keterkaitan antara api dan panas? Tentu saja tidak. Orang sudah tahu bahwa api itu selalu disertai panas. Nah, karena keterkaitan tersebut bersifat jelas, maka ia disebut luzum bayyin.

Luzum bayyin ini kemudian dibagi lagi menjadi dua: Ada luzum bayyin bil ma’na al-A’am (keterkaitan yang jelas dengan pemaknaan yang lebih umum), ada luzum bayyin bilma’na al-Akhassh (keterkaitan yang jelas dengan pemaknaan yang lebih khusus).

Kita akan memahami perbedaan kedua macam luzum ini setelah menyimak uraian dan contoh-contoh sebagai berikut:

Luzum Bayyin Bilma’na al-Akhassh

Definisnya: ma yakfi fihi tashawwur al-Malzum faqath (keterkaitan yang bisa dipahami cukup dengan membayangkan malzum-nya saja). Misalnya, angka empat dan genap. Angkap empat dalam hal ini disebut malzum (yang disertai), dan kata genap disebut lazim (yang menyertai). Di mana disebut kata empat, pasti akal kita akan membayangkan makna genap.

Contoh lain: batu es dengan dingin: Di mana disebut kata es, di situlah kita membayangkan rasa dingin. Batu esnya sebagai malzum (yang disertai), dan dinginnya disebut lazim (yang menyertai). Di mana disebut kata batu es, maka langsung seketika akal kita membayangkan rasa dingin. Ini namanya luzum bayyin bilma’na al-Akhassh.

Luzum Bayyin Bilma’na al-A’am

Definisnya: ma la buda fihi min tashawwur al-Lazim wa al-Malzum (keterkaitan yang tak akan dipahami kecuali dengan membayangkan lazim dan malzum). Misalnya antara manusia dengan kemampuan memasak. Keduanya memiliki keterkaitan. Tapi, apakah ketika disebut kata manusia, kita langsung membayangkan sosok makhluk hidup yang mampu memasak?

Ya belum tentu. Kita bisa mengatakan bahwa antara kemampuan memasak dan manusia itu ada keterkaitan setelah kita paham apa itu manusia, dan apa itu memasak. Setelah dibayangkan keduanya, barulah kita tahu bahwa keduanya memiliki keterkaitan.

Contoh lain: Cinta dan kebahagiaan. Apakah keduanya memiliki keterkaitan? Tentu saja. Tapi, keterkaitan antara keduanya hanya bisa ditangkap ketika kita membayangkan makna cinta, juga mengetahui makna bahagia. Setelah terbayang keduanya, barulah kita bisa berkesimpulan bahwa keduanya memiliki keterkaitan.

Berdasarkan Ruangnya

Berdasarkan tempat atau ruangnya, luzum dibagi tiga: Ada luzum dzihniy, luzum kharijiy, dan luzum dzihniy wa kharijiy. Apa perbedaan antara ketiganya? Penjelasannya sebagai berikut:

[1] Luzum Dzihniy (Keterkaitan Rasional)

Definisnya: Keterkaitan yang hanya ada dalam nalar.

Contohnya: Keterkaitan antara gerak dan diam. Buta dan melihat. Tuli dan mendengar. Dan contoh-contoh sejenisnya. Meskipun di alam luar dua hal tersebut saling bertentangan. Tapi, akal kita bisa saja mengatakan bahwa dua hal itu memiliki keterkaitan.

Anda tidak mungkin bisa membayangkan hakikat gerak kecuali jika Anda tahu apa itu diam. Anda akan sulit membayangkan apa itu buta kecuali jika Anda tahu apa itu melihat. Keduanya memiliki keterkaitan, tapi keterkaitan itu hanya ada dalam nalar, tidak ditemukan di alam luar. Di luar justru mereka saling bertentangan.

[2] Luzum Kharijiy (Keterkaitan Eksternal)

Definisinya: Keterkaitan yang hanya ada di alam luar.

Contohnya: Keterkaitan antara burung gagak dan warna hitam. Faktanya kita tahu bahwa tidak ada burung gagak yang tidak berwarna hitam. Dengan kata lain, di luar kita menyaksikan keterkaitan yang erat antara warna hitam dengan burung gagak.

Tapi, akal kita bisa saja membayangkan burung gagak yang berwarna lain. Karena itu, keterkaitan ini hanya ada di alam luar, sementara akal bisa saja menafikan keterkaitan tersebut. Karena keterkaitan ini hanya ada di alam luar, maka ia tidak bisa dijadikan dasar.

[3] Luzum Dzihniy wa Kharijiy (Keterkaitan Rasional-Eksternal)

Definisinya: Keterkaitan yang ada dalam akal juga di alam luar

Contohnya: Keterkaitan antara angka tiga dan makna ganjil. Akal kita tidak mungkin menolak adanya keterkaitan antara tiga dengan makna ganjil. Di alam luar juga kita tidak akan menemukan angka tiga kecuali dia ganjil.

Dari sekian banyak macam luzum tersebut, yang dijadikan dasar dalam ilmu mantik hanya ada satu, yaitu luzum bayyin bilma’na al-Akhassh (keterkaitan yang jelas dengan pemaknaan yang lebih khusus), baik luzum itu hanya ada dalam nalar (dzihniy), ataupun nalar sekaligus di alam luar (dzihniy wa kharijiy)

Lebih jelasnya, keterkaitan yang dijadikan dasar dalam ilmu mantik itu ialah keterkaitan yang bisa dipahami dengan menyebutkan malzum-nya saja. Itupun dengan syarat bahwa akal kita tidak memiliki ruang untuk menolak keterkaitan tersebut. Contohnya seperti yang sudah penulis sebutkan di atas. Api dan panas. Batu es dan dingin. Empat dan genap. Tiga dan ganjil. Dan lain-lain.

Syarat ketat seperti ini tentu tidak kita temukan dalam disiplin ilmu tafsir, hadits, fikih ataupun ushul fikih. Dalam disiplin keilmuan tekstual-transmisional (al-Ulum al-Naqliyyah), luzum itu cakupannya bisa lebih diperluas. Karena ilmu-ilmu semacam itu tujuan utamanya ialah pengambilan hukum dan pengayaan tafsir.

Berbeda halnya dengan ilmu mantik. Ilmu mantik bukan ilmu yang bertujuan untuk memperkaya makna dan tafsiran kata, tapi dia adalah ilmu yang berusaha untuk mengatur dan menata cara berpikir manusia.

Sebagai contoh kita ambil kata salat. Kita tahu bahwa salat itu ialah ucapan dan perbuatan yang diawali dengan takbir, dan diakhiri dengan salam, dengan syarat-syarat tertentu (aqwalun wa af’alun muftatahatun bittakbir, wa mukhtatamatun bittaslim, bi syaraitha makhshushah). Itu makna utuh dari kata salat.

Manakala kita menemukan perintah untuk melaksanakan salat dalam al-Quran, maka dengan sendirinya perintah tersebut mengandung perintah berwudhu, menghadap kiblat, menutup aurat dan hal-hal lain yang menjadi syarat sahnya salat. Dengan kata lain, perintah salat tersebut mencakup lawazim (jamak luzum) dari kata salat.

Ini berbeda halnya dengan ilmu mantik. Manakala disebut kata salat, tidak serta kita boleh memaknai kata tersebut dengan lawazim atau hal-hal yang menyertai salat. Salat ya salat. Wudhu ya wudhu. Keduanya memiliki makna yang berbeda. Tidak bisa kita menggunakan kata salat, dan yang kita maksud adalah kata wudhu. Atau sebaliknya.

Karena itu, dalam percakapan intelektual, secara pribadi saya berpandangan bahwa penggunaan dalalah iltizamiyyah ini sebaiknya dihindari saja. Dalalah yang paling relevan untuk digunakan dalam diskusi dan perdebatan ilmiah itu ialah dalalah lafzhiyyah wadh’iyyah muthabaqiyyah, yakni petunjuk suatu lafaz atas makna utuhnya.

Meskipun tadhammuniyyah dan iltizamiyyah itu boleh digunakan, tapi terkadang penggunaan dua dalalah tersebut dapat berujung pada permainan istilah yang biasanya menghasilkan perdebatan yang tidak sehat.  

Misalnya dulu adalah seorang tokoh yang bilang bahwa al-Quran adalah kitab suci yang liberal. Atau, al-Quran mendukung liberalisme. Kebanyakan orang Islam pasti tidak akan setuju dengan pernyataan ini. Tapi apakah pernyataan ini bisa diterima secara logika?

Jika yang dijadikan dasar adalah dalalah tadhammuniyyah atau iltizamiyyah, seperti yang sudah penulis jelaskan sebelumnya, tentu saja pernyataan tersebut tidak sepenuhnya salah. Karena memang, sampai batas-batas tertentu, al-Quran mengakui adanya kebebasan. Dan kebebasan adalah bagian dari makna liberalisme.  

Tapi, jika tidak dipahami dengan baik, pada akhirnya penggunaan signifikasi seperti itu akan berujung pada permainan istilah. Karena itu, jika ingin dipersempit lagi, maka dalalah yang lebih pas digunakan itu, khususnya dalam percakapan intelektual, ialah dalalah muthabaqiyyah, meskipun dua dalalah sebelumnya juga boleh digunakan, selama qarinah atau konteks yang mengitarinya bisa dipahami dengan jelas.   

Poinnya, dalalah dalam ilmu mantik memiliki ruang gerak yang lebih sempit ketimbang dalalah yang kita kenal dalam ilmu-ilmu yang lain. Mengapa? Karena ilmu mantik bertujuan untuk mengatur gerak logika, bukan bertujuan untuk memperkaya tafsiran makna dari suatu kata.

 

     

             

Artikel Terkait