1 tahun lalu · 244 view · 4 menit baca · Filsafat 87196_45773.jpg

Mengenal Macam-Macam Kulliy

(Ngaji Mantik Bag. 15)

Pada tulisan yang lalu sudah dijelaskan bahwa lafaz kulliy tidak disyaratkan atau tidak diharuskan untuk memiliki individu yang nyata di alam inderawi. Karena yang menjadi tolak ukur adalah imajinasi. Selama suatu kata itu berlaku untuk banyak individu, sekalipun hanya dalam bayangan, maka kata tersebut masuk dalam kategori kulliy.

Karena yang menjadi pijakan itu adalah imajinasi, maka dari sini kita bisa membagi lafaz kulliy kedalam beberapa bagian. Pembagian ini didasarkan atas kemungkinan-kemungkinan sebagai berikut:

Adakalanya lafaz kulliy itu tidak memiliki individu sama sekali karena kemustahilan. Adakalanya dia tidak memiliki individu tapi keberadaannya sangat dimungkinkan. Adakalanya dia memiliki satu individu, dan mustahil ada yang menyerupainya.

Adakalanya dia memiliki satu individu, tapi mungkin ada yang serupa dengannya. Adakalanya dia memiliki individu yang banyak, tapi jumlahnya terbatas. Dan adakalanya juga dia memiliki individu yang banyak, dan individu yang dimilikinya itu tidak terbatas.

Kesimpulannya, berdasarkan ada dan ketiadaan individu yang dimiliknya, lafaz kulliy terbagi kedalam enam bagian:  

Pertama, kulliy yang tidak memiliki individu (afrâd) sama sekali di alam inderawi karena faktor kemustahilan. Misalnya seperti konsep ijtima al-Naqhidhain (bertemunya dua hal yang bertentangan).

Saya yakin kita semua sepakat bahwa dua hal yang bertentangan itu tidak akan pernah kita temukan di dunia nyata. Tapi, dalam dunia imajinasi, bertemunya dua hal yang bertentangan itu bisa saja kita bayangkan.

Dengan kata lain, kita bisa membayangkan banyak hal yang bertentangan, yang di dunia nyata tidak menyatu, tapi imajinasi kita bisa berfantasi dengan menyatukan pertentangan itu. Nah, karena akal kita bisa mengimajinasikan, maka mafhum ijtima naqhidhain tersebut masuk dalam kategori kulliy.

Contoh lain. Sekutu Tuhan (syarik al-Bari). Sebagai orang beriman, kita semua sepakat bahwa Tuhan itu Maha Esa, tidak ada sekutu baginya. Tapi, sekali lagi, di alam imajinasi, kita bisa membayangkan sekutu-sekutu Tuhan yang banyak, sekalipun faktanya tidak ada.

Karena itu, mafhum sekutu Tuhan termasuk mafhum yang kulliy. Mengapa? Karena akal kita bisa membayangkan adanya keberbilangan itu, sekalipun keimanan kita menolak.  

Kedua, kulliy yang tidak memiliki individu sama sekali di alam luar tapi keberadaannya sangat dimungkinkan. Contohnya seperti gunung yang terbuat dari cahaya (jabal minnur).

Pernahkah Anda melihat gunung yang terbuat dari cahaya di alam nyata? Tidak pernah. Tapi mungkinkah dia ada? Tentu sangat mungkin. Karena sekalipun keberadaannya mustahil secara kebiasaan, keberadaan gunung yang terbuat dari cahaya itu sangat dimungkinkan secara akal.

Yang kedua ini sama dengan yang pertama, yakni tidak memiliki individu sama sekali di alam nyata. Bedanya, jika yang pertama disebabkan karena kemustahilan, maka yang kedua ini wujudnya masih dimungkinkan oleh akal.  

Ketiga, kulliy yang hanya memiliki satu individu dan mustahil ada yang serupa dengannya. Contohnya kata Tuhan. Kita semua—khususnya orang Islam—meyakini bahwa Tuhan itu satu, tidak berbilang.

Tapi, akal kita bisa saja mengimajinasikan tuhan yang banyak, meskipun—berdasarkan dalil-dalil yang kita pelajari—kita semua yakin bahwa Tuhan itu hanya ada satu.

Karena itu kata Tuhan masuk kategori kulliy, sekalipun individunya cuma satu. Mengapa? Karena, sekali lagi, akal kita bisa membayangkan adanya keberbilangan itu. Sekalipun pada kenyataannya Tuhan hanya ada satu.

Penting dicatat bahwa dengan mengatakan lafaz Tuhan itu kulliy bukan berarti kita meyakini adanya Tuhan yang berbilang, atau membuka ruang kemungkinan adanya banyak Tuhan.

Kata Tuhan itu masuk kategori kulliy karena, sekali lagi, imajinasi kita bisa membayangkan adanya keberbilangan. Meskipun—berdasarkan dalil-dalil tekstual dan rasional yang kita pelajari—kita percaya bahwa Tuhan itu hanya ada satu, tidak berbilang.

Keempat, kulliy yang hanya memiliki satu individu tapi mungkin ada yang serupa dengannya. Contohnya seperti Matahari. Dalam sistem tata surya kita tahu bahwa matahari itu hanya ada satu. Tapi, akal kita bisa saja membayangkan matahari yang banyak.

Karena itu dia masuk kategori kulliy, tapi individunya cuma satu. Meskipun hanya satu, tapi akal kita memungkinkan adanya matahari yang serupa dengan matahari yang sering kita lihat itu.  

Kelima, kulliy yang memiliki individu yang banyak tapi terbatas. Contohnya seperti manusia. Kata manusia itu kulliy. Mengapa? Karena dia berlaku bagi semua individu yang direkatkan oleh hakikat kemanusiaan. Tapi, betapapun banyaknya individu yang tercakup oleh kata tersebut, pada akhirnya tetap saja ia terbatas.

Contoh lain saya kira cukup banyak: Laptop, kulkas, meja, pulpen, buku, rumah, kamar, kantor, pabrik, dan kata-kata universal sejenisnya masuk dalam kategori ini. Kata-kata tersebut memiliki individu yang banyak, tapi betapapun banyaknya, individu yang dimilikinya itu terbatas.

Keenam, kulliy yang memiliki individu yang banyak tapi tidak terbatas. Contohnya seperti nikmat Tuhan. Sebagai orang beriman, kita semua percaya bahwa nikmat itu tak terbatas karena dia berasal Dzat yang tak memiliki batas. Karena itu, mafhum nikmat Tuhan itu termasuk mafhum kulliy. Mengapa? Karena nikmat Allah itu mencakup segala macam nikmat, dan nikmat tersebut tidak memiliki batas.

Contoh lain: kata syai, atau sesuatu. Kata tersebut termasuk kulliy, karena dia berlaku bagi banyak individu. Dan individu yang tercakup oleh kata tersebut tidak terbatas. Beda halnya dengan yang nomer lima. Jika yang sebelumnya terbatas, maka yang ini tidak terbatas.

Kesimpulannya, berdasarkan ada dan ketiadaan individunya di alam nyata, lafaz kulliy terbagi enam. Ada lafaz kulliy yang tidak memiliki individu sama sekali, karena kemustahilan. Ada lafaz kulliy yang tidak memiliki individu sama sekali, tapi keberadaannya dimungkinkan. Ada lafaz kulliy yang hanya memiliki satu individu, dan mustahil ada yang serupa dengannya.

Ada lafaz kulliy yang memiliki satu individu, dan dimungkinkan ada yang serupa dengannya. Ada lafaz kulliy yang memiliki banyak individu, tapi jumlahnya terbatas. Kemudian, terakhir, ialah lafaz kulliy yang memiliki banyak individu, tapi keberadaannya tidak terbatas.

Setelah ini kita akan membahas pembagian lain dari lafaz kulliy berdasarkan sudut pandang yang berbeda-beda. Uraian mengenai hal tersebut, insyaAllah akan kita bahas pada beberapa tulisan mendatang.