8 bulan lalu · 504 view · 6 menit baca · Filsafat 93321_48764.jpg
Ilustrasi: raseef22.com

Mengenal Macam-Macam Definisi

Ngaji Mantik Bag. 29

Secara harfiah, ta’rif atau definisi itu bermakna pengenalan, dari kata kerja ‘arrafa-yu’arrifu, yang artinya memberi tahu atau memperkenalkan. Dalam bahasa Arab, definisi itu dinamai ta’rif karena dialah yang memperkenalkan kita pada makna utuh dari sesuatu yang sebelumnya tidak kita kenal.

Itu sebabnya, perkenalan orang yang hendak menikah, dalam bahasa Arab, disebut dengan istilah ta’aruf, yang artinya saling mengenal. Dalam dunia tasawuf, orang yang tingkat pengenalannya tinggi terhadap Tuhan disebut sebagai ‘arif. Pengetahuannya disebut ‘irfan, atau ma’rifah. Semua istilah-istilah tersebut bertitik-tumpu pada satu makna dasar, yakni mengetahui dan mengenal.

Istilah lain dari ta’rif ini ialah qaul syarih. Qaul artinya perkataan, syarih artinya yang menjelaskan. Ia dinamai qaul syarih karena ia berfungsi untuk menjelaskan hakikat makna dari yang sesuatu yang hendak didefinisikan (mu'arraf).

Dengan demikian, ta’rif, qaul syarih, atau definisi itu merujuk pada satu makna yang sama, yakni suatu ungkapan yang dapat memperkenalkan kepada kita tentang hakikat sesuatu sehingga dengan melalui ungkapan tersebut kita bisa membedakan sesuatu itu dengan sesuatu yang lain.  

Namun, sampai di sini penting kiranya dicatat bahwa tidak semua definisi atau ta’rif itu bisa memperkenalkan makna sesuatu yang ingin dikenal secara tepat, benar dan utuh. Dengan kata lain, ada beberapa jenis ta’rif yang cacat sehingga ia tidak bisa dijadikan sandaran, khususnya dalam diskusi-diskusi ilmiah, karena ia tidak menjelaskan hakikat sesuatu yang hendak didefinisikan.  

Meskipun, secara sadar atau tidak, ta’rif yang lemah dan cacat itu sering kita gunakan, terutama dalam percakapan sehari-hari. Dalam percakapan sehari-hari seringkali kita memperkenalkan kepada orang lain tentang sesuatu, tapi pengenalan kita terhadap sesuatu itu tidak mampu memperkenalkan secara utuh esensi dari sesuatu yang hendak kita perkenalkan itu.

Misalnya Anda punya teman seorang non-muslim yang ingin mengenal lebih jauh tentang Agama Anda. Kemudian teman Anda mengajukan pertanyaan: “Eh, coba jelasin donk, Islam itu apa sih?” Lalu dengan singkat Anda menjawab: “Islam itu ya kaya Agamaku ini. Kitab sucinya al-Quran, kiblatnya ka’bah, nabinya Nabi Muhammad, dan lain-lain.”

Apakah jawaban ini sudah tepat? Di satu sisi, jawaban tersebut memang sudah mampu memperkenalkan sekelumit gambaran tentang Islam kepada yang bersangkutan. Tapi pengenalannya tidak utuh. Karena pengenalannya tidak utuh, maka ta’rif semacam itu tidak layak dijadikan sandaran. Ta’rif seperti itu adalah ta’rif yang cacat. Meskipun dalam percakapan sehari-hari seringkali kita gunakan.


Contoh lain: Ada orang bertanya kepada Anda tentang liberalisme. Apa itu liberalisme? Kemudian dijawab: liberalisme itu ya seperti yang disuarakan oleh orang-orang JIL itu. Liberalisme itu ajaran sesat, bertentangan dengan al-Quran dan sunnah, dan lain sebagainya. Definisi ini tidak kalah ngawur dari definisi yang pertama. Karena kedua-duanya sama-sama tidak menjelaskan secara utuh hakikat dari sesuatu yang hendak didefinisikan.     

Lalu seperti apa sih definisi yang bisa dijadikan sandaran itu? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu beberapa jenis ta’rif atau definisi yang tidak bisa dijadikan sandaran itu, selain contoh yang sudah penulis sebutkan di atas. Setidaknya ta’rif yang tidak bisa dijadikan sandaran itu ada lima: 

Pertama, ta’rif bil isyarah. Ta’rif dengan isyarat. Misalnya Anda punya teman yang tidak pernah mengenal mall. Kemudian Anda ajak yang bersangkutan untuk pergi jalan-jalan ke mall, sambil anda memberi isyarat kepadanya bahwa inilah bangunan yang disebut mall itu.

Atau ada yang bertanya kepada Anda tentang definisi handphone. Apa itu handphone? Lalu Anda memberi isyarat pada yang bersangkutan bahwa handphone itu seperti yang ada dalam genggaman tangan Anda.   

Ta’rif semacam ini jelas hanya berlaku bagi anak-anak kecil dan para pemula. Tidak bisa dijadikan dasar dalam berlogika apa lagi dalam diskusi dan percakapan-percakapan ilmiah.

Kedua, ta’rif lafzhiy. Ta’rif dengan suatu lafaz tunggal. Artinya, kita mendefinisikan suatu istilah dengan istilah lain yang bermakna serupa. Misalnya kita mendefiniskan nasi dengan kata sangu.

Semua orang sunda tahu bahwa sangu itu adalah nama lain dari kata nasi. Artinya, ketika Anda mendefiniskan kata nasi dengan kata sangu, orang tidak akan menangkap makna baru. Karena itu, ta’rif seperti itu juga tidak bisa dijadikan dasar.

Contoh lain: Anda mendefiniskan kata peci dengan kata kopiah. Peci dan kopiah artinya sama. Ketika kata peci Anda definisikan dengan kata kopiah, maka ketika itu kata tersebut tidak memberikan makna tambahan apa-apa. Karena dua-duanya menunjuk satu barang yang sama. Karena itu, ia juga tidak bisa dijadikan sandaran.

Contoh lain: Ada yang bertanya: Apa itu penistaan? Dijawab: Penistaan itu adalah penghinaan. Padahal kedua-duanya bermakna serupa. Jawaban tersebut jelas tidak memadai. Karena itu ia bukan definisi yang tepat. Mengapa? Karena dengan kata penghinaan Anda tidak menjelaskan esensi dari penistaan. Padahal yang diinginkan oleh pihak yang bertanya adalah esensi dari penistaan itu sendiri.   

Ketiga, ta’rif tanbihiy. Ta’rif yang fungsinya hanya mengingatkan, dari kata nabbaha-yunabbihu, yang artinya mengingatkan. Misalnya ada orang yang sebelumnya memiliki bayangan tertentu tentang arti kata single. Tapi kemudian dia lupa.

Lalu Anda katakan bahwa single itu adalah jomblo. Artinya, dalam konteks ini Anda “mengingatkan” dia dengan bahasa yang lebih populer. Ta’rif ini adalah bagian dari ta’rif kedua tadi. Karena itu, ia juga tidak bisa dijadikan sandaran.

Keempat, ta’rif bil mitsal. Ta’rif dengan contoh. Misalnya ada yang bertanya: Apa itu buah? Kemudian Anda jawab: Ya buah-buahan itu contohnya seperi apel, mangga, melon, dan lain-lain. Atau teman Anda bertanya: Apa itu penyanyi? Lalu Anda jawab: Owh penyanyi itu ya seperti Via Vallen, Sheril, Raisa, Ariel Noah, Kaka Slank, dan lain-lain.

Ta’rif semacam ini hampir sering kita gunakan dalam percakapan sehari. Tapi dalam ilmu logika, ta’rif semacam ini tidak bisa dijadikan dasar. Mengapa? Karena, sekali lagi, dia tidak mampu menjelaskan esensi utuh dari sesuatu.


Kelima, ta’rif bittaqsim. Ta’rif dengan pembagian. Lebih jelasnya, dalam ta’rif ini kita menjelaskan sesuatu dengan bagian yang tercakup oleh sesuatu itu, bukan menjelaskan esensinya.

Misalnya ada orang bertanya: Apa sih buku itu? Lalu Anda menjawab: Ya buku ada buku ilmiah, ada buku fiksi. Atau ada yang bertanya: Apa sih universitas itu? Kemudian dijawab: Ya universitas itu ada yang negeri, ada yang swasta. Apa itu musik? Musik ialah dangdut, pop, jazz, dan lain sebagainya.

Semua ta’rif yang penulis sebutkan di atas tidak bisa dijadikan sandaran dalam diskusi dan percakapan-percakapan intelektual, meskipun hampir sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari. Karena masing-masing dari ta’rif tersebut tidak menjelaskan esensi utuh dari sesuatu. Sebagaimana ia juga tidak bisa digunakan dalam setiap kondisi.

Kesimpulannya, ta’rif itu ialah ungkapan yang dapat memperkenalkan kepada kita tentang hakikat sesuatu sehingga dengan memahami ungkapan tersebut kita bisa membedakan sesuatu itu dengan sesuatu yang lain.

Masing-masing dari ta’rif di atas tidak bisa dijadikan dasar, dan tidak menjadi fokus perhatian ilmu mantik, karena memang masing-masing dari ta’rif tersebut tidak mampu menjelaskan esensi sesuatu.

Lalu apa ta’rif yang bisa dijadikan dasar itu? Para ahli ilmu mantik dalam hal ini memperkenalkan dua istilah. Pertama, apa yang disebut dengan istilah ta’rif bilhadd. Kedua, apa yang diistilahkan dengan ta’rif birrasm. Masing-masing dari bilhadd dan birrasm ini kemudian dibagi lagi menjadi dua.

Ada yang namanya hadd tamm, ada hadd naqish. Ada rasm tamm, ada rasm naqish. Apa itu hadd tamm, dan apa itu hadd naqish? Apa itu rasm tamm, dan apa bedanya ia dengan rasm naqish? Uraian mengenai hal tersebut, insyaAllah, akan dibahas dalam tulisan mendatang. Sekian, wallahu ‘alam bisshawab.

Artikel Terkait