Belakangan ini, istilah Keynesian makin populer terdengar di telinga pemirsa YouTube. Khususnya penggemar atau penonton setia channel YouTube Bossman Mardigu atau yang akrab disapa Mardigu Wowiek atau juga sebagai penyandang gelar Presiden Sontoloyo.

Mazhab Keynesian merupakan sebuah perspektif ekonomi politik yang muncul sebagai kritik terhadap perspektif ekonomi politik klasik dan neoklasik yang muncul lebih dahulu.

Menyandang status sebagai kritikus terhadap perspektif ekonomi politik klasik dan neoklasik, mazhab Keynesian tentunya akan mempunyai cara dan metode yang berbeda dalam memandang peran negara dalam pasar. Bisa lebih baik atau justru lebih buruk, hal ini tergantung dari sudut mana kita memandangnya.

Mazhab Keynesian adalah teori ekonomi yang diperkenalkan oleh John Maynard Keynes. Teori ekonomi ini didasarkan pada model ekonomi Inggris di abad 20. 

Keynes melihat bahwa sistem ekonomi dalam suatu negara yang ideal adalah sistem campuran, di mana antara negara maupun swasta mempunyai peran yang sama pentingnya dalam menjalankan roda perekonomian.

Dalam hal ini, Keynes tidak menghendaki adanya sistem ekonomi yang memberikan kebebasan pasar dalam mengurus dirinya sendiri. Menurutnya, pasar akan dikendalikan oleh kaum kapitalis dan berpotensi menciptakan distorsi di dalam pasar. 

Mazhab yang dimaksud ini adalah mazhab ekonomi klasik. Inilah mazhab pertama yang dikritik keras oleh mazhab Keynesian. Tokoh-tokoh pada mazhab ini adalah Adam Smith, Henry Fawcett, dan lain-lain.

Mazhab kedua yang dikritik oleh Keynes adalah mazhab neoklasik. Mashab ini berbeda dengan mazhab klasik yang memberikan kepercayaan penuh kepada pasar dalam mengurus dirinya sendiri, baik pada urusan penentuan harga maupun dalam menyelesaikan distorsi pasar yang terjadi.

Perspektif dari mazhab neoklasik ini, mulai menyadari pentingnya peran negara dalam pasar. Tetapi mazhab ini tetap tidak menghendaki peran negara yang terlalu besar. Peran negara dalam pasar hanya digariskan pada batas-batas tertentu.

Batas-batas itu hanya sampai pada aspek pemenuhan fasilitas pasar, jaminan keamanan dan keberlangsungan pasar serta pelayanan lainnya yang mendukung jalannya roda perekonomian.

Sementara dalam urusan penentuan harga dan penyelesaian masalah pasar, neoklasik mengenal istilah maksimalisasi utilitas. Yaitu penentuan harga, produksi, dan distribusi pendapatan ditentukan melalui mekanisme permintaan dan penawaran dalam pasar. 

Mereka yang terkenal sebagai penggagas mazhab ini adalah Leon Walras, Carl Menge, dan William Stanley Jevons.

Kedua mazhab terdahulu itu dinilai Keynes sebagai sistem ekonomi yang belum mampu memenuhi kebutuhan serta hak konsumen dan produsen, terutama hak konsumen. 

Selain itu, kedua sistem yang ada dinilai tidak akan mampu mengendalikan distorsi pasar secara cepat dan optimal. Sebaliknya, peran negara dijadikan Keynes sebagai langkah solutif yang paling ideal.

Mazhab Keynesian memandang negara sebagai salah satu pemain penting dalam ekonomi suatu negara. Negara di sini diharapkan perannya dalam menjamin berjalannya roda perekonomian. Baik itu sebagai regulator maupun sebagai pebisnis.

Peran negara sebagai pebisnis inilah yang mendapat sorotan tajam dari Bossman Mardigu belakangan ini.

Penolakan Bossman Mardigu terhadap mazhab ini boleh-boleh saja dan tidak ada salahnya. Tetapi, peran negara sebagai pebisnis yang dimaksudkan Keynes perlu dianalisis kembali apakah sejauh itu negara diberikan ruang untuk berbisnis atau ada batasan dan mekanisme tertentu.

Di dalam berbagai referensi, mazhab Keynesian dijelaskan bahwa peran negara dalam pasar tidak sefrontal itu. Artinya, negara diperkenankan masuk ke dalam pasar sebagai pebisnis hanya dalam situasi dan batas-batas tertentu. 

Negara tetap tidak dikehendaki menjadi pebisnis utama yang setara dengan swata. Peran negara hanya diharapkan sebagai pemecah masalah.

Sebagai analogi, jika di dalam sebuah pasar terjadi kenaikan harga beras yang melambung tinggi dan menyulitkan konsumen, maka negara harus mampu mengontrol harga beras itu agar tetap sesuai dengan daya beli masyarakat atau konsumen. 

Stabilisasi harga beras oleh negara bisa dilakukan melalui regulasi atau bahkan terjun langsung ke dalam pasar sebagai pedagang.

Cara negara yang terjun langsung ke pasar sebagai pedagang beras tersebut dilakukan dengan cara menjual beras yang sama dengan yang dijual pihak swasta itu dengan harga yang lebih murah atau sesuai dengan harga idealnya. Hal ini diyakini akan berdampak pada kembalinya daya beli masyarakat seperti semula atau bahkan lebih ideal lagi.

Jika negara mengambil langkah berjualan beras dengan harga yang lebih murah, maka pihak swasta tidak akan punya wewenang luas untuk menuntut harga jual yang diberlakukan oleh negara tersebut, sebaliknya, pihak swasta akan berlomba-lomba menurunkan harga mereka untuk merebut kembali hati konsumennya.

Jika harga beras sudah mampu dijangkau oleh daya beli masyarakat serta jika distorsi pasar sudah teratasi, maka negara sudah bisa meninggalkan pasar. Negara harus kembali berperan sebagai regulator agar pasar tetap berjalan. Ibarat pemadam kebakaran, jika api sudah padam, mereka sudah bisa pulang.

Secara teori, cara ini dinilai akan mampu menstabilkan pasar dari distorsi yang terjadi. Gap antara harga barang dan daya beli masyarakat akan bisa diatasi secara optimal. Selain itu, mekanisme negara berbisnis dalam batas-batas tertentu tersebut akan mampu mencegah kehendak bebas para pelaku pasar dalam hal ini produsen.

Analogi di atas, penulis kira sudah cukup menjelaskan maksud mazhab Keynesian yang menghendaki peran negara dalam pasar. Lalu bagaimana dengan sistem BUMN di Indonesia?

Penulis nilai, mekanisme bisnis BUMN di Indonesia telah terlampau jauh dalam pasar. Hal ini menjadi alasan yang kuat penulis tidak menyalahkan pendapat sang Presiden Sontoloyo itu.

Penulis justru sampai pada kesimpulan bahwa mekanisme bisnis BUMN di dalam pusaran perekonomian nasional tidak sepenuhnya sejalan dengan mazhab Keynesian. Artinya, mazhab Keynesian ini tidak bisa dipandang sebagai sistem ekonomi yang keliru apalagi dianggap sebagai biang masalah perekonomian nasional selama ini.