Harum gula jawa dan panjangnya antrian pelanggan menjadi hal pertama yang menyambut langkah kaki saya memasuki salah satu tempat makan yang paling legendaris di Kabupaten Magetan, Gethuk dan Lupis Bu Peny. 

Gethuk dan Lupis Bu Peny ini terletak di dalam gang atau lebih tepatnya di Jalan Imam Bonjol No.12B, Kecamatan Magetan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Kedai Gethuk dan Lupis yang saya kunjungi kali ini tampaknya memang berbeda daripada kedai makanan pada umumnya, rumah model kuno serta meja kayu 

dan kursi rotan masih tetap dipertahankan sebagai keunikan yang ditawarkan bagi para pengunjung. Di sudut ruangan, terdapat lukisan tua yang mulai memudar serta pada sisi kiri terdapat beberapa display kerajinan kulit khas

Magetan seperti tas, dompet, jaket, sepatu maupun sandal yang juga dijual kepada para pengunjung. "Gethuk dan Lupis Bu Peny memang sudah ada sejak tahun 80-an dan rasanya masih tetap sama hingga sekarang" ujar sang pemilik.

Setelah puas mengamati detail dari tiap sudut ruangan, saya memilih untuk duduk di dekat jendela karena hari itu terasa lebih panas daripada biasanya. Beberapa hal yang menjadi pembeda dari gethuk dan lupis milik Bu Peny dengan yang lain yaitu cairan gula jawa yang disiramkan pada permukaan gethuk, 

bentuknya yang dicetak lonjong dengan balutan daun pisang sembagai pembungkus alami serta penyajiannya yang menarik. Sembari menunggu antrian, saya melihat proses penyajian yang dilakukan langsung oleh sang pemilik. Pertama-tama, gethuk dan lupis diiris terlebih dahulu menjadi beberapa 

potongan kecil kemudian potongan tersebut disajikan dalam piring keramik berukuran sedang dan garpu kecil. Selanjutnya, gethuk dan lupis yang telah disajikan dalam piring ditaburi dengan parutan kelapa serta disiram dengan cairan gula jawa yang manis.

Saya memesan satu piring lupis dan satu piring gethuk campur yang terdiri dari gethuk pisang, gethuk telo, dan gethuk gulung serta segelas es dawet yang menjadi pelengkap dari sajian manis ini. Ketika gethuk tersebut mulai memasuki mulut, saya bisa merasakan adanya campuran rasa antara rasa gurih yang 

berasal ketela dan parutan kelapa dengan rasa manis yang berasal dari gula jawa. Tekstur dari gethuk milik Bu Peny terasa sangat lembut dan empuk karena bahan yang digunakan juga melalui proses pemilihan untuk mendapatkan kualitas yang paling baik. 

Selanjutnya, saya beralih untuk mencicipi lupis yang sedari tadi menggugah indra pengecap. Berbeda dengan gethuk yang berasal dari ketela pohon, lupis merupakan makanan yang terbuat dari ketan yang dikukus kemudian dibungkus dengan menggunakan daun pisang dengan bentuk lonjong. Rasa yang 

ditawarkan dari lupis sedikit berbeda dengan gethuk karena lupis terasa lebih legit dan lembut ketika memasuki mulut. Campuran antara gula jawa dan parutan kelapa menjadi kolaborasi yang pas bagi cita rasa lupis yang cenderung lebih manis. 

Saya menutup kegiatan menikmati makanan manis ini dengan meminum segelas es dawet yang sedari tadi sukses membuat saya menelan ludah. Sekedar informasi, bahan yang dipakai Bu Peny dalam membuat dawet berbeda dengan dawet pada umumnya karena dawet yang ada disini terbuat dari tepung beras 

putih atau biasa disebut dengan dawet beras. Tekstur dari dawet putih terasa lebih kasar dibandingan dengan dawet pada umumnya. Selain itu, teksur dari dawet beras juga terasa lebih mudah hancur ketika memasukin mulut.

Endapan gula merah yang ada di dasar gelas dengan kentalnya santan yang ada di atas menciptakan sebuah gradasi yang cantik hingga memikat netra pelanggan. Perpaduan antara dawet beras yang lembut, santan yang gurih, dan gula merah yang manis membuat minuman tempo dulu ini terasa lebih

menyegarkan dan sangat cocok dijadikan sebagai pelepas dahaga di tengah panasnya terik sinar matahari. 

Saat ini eksistensi dari makanan tradisional seperti gethuk dan lupis mulai tergantikan dengan makanan cepat saji yang lebih diminati oleh kaum milenial. Namun saya sangat salut dengan Kedai Gethuk dan Lupis Bu Peny yang sampai saat ini masih tetap berdiri dan bertahan sebagai salah satu ikon kuliner khas 

Kabupaten Magetan yang tidak dapat dilupakan. Pemilik Kedai Gethuk dan Lupis Bu Peny yakin bahwa eksistensi dari makanan tradisional akan tetap bertahan jika cita rasa dan keunikannya juga tetap dijaga agar mampu diterima oleh lidah setiap generasi. Selain cita rasa yang ditawarkan, saya juga merasa sangat 

damai ketika menginjakkan kaki di tempat makan ini sebab rasanya seperti berada di rumah pedasaan yang jauh dari bisingnya kota besar. 

Sebagai penutup perjalanan, saya menyempatkan diri untuk membungkus beberapa gethuk dan lupis sebagai oleh-oleh serta berterima kasih pada pemilik. Perjalanan berburu kuliner hari itu merupakan pengelaman yang paling berharga bagi saya.