67268_42690.jpg
pinterest.com
Sejarah · 4 menit baca

Mengenal Khaizuran: Ratu yang Berasal dari Budak
Perempuan dalam Khazanah Islam Abad Pertengahan II

Tidak diragukan lagi, selama berabad-abad perempuan terus memainkan peran penting dalam setiap sejarah kekaisaran Islam mulai dari dinasti Umayyah, Abbasiyah, Fatimiyah hingga  dinasti  Ayyubiyah di Mesir (abad ke-13). 

Melalui tangan para perempuan itu, terwujud pemerataan dan kesejahteraan dalam tatanan masyarakat, dengan memanfaatkan segenap kekuatan politik dan kekayaan yang dimiliki, institusi  sekolah, rumah sakit dan lembaga lain dibangun untuk menopang maslahat umum.

Meski dalam sejarah, masa pemerintahan mereka tidak lama, kontribusi mereka tetap tidak bisa disepelekan. Ambil contoh saja Shajarat al-Durr 1250 M, istri Najmuddin Ayyub, adalah salah satu pendiri dinasti Saljuk. Para sejarawan menyematkan dirinya sejajar dengan  Cleopatra yang memimpin dinasti Macedonia. 

Demikian pula dengan Sitt al-Mulk (dinasti Fatimiyah) yang terkenal cerdas, dermawan dan pemberani dalam menjalankan roda pemerintahan selama empat tahun (1020-1024 M).

Dua ratu yang saya sebutkan di atas lahir dari darah murni keluarga kerajaan. Hidup mereka terjamin, bergelimang harta dan tidak pernah merasakan pahit getir perjuangan hidup. Berbeda dengan kisah perempuan yang akan saya tuliskan kali ini. Perempuan yang satu ini menyimpan sejuta kenangan, mulai dari kisah cinta, makna dari sebuah perjuangan hingga percaturan politik kekuasaan dalam istana.

Perempuan ini bernama Khaizuran, berarti bambu tanaman yang melambangkan keindahan dan lembah-lembut. Namanya menyimpan arti eksotisme, diungkapkan melalui bait-bait syair tradisional masyarakat Maroko. “Allah la qtib al-Khaizuran” bait-bait yang menggambarkan gadis-gadis muda nan mempesona. 

Dunia mengenang dirinya sebagai pribadi gigih dalam memperjuangkan hidup, dari seorang budak yang diperjualbelikan hingga menjadi Ibu Negara kekhalifahan Abbasiyah. Andil besar Khaizuran adalah menjaga stabilitas politik negara.

Kisah Hidup Khaizuran 

Khaizuran lahir di kota Mekkah dan dibesarkan di desa Jurash, wilayah tandus di Yaman. Masa-masa silih berganti, ekspansi kerajaan dan pertikaian antarsuku yang memperebutkan kekuasaan, membuat hidup masyarakat Yaman dalam cengkraman ketakutan.

Dinasti Abbasiyah berhasil menguasai secara menyeluruh wilayah Yaman dan penduduk desa menjadi tawanan alias budak. Mereka diperjualbelikan dengan harga tinggi jika memiliki bakat. Begitupun Khaizuran, dibeli oleh suku-suku Badui hingga ia sampai di Baghdad, pusat kekuasaan dinasti Abbasiyah.

Kedudukan sebagai budak tidak menyurutkan perjuangan hidup perempuan ini. Ia belajar ilmu agama dan musik, sebagai cara mendapatkan upah dan untuk memperbaiki hidup agar dapat bekerja di dalam istana. Sebab, setiap budak yang bertalenta, dibina dan dididik oleh kerajaan.

Kecerdasan dan jerih payah Khaizuran akhirnya menarik perhatian Khalifah al-Mahdi. Ia lantas dijadikan selir atau umm al-Walad yang mendampingi raja. Walapun ada tensi persaingan antar istri-istiri khalifah, tapi Khaizuran adalah pilihan tunggal al-Mahdi. 

Fenomena budak dan kiprah mereka dalam kesejarahan Islam menjadi kisah yang mengagumkan. Sebab, selain Khaizuran, istri-istri khalifah dalam kekaisaran Islam berasal dari kalangan budak, mulai dari Sallama ibu khalifah al-Mansur yang berasal dari budak suku Berber, ibu khalifah al-Ma’mun, al-Muntasir, al-Musta’in al-Mahdi dan Khalifah al-Mutawakkil pun berasal dari budak.

Tak hentinya hati saya berdecak kagum ketika mengetahui soal ini, sebab kita bisa mengambil pelajaran bahwa peradaban Islam nyatanya dibangun dan tidak lepas dari peran para budak. Artinya, tonggak sejarah peradaban Islam yang sungguh luar biasa itu bukan dari dominasi suku-suku besar Arab, tapi tergores indah oleh kalangan budak. 

Siapa sangka, kisah gemilang kemajuan dinasti Abbasiyah ditopang oleh wanita-wanita kuat yang telah menghadapi pahit getir lika-liku kehidupan. Fakta ini sekaligus menandai keunikan dari sejarah Islam yang apabila semakin digali, kita akan menemukan hal-hal luar biasa.

Khaizuran kemudian mendapatkan tempat terhormat dalam kerajaan. Ia menjadi ibu dari dua khalifah berikutnya, Musa al-Hadi dan Harun al-Rasyid. Bisa dibayangkan, siapa yang tidak kenal Harun al-Rasyid? Salah satu khalifah paling menonjol. Ia terkenal cerdas dalam menjalankan pemerintahan dan mengatur taktik perang. Di tangannya Dinasti Abbasiyah berada pada puncak kejayaan.

Namun, masa paling genting dan sulit bagi Khaizuran adalah ketika Khalifah al-Mahdi meninggal. Konstelasi politik berubah, internal kerajaan mulai kacau. Khaizuran pun mengambil langkah dan tampil di atas panggung, berusaha melindungi kekaisaran dan penerus tahta. 

Ia memanggil para wazir/menteri untuk berkonsultasi. Ia lantas memerintahkan pembayaran gaji bagi para tentara untuk dua tahun, dengan tujuan menenangkan mereka yang mulai gelisah mendengar kematian khalifah. Perdebatan tentang siapa yang akan melanjutkan kekhalifahan, telah memecah belah mereka menjadi dua kubu yang saling bertengkar.

Stabilitas politik negara mulai goyah. Sebagian kalangan militer ingin agar al-Hadi ditunjuk sebagai khalifah baru dan sebagian pejabat pemerintah mendukung langkah ini. Sementara pejabat lain lebih memilih Harun al-Rasyid, karena dipandang lebih pantas. 

Suasana politik dan kerusuhan mulai terjadi, para tentara pro al-Hadi membakar rumah al-Rabi (menteri). Peristiwa memilukan ini, melahirkan pertentangan antara putra khalifah dan melibatkan sang ibu (Khaizuran). Khalifah al-Hadi bahkan menuduh sang ibu, lebih mendukung Harun al-Rasyid.

Ketika Khaizuran memanggil dua menteri tinggi al-Rabi dan Yahya al-Barmaki, terjadi insiden memilukan. Betatapun, Khaizuran memiliki batasan kekuatan. Yahya al-Barmaki lebih patuh kepada perintah al-Hadi, sedangkan al-Rabi mengambil sikap berbeda. Tak berselang lama, al-Rabi turun jabatan sebagai kurir kerajaan.

Khalifah al-Hadi memang kurang toleran dibanding dengan ayahnya. Ia dikenal ambisius dan rela menyingkirkan yang dianggap sebagai oposisi.

Pada masa-masa ini, gesekan antara anak dan ibu terus berlanjut. Khaizuran terus mengambil keputusan tanpa berkonsolidasi dengan al-Hadi dan tidak pernah mempertimbangkan untuk mengubah pola permainan politiknya, yaitu mengambil alih kekuasaan. Al-Hadi merasa terancam oleh ambisi sang ibu. Ia juga cemburu pada adiknya, Harun al-Rasyid, yang sangat dicintai oleh kalangan elit kerajaan dan dikagumi karena kecakapan militernya.

Khalifah al-Hadi meninggal pada usia 24 tahun, usia yang relatif muda. Masa pemerintahan yang diembannya sangat singkat, satu tahun dua bulan. Sejarawan kemudian mengaitkan kematian al-Hadi disebabkan oleh Khaizuran yang frustasi secara politis. 

Ada juga yang menjelaskan sebab kematiannya dicekik oleh budak cantik pesanan sang ibu karena Khaizuran tahu bahwa al-Hadi bermaksud  membunuh Harun al-Rasyid.

Belum ada data kredibel terkaitpenyebab kematian Khalifah al-Hadi, apakah disebabkan oleh faktor politik atau sebab lainnya. Catatan para sejarawan belum bisa dijadikan sebagai bukti kematiannya. Yang jelas, kemungkinan timbulnya perselisihan antara Ibu dan anak tidak lain adalah karena kesalahpahaman dan pengaruh dari kalangan elit kerajaan yang ingin mengadu domba keluarga khalifah.

Yang pasti, pada masa Khaizuran, Islam berada pada puncak kejayaan. Dinasti Abbasiyah melakukan penaklukan besar-besaran hingga ke dataran Eropa. Anaknya Harun al-Rasyid adalah penakluk hebat. Di usia 17 tahun, ia telah meraih kemenangan besar, melintasi salju yang tertutup pegunungan kekaisaran Bizantium dan dapat mengepung Konstantinopel.