Saat ini, kita sebagai muslim hanya mengetahui bahwa sejarah peradaban Islam pernah mengalami masa keemasan selama dua masa, yaitu masa berkuasanya Daulat Bani Abbasiyah di Baghdad dan saat berkuasanya Daulat Bani Umayyah di Cordova(Spanyol). 

Memang berbagai literatur baik yang kuno dan modern menggembor-gemborkan kedua-duanya sebagai masa keemasan dalam sejarah peradaban Islam, namun kita sebagai muslim yang khususnya berdomisili di Indonesia, seharusnya patut berbangga dan juga mempelajari sejarah lebih mendalam lagi bahwa tidak dipungkiri lagi bahwa di bumi Nusantara pernah berdiri suatu kerajaan besar, lebih tepatnya sebagai salah satu masa keemasan peradaban Islam meski seringkali dilupakan, yakni Kerajaan Aceh.

Menurut catatan sejarah penjelajah seperti Tome Pires maupun Ibnu Batutah yang pernah berkunjung ke bumi Nusantara, Kerajaan Aceh memang bukanlah kerajaan pertama yang bercorak Islam di wilayah Nusantara, melainkan Kerajaan Samudera Pasai. Namun dalam pembahasan kali ini, kita akan mengingat kembali bahwa Kerajaan Aceh pantas di anggap sebagai salah satu masa keemasan peradaban Islam dengan berbagai aspek serta pengaruhnya dalam syiar agama Islam di bumi Nusantara bahkan di wilayah Asia Tenggara.

Dalam beberapa litetur menyebutkan bahwa Kerajaan Aceh pertama kali berdiri pada tahun 1496 masehi dengan nama awal yaitu Kerajaan Darussalam yang didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah, namun setelah Sultan Ali Mughayat Syah berhasil menggempur Portugis yang pada saat itu menyerang Kerajaan Samudera Pasai dan setelah berhasil mengakuisisi seluruh wilayah kekuasaan Kerajaan Samudera pasai. 

Pada tahun 1524 masehi Kerajaan Darussalam berganti nama menjadi Kerajaan Aceh Darussalam atau yang seringkali disebut dengan Kerajaan Aceh.

Kerajaan Aceh berdiri dari abad ke-15 masehi hingga abad ke-20 masehi dengan pergantian pemimpin sebanyak 35 kali. Sistem monarki di Kerajaan Aceh cukup unik dan berbeda dari yang lain, karena sistem pergantian pemimpin di Kerajaan Aceh tidak selalu diberikan kepada putra laki-laki, akan tetapi juga bisa diberikan kepada putri, kemenakan, dan bahkan kepada istri raja. 

Jadi, seorang perempuan mempunyai kesempatan menjadi raja dengan sebutan Sultanah.

Kerajaan Aceh menjadi pionir dalam proses Islamisasi di Asia Tenggara dengan wilayah meliputi daerah Aru, Pahang, Kedah, Perlak, dan Indragiri. Kerajaan Aceh mengalami masa kejayaan dibawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda yang menjadikan Kerajaan Aceh sebagai basis perdagangan, disamping memiliki wilayah yang sangat strategis karena pada masa itu para pedagang dari Barat dan Timur berbondong-bondong mencari bahan rempah-rempah yang memang menjadi barang yang saling diperebutkan.

Oleh karena itu, secara tidak langsung Kerajaan Aceh menjadi tempat singgah para ulama yang berdatangan dari Arab, Persia, dan India untuk pertama kalinya. 

Maka hal tersebut yang menyebabkan Kerajaan Aceh berhasil dalam menghasilkan ulama-ulama berkualitas dalam berbagai bidang keilmuan dengan beberapa bukti nama-nama ulama yang tersohor seperti Syeikh Hamzah Fansuri, Syeikh Syamsuddin As-Sumatrani, Syekh Nuruddin Ar-Raniry, dan Abdul Rauf Al-Singkili yang mampu menyebabkan Kerajaan Aceh sebagai pusat perkembangan ilmu pengetahuan Islam di Asia Tenggara.

Dikarenakan Kerajaan Aceh mempunyai letak yang strategis. Menjadikannya sebagai tempat transit jama’ah haji yang akan menuju Mekkah dari berbagai wilayah di Nusantara. 

Sehingga terjadi proses pertemuan bermacam-macam kultur yang menjadikan Kerajaan Aceh disebut sebagai Serambi Mekkah, bahkan hingga saat ini.  

Di lain sisi, masyarakat Aceh memiliki karakter yang menjunjung tinggi kebebasan kemajemukan para pendatang dan menghormati pemeluk agama lainnya yang menyebabkan pesatnya proses Islamisasi disana, sehingga Kerajaan Aceh menjadi titik temu antara produk dari luar Nusantara dengan produk lokal Nusantara.

Kerajaan Aceh memiliki hubungan diplomatis yang cukup romantis dengan Turki Utsmani, namun tidak hanya sebatas dengan kerajaan Islam saja, Kerajaan Aceh juga memiliki hubungan diplomatis dengan negeri-negeri seperti Cina, Kamboja, dan Champa. Bahkan Kerajaan Aceh pernah mempunyai hubungan diplomatis dengan negeri-negeri Eropa yang datang ke wilayah Nusantara seperti Inggris, Perancis, dan Belanda. 

Hal tersebut menyebabkan Kerajaan Aceh memiliki kekuatan yang disegani oleh lawan-lawannya, terutama oleh Portugis yang pada masa itu sedang gencar-gencarnya merebut tempat-tempat strategis perdagangan di Asia Tenggara.

Dengan munculnya kolonialisme dan imperialisme Barat yang menjajah Dunia Islam dari abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20, praktis menyebabkan banyak runtuhnya kerajaan Islam, namun berbeda dengan Kerajaan Aceh yang paling sulit untuk ditaklukan. Hal tersebut dikarenakan Kerajaan Aceh berpegang teguh dengan hukum syariat Islam yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Bahkan hingga kini, perkembangan hukum syariat Islam di Indonesia tidak lepas atas kontribusi dari Kerajaan Aceh.

Dengan demikian, bisa kita katakan bahwa Kerajaan Aceh merupakan salah satu masa kejayaan peradaban Islam yang memberikan sumbangsih dalam proses Islamisasi, sehingga menyebabkan mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, bahkan jumlahnya yang terbanyak di dunia.

Oleh karena itu, kita sebagai umat Islam di Indonesia, patut memberikan apresiasi sebanyak-banyaknya kepada Kerajaan Aceh dengan menjaga berbagai peninggalannya serta mengingat kembali bahwa di bumi Nusantara pernah mengalami masa keemasan peradaban Islam dengan pernah berdirinya kerajaan Islam yang bernama Kerajaan Aceh.