Kehamilan merupakan hal yang sangat membahagiakan bagi para calon orang tua karena kehadiran anak adalah karunia dari Tuhan Yang Maha Esa. 

Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan didefinisikan sebagai proses fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum di ampula kemudian dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi di rahim selama 40 minggu. 

Secara singkatnya, kehamilan merupakan proses bersatunya sel telur atau ovum dan sperma yang melebur sampai terjadinya kelahiran. Tetapi, di saat memasuki masa kehamilan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi ibu hamil, terutama mengenai asupan gizi pada masa kehamilan. 

Salah satu permasalahan asupan gizi yang perlu diperhatikan bagi ibu hamil adalah kekurangan energi kronik atau KEK pada masa kehamilan. Apa itu KEK dan seberapa bahayanya KEK bagi ibu hamil ? Mari kita analisis mengenai KEK lebih lanjut.

Kekurangan Energi Kronik atau KEK pada masa kehamilan merupakan salah satu permasalahan gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil. KEK bisa disebabkan oleh banyak hal, tetapi yang menjadi fokus utama yaitu mengenai ketidakseimbangan asupan kebutuhan dan pengeluaran pada masa kehamilan.

Untuk mengetahui apakah seorang ibu hamil terkena KEK atau tidak, dapat dihitung melalui Lingkar Lengan Atas (LiLA). Jika seorang ibu hamil terkena KEK, sebenarnya seorang ibu hamil tersebut telah mengalami KEK sebelum masa kehamilan dimulai. KEK pula menjadi salah satu hal penting yang harus diperhatikan baik bagi ibu hamil maupun negara. 

Di negara kita, menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia berdasarkan sumber data laporan rutin tahun 2020 yang terkumpul dari 34 provinsi menunjukkan dari 4.656.382 ibu hamil yang diukur Lingkar Lengan Atas (LiLA), diketahui sekitar 451.350 ibu hamil memiliki LiLA kurang dari 23,5 cm atau mengalami risiko Kekurangan Energi Kronik.

    Kekurangan Energi Kronik memiliki dampak yang kurang baik bagi ibu dan bayi yang dikandung. Dampak nya seperti perdarahan setelah melahirkan dan bayi dengan berat badan lahir rendah memiliki risiko gangguan pertumbuhan. Dari hal ini, kita bisa mengetahui bahwa hal ini berbahaya baik bagi sang ibu maupun bayinya.

Maka dari itu, seorang ibu hamil harus selalu menjaga pola hidup sehat termasuk menjaga keseimbangan nutrisi pula. Seperti mengatur pola makan dengan mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang seperti memakan sayur -sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, serta daging-dagingan yang dimasak hingga matang.

Lalu, minum air putih minimal tiga liter per harinya, berolahraga seperti jalan santai, senam hamil ataupun yoga hamil, tidak terlalu banyak beraktivitas, istirahat yang cukup dengan tidur selama delapan jam setiap harinya, dan tidak mengangkat beban terlalu berat. Jika ibu hamil telah memenuhi asupan gizi, tentunya ibu hamil dapat terhindar dari Kekurangan Energi Kronik.

Selain pemenuhan gizi, seorang ibu hamil juga harus sering melakukan pemeriksaan kehamilan atau pemeriksaan antenatal secara rutin baik dengan bidan ataupun dokter kandungan. Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2014 Pasal 6 Ayat 1B Tentang pemeriksaan Rutin Kehamilan.

Seorang ibu hamil dapat melakukan pemeriksaan antenatal minimal empat kali yaitu pada trimester pertama sebanyak satu kali kunjungan, pada trimester kedua sebanyak satu kali kunjungan serta pada trimester ketiga sebanyak dua kali kunjungan.

Menurut World Health Organization, seorang ibu hamil dianjurkan melakukan pemeriksaan antenatal atau kehamilan minimal delapan kali pemeriksaan, yaitu satu kali di trimester pertama, dua kali di trimester kedua dan lima kali di trimester ketiga.

Pemeriksaan antenatal ini penting dikarenakan, untuk mengetahui perkembangan ibu selama masa kehamilan agar bisa terhindar dari hal – hal yang kurang baik, seperti kekurangan energi kronik atau KEK. 

Tak hanya ibu hamil, tentunya dengan pemeriksaan antenatal pula perkembangan bayi yang dikandung pun menjadi lebih terpantau. Karena dapat menghindari risiko – risiko yang berdampak buruk bagi bayi yang dikandung.

KEK atau Kekurangan Energi Kronik pada masa kehamilan merupakan salah satu permasalahan gizi yang disebabkan oleh ketidakseimbangan asupan kebutuhan dan pengeluaran pada masa kehamilan. Dampak yang ditimbulkan akibat KEK berbahaya bagi ibu hamil dan bayi yang dikandung.

Hal ini pula yang menjadi perhatian penting bagi pemerintah mengenai ibu hamil. Ibu hamil dapat terkena KEK bila memiliki Lingkar Atas Lengan (LiLA) kurang dari 23,5 cm. KEK dapat diatasi dengan memenuhi keseimbangan gizi seperti mengonsumsi makanan yang bernutrisi.

Saran bagi para pembaca yaitu diharapkan dapat menerapkan pola hidup yang sehat dengan memenuhi kebutuhan gizi yang seimbang, serta sering berolahraga sebelum masa kehamilan dimulai. 

Khusus untuk ibu hamil juga harus rutin melakukan pemeriksaan antenatal minimal empat kali sesuai dengan anjuran Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2014 Pasal 6 Ayat 1B.

 Tentang pemeriksaan Rutin Kehamilan atau melakukan pemeriksaan antenatal sesuai dengan anjuran WHO yaitu delapan kali pemeriksaan. Dengan melakukannya pemeriksaan antenatal, kondisi ibu dan bayi yang dikandung menjadi lebih terpantau dan dapat menghindari risiko – risiko yang berdampak kurang baik bagi sang ibu dan juga bayinya.


Daftar Pustaka

M. Etika,N.M. 2021. “Kekurangan Energi Kronis (KEK) Saat Hamil, Seberapa Berbahaya bagi Ibu dan Janin?”. https://hellosehat.com/kehamilan/kandungan/masalah-kehamilan/kek-pada-ibu-hamil/. Diakses pada tanggal 10 Juni 2022

Resna, N. 2021. “Memahami KEK pada Ibu Hamil dan Cara Mengatasinya”. https://www.sehatq.com/artikel/memahami-kek-pada-ibu-hamil-dan-cara-mengatasinya. Diakses pada tanggal 10 Juni 2022

Wiyono, S., Burhani, A., Harjatmo, T., Ngadiarti, I., Prayitno, N., & ., M. et al. (2021). Study causes of chronic energy deficiency of pregnant in the rural areas. Retrieved 22 July 2021, from International Journal of Community Medicine and Public Health.