Kebudayaan sebagai tradisi, kepercayaan, perilaku dan benda-benda yang dipergunakan masyarakat. Kebudayaan masyarakat adalah apa yang memisahkan cara hidup manusia sejak dua orang berjalan pada permukaan bumi. 

Hal-hal beraneka ragam yang berdampak pada cara hidup manusia seperti kepercayaan, pengalaman (pengetahuan) umum yang diturunkan atau pengalaman religius, kondisi dan situasi lokal. Setiap masyarakat akan dibentuk sesuai dengan bagaimana mereka memandang dunia dan dirinya sendiri.

Kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, di dalamnya terdapat  ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat manusia sebagai anggota masyarakat. Kerangka ini terdiri atas, pertama sistem budaya (ide,gagasan), sistem sosial (aktivitas organisasi), dan sistem kebendaan (kebudayaan fisik).

Kebudayaan Jawa

Kebudayaan Jawa adalah salah satu kebudayaan di Asia yang paling kuno dan identik akan tradisi, perilaku, dan peralatan kuno. Kekayaan ini cukup nyata dari sejarah kebudayaan jawa yang berjalan terus menerus selama lebih dari seribu tahun di daerah-daerah tertentu di pulau jawa. Kebudayaan Jawa itu berasal dari beraneka ragam tradisi, kepercayaan dan cara hidup.

Bagi orang Jawa yang tinggal di Pulau Jawa, kebudayaan adalah sesuatu yang mereka anut sesuai dengan kondisi dan situasi lokal, sejarah, dan pengaruh-pengaruh luar. Jadi, walaupun kebanyakan orang Jawa akan mengidentifikasi dirinya sendiri dengan kebudayaan Jawa; aspek dari cara hidup mereka akan bervariasi menurut dimana mereka tinggal.

Misalnya di kota Surabaya. Di Surabaya dikenal dengan kata Jancok. Kata Jancok menurut orang Jawa di Surabaya memiliki banyak makna. Kata Jancok juga dapat menjadi kata tidak pantas apabila diucapkan kepada orang yang lebih tua seperti orang tua. 

Siapa pun orang tuanya jika anaknya berbicara Jancok maka dianggap tidak sopan. Tetapi, jika berbicara dalam konteks yang bercanda saja, Jancok bukanlah kata yang kotor. Tetapi tetap jangan berbicara Jancok di depan orang tua.

Budaya Jawa adalah budaya yang berasal dari Jawa dan dianut oleh masyarakat Jawa khususnya di propinsi Jawa Tengah, Jogjakarta, dan Jawa Timur. Budaya Jawa secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga yaitu budaya bayumasan, budaya Jawa tengahan, dan budaya jawa timuran. 

Budaya Jawa selain terdapat di Jawa Tengah, Jogjakarta, dan Jawa Timur terdapat juga di daerah lain yaitu daerah-daerah transmigrasi, di Jakarta, Surabaya, dan Suriname (sebuah kota di Eropa).

Ciri Khas Kebudayaan Jawa

Kebudayaan Jawa sebagai salah satu wujud penghayatan orang Jawa dan pengungkapan penafsiran mereka atas realitas. Kebudayaan Jawa bersifat konstruktif, teoritis, dan filosofis. Nilai-nilai hidup adalah wujud abstrak kebudayaan yang menjadi pedoman bagi perilaku manusia. budaya Jawa pada umumnya mengutamakan keseimbangan, keselarasan, dan keserasian dalam kehidupan sehari-hari.

Budaya Jawa juga menjujung tinggi etika sopan santun, kesopanan, dan kesederhanaan. Kaitan antara nilai dengan sikap hidup disebut dengan mentalitas. Misalnya sabar, rela (dalam bahasa jawa disebut dengan legowo), dan nrima  (menerima atau terbuka), andhap asor (rendah hati), tlaten (tekun). Setiap orang Jawa dengan sendirinya akan menerapkan etika sopan santun yang telah diajarkan oleh orang tuanya sejak ia masih kecil.

Selain itu, ada konsep kuno dari masyarakat jawa yang mengatakan bahwa ada roh-roh dimana-mana. Akibatnya harus waspada dalam segala hal supaya jangan membuat mereka marah tetapi, membuat mereka tenang. Dari konsep religi ini, muncul struktur.  Hal ini bertujuan untuk menangani situasi dan bagaimana tinggal dalam dunia yang diciptakan seperti ini.

Salah satu contohnya yakni “selametan”. Selametan (selamatan) adalah tradisi lama dimana anggota masyarakat berkumpul setelah seorang menikah, meninggal atau masa waktu yag lain terjadi untuk makan bersama dan berdoa pada roh-roh. Saya memiliki cerita berkaitan dengan selametan ini.

Ketika saya memiliki motor yang belum di selameti, motor saya selalu bermasalah mulai dari ban meletus, mogok atau mesin tidak bisa menyala. Setelah sepeda saya dijual dan ganti yang baru saya menggelar selametan dan akhirnya hingga saat ini sepeda saya yang baru tidak ada masalah apapun. Percaya atau tidak saya melakukan hal ini karena saya adalah orang jawa yang ingin menghidupi kebudayaan jawa.

Gagasan selametan dapat diartikan sebagai selamat di dunia dan di dunia lain. Selametan sering kali digelar untuk meminta perlindungan kepada roh-roh di dunia lain agar mereka tidak mengganggu orang. Mereka juga permisi kepada roh-roh tersebut agar mereka di ijinkan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan permintaan mereka.

Pengaruh Pada Budaya Jawa

Masyarakat atau suku Jawa adalah masyarakat yang majemuk. banyak masyarakat Jawa mendapatkan pengaruh budaya yang berasal dari suku atau golongan masyarakat lain yaitu India, China, Arab, Melayu, Eropa, dan lain-lain. Demikian pula hanya dengan pengaruh ajaran agama yang diadopsi dari ajaran-ajaran agama, antara lain Budha, Hindu, Nasrani, dan Islam.

Dalam budaya Jawa atau tradisi Jawa terdapat banyak sekali budaya yang sudah turun temurun mengadopsi budaya Hindu dan Budha. Sebelum islam masuk ke tanah jawa, di Jawa telah berkembang ajaran kepercayaan animisme, dinamisme, Hindu dan Budha. Bahkan menurut Bakker (seorang ahli)  aliran kepercayaan animisme dan dinamisme adalah agama asli Indonesia. kebudayaan Jawa pada masa animisme, dinamisme, Hindu dan Budha hampir memiliki kesamaan.

Penganut animisme dan dinamisme melakukan ritual dengan menggunakan sesaji dan mantera. Sesaji dipersembahkan kepada roh yang dituju dan aneka sesaji yang dipilih mencerminkan kesenangan roh. Apapila roh yang di puja adalah nenek moyang maka akan diberikan makanan kesukaan mereka sewaktu hidup, seperti buah-buahan tertentu dan jajanan pasar.

Agama Hindu dan Bahasa Sansekerta sebagai bahasa penyebarnya, menjadi sangat bergengsi  di Jawa. Banyak Candi Hindu yang dibangun, termasuk Prambanan di dekat kota Yogyakarta, yang telah ditetapkan sebagai situs warisan dunia, dan kerajaan Hindu berkembang dan paling signifikan adalah kerajaan Majapahit.

Agama Hindu atau penggabungan Hindu-Animisme telah dipertahankan oleh sejumlah masyarakat tradisional jawa yang menganggap keluarganya sebagai keturunan dari prajurit dan pangeran Majapahit. Suku Osing di Jawa Timur adalah sebuah komunitas yang agamanya menunjukkan banyak kesamaan dengan agama Hindu Dharma dari suku Bali.

Sebagian masyarakat suku tengger secara resmi adalah penganut Hindu tetapi, agama mereka mencakup banyak unsur Budhisme, termasuk penyembahan kepada Sang Budha. Selain itu mereka juga bersama-sama menyembah trimurti dalam Agama Hindu seperti Siwa, Wisnu, dan Brahmana. Suku Badui yang ada di Jawa Barat juga memiliki agama mereka sendiri yang menggabungkan corak-corak agama Hindu.

Kebudayaan Jawa menerima pengaruh Hindu dan Budha. Tidaklah membuat jati dirinya hilang atau musnah, justru yang terjadi adalah kebangkitan budaya Jawa dengan memanfaatkan unsur-unsur agama Hindu-Budha. 

Agama Hindu-Budha berhasil diserap dan dicerna atau bahkan di Jawakan, yang kemudian lahir agama atau kepercayaan Hindu-Kejawen dan Budha-Kejawen yang merupakan bentuk kepercayaan yang dipraktekkan oleh pihak kerajaan dan diteruskan kepada masyarakat. Kerajaan Hindu-Kejawen dan Budha-Kejawen inilah yang membuat semakin kuatnya tradisi dan kepercayaan masyarakat Jawa yang serba animisme dan dinamisme

Dengan demikian, kebudayaan Jawa tidak hanya dimilki oleh satu agama, satu kepercayaan tetapi kompleks. Dalam masa sekarang kebudayaan Jawa masih terpelihara dengan baik oleh masyarakat Jawa sendiri. 

Walaupun mereka telah jauh merantau di luar Pulau Jawa, kebudayaan Jawa tidaklah dilupakan. Sebagai masyarakat Jawa dan Indonesia semua orang dapat belajar dari kebudayaan Jawa yang harus di hidupi sebagai warisan leluhur Indonesia.